07 September 2019, 14:50 WIB

PSSI Menanti Sanksi


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Olahraga

ANTARA FOTO/Reno Esnir
 ANTARA FOTO/Reno Esnir
Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha

ULAH oknum suporter saat timnas Indonesia melawan Malaysia pada penyisihan Grup G kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Kamis (5/9), berimbas kepada sepak bola Indonesia. PSSI kini bersiap menanti sanksi FIFA.

Soal kemungkinan sanksi FIFA, Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha, mengatakan pihaknya hanya bisa pasrah. Kalau salah, kita akan akui kita salah dan harus menerima kesalahan itu, ujarnya kemarin.

Menurutnya, dalam pertandingan internasional, sudah ada prosedur tetap. Karena itu, komisioner pertandingan yang bertugas di laga Indonesia melawan Malaysia akan membuat laporan ke FIFA. "Jadi, bukan masalah Malaysia melaporkan atau tidak kerusuhan itu karena sudah ada prosedur tetapnya," ungkap Tisha.

Laku tidak elok pendukung timnas Indonesia membuat Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi langsung mengadakan pertemuan dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Syed Saddiq. Dalam pertemuan itu, secara khusus Imam meminta maaf atas perlakukan suporter Indonesia.

"Saya menyampaikan langsung permohonan maaf atas nama masyarakat Indonesia dan pemerintah kepada Menpora Malaysia atas peristiwa yang terjadi. Surat permohonan tertulis yang kami buat semoga menjadi bahan sekaligus menjadi pelajaran bagi kita semua," ungkap Imam.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto menyoroti kebijakan soal penentuan tempat bagi pendukung Malaysia. Menurutnya, zona bagi fan Malaysia seharusnya tidak berdekatan dengan zona suporter Indonesia.

"Selain itu, tribun di atas zona pendukung Malaysia seharusnya kosong. Ini harus menjadi catatan bagi PSSI. Kejadian seperti itu tidak boleh terulang lagi," kata Gatot.

Ancam peluang

Lebih jauh, Gatot menambahkan, bukan hanya sanksi yang kemungkinan akan diterima Indonesia. Ulah suporter yang tidak bertanggungjawab itu juga mengancam peluang Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. Menurut Gatot, apa yang terjadi di SUGBK bisa menjadi pertimbangan FIFA untuk mencoret Indonesia.

"Jangan sampai orang berpandangan Indonesia dinilai tidak layak menjadi tuan rumah untuk piala dunia. Kita berharap jangan sampai kejadian saat melawan Malaysia berpengaruh dalam pencalonan Indonesia," kata Gatot.

FIFA sudah mengumumkan secara resmi tiga negara kandidat tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. Selain Indonesia, dua negara lainnya ialah Brasil dan Peru. FIFA akan mengumumkan tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 dalam pertemuan di Shanghai, Tiongkok, pada 23-24 Oktober mendatang.

Di sisi lain, Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) menyarankan sanksi pengurangan poin bagi klub jika suporternya berbuat rusuh di kompetisi. Hukuman tersebut diharapkan membuat suporter jera untuk berulah karena akan merugikan klub kesayangan mereka.

"Kalau mendapat pengurangan poin, dan itu akan berdampak kepada mereka. Kalau hanya sanksi denda atau tidak boleh ada penonton, kurang memberikan efek jera," kata Ketua BOPI Richard Sam Bera.

BOPI mencatat beberapa kasus selama pelaksanaan paruh musim Liga 1 dan Liga 2, yakni 4 peristiwa penonton masuk lapangan, 3 pelemparan kepada bus tim tamu, 8 intimidasi dan protes secara berlebihan, serta 4 kali rusuh di dalam stadion.

Rentetan peristiwa tersebut, kata Richard, tidak akan terjadi jika ada sanksi yang tegas dari PSSI. Ia pun menyesalkan beberapa kejadian kerusuhan masih terjadi pada tahun ini. (Faj/Des/R-1)

BERITA TERKAIT