07 September 2019, 17:09 WIB

Sejumlah Pakar Buktikan Raden Fatah sebagai Tokoh Islam


Haryanto | Nusantara

MI/Haryanto
 MI/Haryanto
SEJUMLAH pakar dan guru besar berkumpul dan mengungkapkan beragam bukti seputar eksistensi Raden Fatah.

SEJUMLAH pakar dan guru besar berkumpul dan mengungkapkan beragam bukti seputar eksistensi Raden Fatah.

Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Inajati Adrisijanti mengungkapkan, keberadaan Raden Fatah terdapat dalam beberapa catatan sejarah dan bukti-bukti arkeologi.

Dari catatan sejarah dapat ditemukan di buku karya Tome Pires yang berjudul Suma Oriental dan buku karya Diogo de Couto yang berjudul Da Asia. "Bukti-bukti arkeolog bisa kita temukan lewat makam yang ada di Kerajaan Demak," kata Inajati.

Dia mengungkapkan itu dalam focus group discussion (FGD) bertema 'Menyegarkan Sejarah Raden Fatah' yang digelar di Demak, Jawa Tengah, Sabtu (7/9).

Dalam FGD yang digelar oleh Yayasan Dharma Bakti Lestari bekerja sama dengan Sahabat Lestari dan Media Group itu juga diikuti oleh Guru Besar Emeritus UGM Djoko Suryo, Guru Besar UGM/Filolog Chamamah Suwarno, Guru Besar UIN Jakarta Budi Sulistiono, Rektor Unisnu Sa'adullah Assaidi, Dosen UIN Yogyakarta Jadul Maulana, Dosen Undip Soetejo, Dewi Yuliati, dan KW dan Chusnul Hayati, serta Najib Hassan dari Yayasan Menara dan Makam Sunan Kudus.

Lebih lanjut, Inajati menyebut di dalam Masjid Agung Demak ada maksurah yaitu pelindung bagi para pemimpin pada waktu melaksanakan salat. Lambang maksurah hanya dipakai untuk tokoh penting dan raja-raja Majapahit. Hal ini membuktikan bahwa Raden Fatah adalah tokoh penting bagi Kerajaan Demak.

Baca juga: Sejarawan Djoko Surjo: Sultan Demak Bukan Keturunan Yahudi

Adapun Dewi Yuliati menyinggung soal pendapat yang menyebut Raden Fatah adalah seorang Yahudi dan kata 'raden' hanya disematkan untuk pemimpin agama Islam.

"Kata raden merupakan gelar bagi pemimpin kerajaan dan pemimpin keagamaan. Raden berarti roh-adi-an yang disematkan dalam nama-nama pemimpin. Bukan berarti hanya disematkan untuk pemimpin Islam. Dalam kerajaan-kerajaan Hindu pun memakai gelar raden. Misalnya Raden Wijaya dari Kerajaan Majapahit," jela Dewi.

FGD ini diharapkan dapat meluruskan pernyataan Raden Fatah adalah orang Yahudi. Diskusi ini diharapkan bisa dijadikan jalan untuk merekonstruksi kembali ketokohan Raden Fatah sekaligus Sultan Trenggana sebagai tokoh Islam dan keberadaan mereka nyata dan bukan dongeng. (X-15)
 

 

BERITA TERKAIT