04 September 2019, 22:00 WIB

Menghidupkan Dunia Imaji


Tosiani | Humaniora

SENIN (6/8) siang, suasana kafe Cinoi di kawasan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, masih sepi. Saat Media Indonesia tiba, Paman Gery, 52, tengah duduk di salah satu bangku di sudut ruangan kafe itu. Tiga buah boneka berbentuk binatang menemaninya. Sembari menyeruput kopi, pria yang dikenal sebagai pendongeng itu menyapa ramah.

Seusai bertukar sapa, ia mengatakan kafe tersebut biasa menjadi tempat ia dan tim kerjanya berkumpul untuk membahas masalah pekerjaan. Dari membahas tema dongeng, audio yang cocok untuk mengantarkan cerita, hingga properti yang harus disiapkan.

“Dari kecil memang saya suka dongeng. Saya selalu dapat dongeng dari ayah saya. Dongeng itu seru, lucu, menarik. Seiring berkembangnya usia, saya tertarik dengan dunia anak, yaitu dengan mendongeng untuk anak-anak,” ungkap pemilik nama lengkap Gery Saleh Puraatmadja tersebut.

Dunia anak-anak mulai digelutinya sejak kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Infonesia (UI) sekitar 1987. Ketika itu, ia bersama teman-temannya mendirikan sekolah informal untuk anak-anak marginal. Dari situ, ia mulai dekat dengan dunia anak yang membuatnya merasakan ada kepuasan batin tersendiri.

Suatu ketika, sekitar 1991, Gery berkunjung ke kerabatnya untuk merayakan ulang tahun salah seorang anaknya yang masih kelas 1 SD. Sayangnya, tukang sulap dan badut yang seharusnya hadir, berhalangan. Gery kemudian berinisiatif menggantikan tugas menghibur anak-anak agar mereka tidak kecewa.

“Saya didandani aneh seperti badut pakai sarung supaya anak-anak tidak sedih. Karena sulap tidak bisa, badut juga bukan, saya coba dongeng untuk pertama kali, padahal tidak pernah belajar mendongeng juga,” ujar Gery mengenang ‘penampilan’ perdananya.

Saat itu, ia menyampaikan dongeng tentang seorang raja yang harus memilih salah satu dari tiga pangerannya sebagai penerus. Sewaktu mendongeng, Gery melihat mata anak-anak terkesima menyimaknya.
Hal itu membuatnya memiliki perasaan yang tidak biasa.
“Itu pertama kali ada greget dan koneksi dengan anak, dan saya merasa senang. Ternyata ini yang namanya dekat dengan dunia anak lewat metode dongeng,” ungkap Gery.

Pekan berikutnya, tanpa sepenge­tahuan Gery, sang kerabat mendaftarkannya ikut festival dongeng nasional di Hotel Hilton (sekarang Hotel Sultan). Ketika itu, Gery yang masih menjadi mahasiswa semester akhir datang ke sana. Tanpa persiapan dan properti apa pun, Gery membacakan dongeng yang serupa dengan acara ulang tahun anak kerabatnya. Tak dinyana, ternyata Gery menang.

“Setelah pengalaman itu, saya pikir mungkin dongeng bisa diseriusi menjadi profesi. Bisa belajar mencari pengalaman dengan dongeng,” katanya.


Inspirasi

Nasib kemudian membawa Gery bertemu seniman Gatot Sunyoto, seorang dengan keahlian suara perut sehingga seolah-olah bonekanya yang berbicara. Orang dengan keahlian itu biasa disebut ventriloquist. Bak mentor, Gatot yang biasa berduet dengan boneka Tongki mengajari Gery tentang pengetahuan panggung, bagaimana bercerita, me­nyusun cerita, dan memakai kemampuan suara untuk bercerita, seperti menirukan suara binatang dan bertutur dengan suara berbeda.
Hingga lima tahun, ia ‘berguru’ kepada Gatot.
Pada 2003, Gery kemudian bekerja menjadi penyiar Radio Female. Di situ kemampuan berceritanya mendapatkan wadah. Pihak radio menyediakan acara Dongeng Pagi Kerajaan Paman Gery. Panggilan ‘Paman’ dianggap cocok untuk figur laki-laki yang dekat secara emosi dengan anak-anak dan khas Indonesia. Kemudian nama Paman Gery menjadi populer.

“Saya minta izin nama Paman Gery ini untuk saya gunakan karena sudah komersial,” kata Gery.

Pada 2005, dirasa ada cerita-cerita yang lebih pantas dibawakan perempuan. Dicarilah figur perempuan pendongeng, dan Cut Mini yang pernah menjadi lawan mainnya dalam film animasi Meraih Mimpi, menjadi pilihan. “Setelah itu, kami sering dapat order tampil, manggung, dan mendongeng,” tuturnya.

Pertama tampil mendongeng di depan umum secara komersial dilakukan Gery di sebuah acara ulang tahun anak-anak sekitar 2004. Ketika itu ia mendapat bayaran Rp250 ribu. Sejak 2005, terkadang ia tampil manggung untuk mendongeng bersama Cut Mini.

Setelah serius mendongeng, sekitar 2012, Paman Gery membentuk tim untuk membantunya bekerja. Timnya beranggotakan lima orang, terdiri atas manajemen, penulis cerita, pembuat properti panggung, mengatur orderan, dan administrasi. Ia juga menyudahi kariernya di radio.

Meski kini memberikan paket lengkap pada anak-anak agar bisa bergembira dengan dongengnya, Paman Gery tidak menerapkan tarif khusus. Ada juga dongeng yang ia berikan untuk kerja sosial sehingga sifatnya hanya tanggung jawab untuk mengganti properti yang ia mainkan saja. Jumlahnya juga tidak mengikat.

Namun, Paman Gery melihat profesi mendongeng ini jika ditekuni serius dapat membuka banyak peluang. Pertama, karena turunan dari profesi ini sangat banyak. Jika masuk dunia teater, jika menguasai dongeng, akan bisa menguasai panggung, tahu dialog. Pendongeng juga sudah pasti tahu alur sehingga bisa menulis. Untuk dunia usaha, orang yang piawai mendongeng bisa jadi salah satu mentor dalam bisnis, juga berguna bagi dunia public speaking. Para mendongeng bisa tahu cara tampil dan memerankan sesuatu lebih baik untuk membuat citra.

Dari sisi penghasilan pun diakui Gery amat menjanjikan. Hampir setiap pekan selalu ada undangan mendongeng yang harus ia datangi. Meski enggan menyebutkan penghasilannya, Gery mengaku dengan menggeluti dunia dongeng, ia mampu menghidupi keluarga.


Memahami audiensi

Untuk mengasah kemampuannya, Gery tidak henti belajar, salah satunya dengan menimba ilmu dari tokoh pendongeng terkenal, Suyadi alias Pak Raden. Itu ia lakukan sekitar 2010.

Semua ilmu dari Pak Raden ia serap. Apa yang cocok buat buat dirinya ia terapkan sebab tidak semua teknik cocok untuk setiap pendongeng. Misalnya, ada yang mendongeng sambil menggambar, ada yang lebih cocok mendongeng dengan boneka. “Saya pakai audio atau suara sendiri. Kalaupun pakai boneka, hanya sebagai alat bantu,” ujarnya.

Gery juga mengupayakan kekhasan pada cerita-cerita dongengnya. Do­ngeng Paman Gery masuk kategori cerita umum dan fabel, yaitu karakter cerita yang diambil dari hewan-hewan. Semua cerita dibuat tim dengan inspirasi dari cerita dongeng lain.

“Saya sedih pendongeng kerap bilang ini murni dongengnya. Padahal, tidak ada dongeng yang benar-benar baru. Yang ada kita mengambil inspirasi dari orang lain, juga belajar karakter hewan,” jelasnya.

Dengan inspirasi itu, Gery tak pernah menyampaikan cerita yang sama setiap pentas. Cara mendongengnya pun penuh improvisasi. Yang ia hafalkan ialah suasananya sehingga timnya hanya membuat sinopsis cerita secara garis besar saja.

Misalnya, ia akan berkisah tentang seekor lumba-lumba. Padahal, tidak semua anak tahu lumba-lumba. Jadi, Gery harus menyampaikan pengenalan, misalnya, dengan mengajukan perta­nyaan pada anak, biasanya liburan ke mana, lalu jika ke laut, apa saja yang mereka lihat.

Dalam bercerita, menurutnya harus sangat memahami audiensinya karena hal itu menentukan dongeng yang akan ia sampaikan, juga cara bicaranya.

“Saya belajar waktu jadi broadcast di radio menggunakan bahasa yang dimengerti. Contoh dongeng untuk anak nelayan tidak mampu di Cilincing, tidak mungkin cerita mobil, tapi kapal, perahu,” ujar Gery.

Suatu ketika, pernah ia diundang dalam acara bakti sosial untuk anak-anak. Jika menyangkut anak, Gery tidak pernah berhitung materi, jadi dibayar berapa pun ia mau. Bahkan, untuk acara bakti sosial, ia rela tidak menerima bayaran.

Saat itu, ternyata ia harus mendo­ngeng untuk anak-anak tunanetra. Gery sempat kebingungan memilih materi dongeng. Jika cerita pelangi, tentu mereka tidak tahu. Soal jenggot, gajah, juga mereka tidak tahu karena tidak pernah melihat.

“Akhirnya, saya dapat inspirasi, cerita tentang sifat, seperti sifat iri. Misal anak yang satu bisa nyanyi lebih bagus, yang satu tidak. Saya cerita hal-hal menyangkut perasaan,” tutur Gery.

Pernah saat masih bekerja di radio, salah satu pendengarnya ialah anak penyandang autis yang sulit diatur. Berdasarkan pengakuan orangtuanya, tiap kali akan ada acara mendongeng, anak tersebut tiba-tiba diam, dia bisa menyebut ‘Paman Gery’ dan tangannya menunjuk ke radio, minta dinyalakan. “Itu bukti dunia anak adalah dunia imajinasi, semua anak punya khayalan ceria,” kata dia. (M-2)

BERITA TERKAIT