03 September 2019, 20:15 WIB

Rujukan bagi yang Masih Salah Kaprah Berbahasa Fesyen


Fetry Wuryasti | Weekend

Mode dan fesyen menjadi bagian kehidupan masyarakat sehari-hari, baik dalam berpakaian harian, bekerja, sampai untuk hadir di suatu acara. Namun, rupanya banyak sekali bahasa soal busana yang pemakaiannya salah kaprah.

Perancang busana Indonesia Auguste Soesastro mengatakan penggunaan kosa kata dalam lingkup fesyen belum dipahami banyak orang awam. Akibatnya objek barang seperti bahan pakaian, atau model pakaian yang dituju seringkali menjadi tidak tepat.

Ia mencontohkan, terkadang pemakai busana sering salah persepsi antara serat dan jenis tenunan sehingga bahan satin sering dipukul rata jenisnya oleh penjual kain.

"Mereka bilang ini bahan satin. Memang tenunannya satin, tapi serat dasarnya apa? Bisa sutra, polyester, cotton, wool itu semua bisa dijadikan satin. Itu cara menenunnya. Penjual bisa mendeskripsikan bahan tapi tidak komplet. Mereka bilangnya satin biasa, biasa itu apa? Ternyata maksudnya polyester, yang murah," tuturnya dalam peluncuran edisi terbaru Kamus Mode Indonesia, di Jakarta, Selasa (3/9).

Pemahaman lebih dalam mengenai busana seharusnya menjadi edukasi publik yang terus menerus dilakukan agar menyerap di masyarakat. Edukasi seperti ini sebaiknya dilakukan oleh semua orang karena harus ada keinginan untuk menyebut sesuatu lebih tepat.

Seperti untuk toko kain, sebaiknya pemilik toko juga memahami mengenai unsur dalam fesyen dan bisa mengedukasi pegawai agar bisa melayani dengan benar. Selain mengenai detil bahan, kesalahan pada penyebutan bahan sering terjadi menggunakan penamaan yang dilabeli oleh perusaahaan manufaktur.

"Ini terjadi pada trade naming, seperti penyebutan bahan Cavali. Itu penamaan dari manufaktur dan tidak teknis ataupun pakem,"

Salah kaprah lainnya terjadi pada pemahaman brokat dan lace yang sebenarnya berbeda barang. Namun masyarakat awam melihat itu sebagai sesuatu yang sama.

Kain lace atau kain renda adalah kerawang (biku-biku) dibuat dari benang dirajut yang biasa dipasang di tepi baju kain, bantal dan sebagainya. Sementara itu, brokat merupakan jenis kain yang kaya dekorasi, seringkali dibuat menggunakan sutra berwarna, dengan atau tanpa benang emas dan perak.

Brokat biasanya menjadi pelapis bahan utama dalam pembuatan busana. Fitur dari bahan brokat keras dan gatal jika tersentuh kulit, maka harus ada bahan pelapis di bagian dalam brokat untuk memberi kenyamanan bagi pemakai.

Salah satu penulis buku Kamus Mode Indonesia, Irma Hardisurya, juga mengatakan dalam bahasa umum, banyak sekali pemakaian istilah dalam fesyen yang berkembang. Dia mencontohkan dalam pembaharuan bukunya ini, perluasan makna dari istilah outer. Outer yang tadinya pakaian tertentu dipakai sebagai lapisan terluar (berdasarkan fungsi), kini menjadi elemen tambahan dalam outfit yang menunjang menampilan pemakainya.

Begitu pula pada pengertian manset yang sebelumnya merupakan bagian ujung lengan baju yang berupa bagian tambahan  biasanya dibuat kaku. Kini manset bisa berupa pakaian atasan lengkap yang berfungsi sebagai lapisan dalam baju luaran yang lengannya lebih pendek.

Kamus ini, kata Irma, pertama kali diterbitkan 2010. Pembaharuan dilakukan mengingat mode terus berkembang, sehingga akan ada beberapa kosa kata fesyen juga yang sudah jarang dipakai maupun baru tren dipakai.

Dirinya mengaku prihatin membaca artikel mode fesyen yang ditulis agak sembarangan, atau melihat fesyen show yang seharusnya menampilkan koleksi adibusana, namun menggunakan bahan dasar dan pembuatan yang sangat apa adanya.

"Persepsi desainer, masih banyak yang kurang memahami apa itu adibusana. Di buku kali ini saya menambahkan ulasan kosa kata mengenai tenun batik. Memang ini belum sempurna karena seharusnya pembahasan kain Indonesia dibuat kamus tersendiri. Namun setidaknya, diharapkan buku ini langkah awal untuk terbentuknya standarisasi istilah dalam fesyen secara umum yang bisa dimanfaatkan oleh sekolah mode, juga pelaku bisnis," jelas Irma.

Buku Kamus Mode Indonesia yang disusun Irma bersama Ninuk Pambudy dan Herman Jusuf tersebut dijual dengan harga Rp139.000. (M-2)

BERITA TERKAIT