07 September 2019, 14:40 WIB

Menolak Ambyar, Cinta Harus Diperjuangkan


Marzuqi Abdillah | Weekend

Ist
 Ist
Cover Buku Bad Boy

TIDAK memedulikan sekuriti yang berusaha menghentikanku, aku langsung menerobos masuk dan melihat cintaku, hatiku, soulmateku duduk di hadapan penghulu mengenakan kebaya putih, siap menikah dengan laki-laki yang bukan aku."

"Ironis! Ya, itulah kisah hidupku." (hlm 12)

Begitulah sepenggal prolog dari novel Bad Boy. Jika sekarang marak sebutan sad boys, mungkin karakter dalam novel itu bisa disematkan predikat itu, menjadi salah satu barisan ambyar.

Kisah kasih di sekolah SMA merupakan saat terindah. Saat itu pula yang dirujuk dengan istilah sweet seventeen. Perasaan cinta berada di antara cinta monyet dan cinta serius. Momen itu memang layak untuk dikenang, atau bahkan sama sekali dilupakan.

Kedalaman kenangan itu pula yang menjadikannya tepat untuk dijadikan latar cerita. Setidaknya, latar itu bisa menjangkau memori banyak pembaca. Pembaca yang masih terkait dan terhubung dengan kenangan masa SMA kemungkinan besar akan akrab dengan latar cerita novel. Itu akan menambah kenikmatan dalam menyelami alur cerita novel, sekaligus merefleksi kenangan.

Begitulah latar novel Bad Boy. Novel itu merupakan serial ketiga dari seri Pentagon karya penulis berpredikat best seller Alia Zalea. Novel Bad Boy melengkapi seri Pentagon sebelumnya yang berjudul Boy Toy (2017) dan The Wanker (2018).

Penulis novel Alia Azalea atau populer dengan nama aliazalea menargetkan akan ada lima seri judul novel yang berisi perjalanan hidup bernuansa romansa percintaan dari boyband bernama Pentagon yang terdiri atas Taran, Nico, Adam, Erik, dan Pierre. Buku Boy Toy isinya menceritakan kisah hidup Taran, kemudian The Wanker berisi tentang perjalanan Nico, sedangkan novel Bad Boy bercerita mengenai Adam dan kisah asmaranya.

Novel Bad Boy terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama tentang pertemuan antara Adam dengan pacarnya bernama Ziva. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai kejadian dalam kisah asmara mereka, termasuk hubungan yang terpisah. Berikutnya, cerita berlanjut mengenai usaha Adam untuk mendapatkan kembali Ziva.

Bad Boy menceritakan tentang percintaan Ziva dan Adam. Novel dibuka dengan kegelisahan dan kemarahan Adam yang ingin menyusul Ziva.

Cerita lalu mundur ke sebuah SMA di Yogyakarta. Adam dan Ziva bertemu untuk pertama kalinya di sekolah SMA yang sama. Adam yang seorang kakak kelas, tak sengaja hampir menyerempet Ziva, adik kelas sekolahnya hingga membuat ponsel Ziva terjatuh. Kisah yang sangat biasa.

Dari momen tersebutlah Ziva memanggil Adam dengan panggilan bad boy.

Adapun Adam memanggil Ziva dengan panggilan princess lantaran keluarga Ziva merupakan donatur terbesar di sekolah.

Selalu bersinggungan, Adam dan Ziva kemudian akhirnya jatuh cinta dan memutuskan untuk bertunangan. Awal percintaan Ziva dan Adam selayaknya percintaan remaja dikupas tuntas di sepertiga novel.

Kisah itu dapat dipastikan bakal membawa pembaca untuk mengenang kembali imajinasi yang muncul ketika duduk di bangku SMA, dulu. Percintaan kakak kelas yang dkagumi banyak perempuan dengan seorang adik kelas yang biasabiasa saja.

Cukup nostalgia imajinatif dengan alur landai dan berbunga-bunga.

Giliran selanjutnya ialah guncangan. Ziva dan Adam menghadapi ujian cinta. Konflik itu mulai terbangun pada bagian dua, yakni saat Adam kehilangan ibunya dan Ziva melanjutkan kuliah S-2 di luar negeri.

Hubungan jarak jauh ternyata menjadi penghalang utama. Kehadiran sosok yang dicintai secara fisik sangat diperlukan, tidak hanya lewat sambungan telepon.

Tampaknya penulis dengan sengaja memperteguh karakter Adam sebagai bad boy. Tidak terlalu jelas kedekatan antara Adam dan ibunya. Namun, itulah bad boy, dingin dan keras di luar. Sebaliknya, dari dalam, sang bad boy adalah karakter yang hangat pada ibunya maupun pada kekasihnya.

Pengaluran cerita akan berlahan menemui titik konflik puncak ketika Ziva memutuskan menikah dengan teman se-SMA bernama Leo.

Penulis memilih sudut pandang orang pertama untuk lebih membawa pembaca masuk dialog batin yang terjadi dalam diri. Dialog dengan sosok lain dalam cerita mendapat seporsinya saja. Tentu hal ini punya alasan tertentu. Yang jelas, ketika membaca lembar demi lembar novel Bad Boy pengarakteran masing-masing lebih banyak di cerap dari dalam.

Barangkali sangat diperlukan imajinasi lebih bagi pembaca untuk bisa merangkai penggalan-penggalan dialog untuk mendapat gambaran yang pas dengan alur cerita. Namun, bagi pembaca setia Pentagon karya Alia Zalea, tentu bukan masalah besar.

Alur maju yang digunakan dalam novel ini juga akan mempermudah pembaca menangkap karakter dari setiap tokoh. Novel ini bisa dinikmati terputus. Tidak harus menamatkan dua novel sebelumnya untuk merasa tertarik dan penasaran dengan akhir cerita.

Meski demikian, pembaca yang tidak membaca dua novel sebelumnya harus bersiap merasa agak limbung hingga beberapa saat. Butuh waktu untuk meraba pengarakteran, penokohan, dan pengaluran.

Setidaknya, lembar terakhir dari novel tersebut akan membawa pada pengertian bahwa cinta serius harus diperjuangkan. "Princess. Cinta merupakan satu kata yang terlalu sering, tapi tidak pernah cukup diucapkan. Untuk itu aku hanya mau bilang, i love you and i cannot wait to marry you. See you in a bit."

Begitulah epilog dalam novel Bad Boy. (M-4)

BERITA TERKAIT