26 August 2019, 10:01 WIB

Ditolak Pinjam Ambulans, Jenazah Dibopong Keluar


Sumantri | Megapolitan

Metro TV
 Metro TV
Supriadi, 40, selaku paman korban, membopong jenazah keponakannya keluar dari puskesmas. 

TRAGIS nasib Muhammad Husen, 8, yang tewas tenggelam saat berenang di Sungai Cisadane, Kota Tangerang, Banten, Jumat (23/8) sore. Pasalnya, ketika akan dibawa pulang ke Kampung Kelapa Indah RT 03/05, Kelurahan Kelapa Indah, Kecamatan Tangerang, petugas Puskesmas Cikokol menolak mengantarkan jenazah dengan ambulans. Alasannya, ambulans hanya untuk mengangkut pasien sakit.

Supriadi, 40, selaku paman korban, pun langsung membopong jenazah keponakannya keluar dari puskesmas. “Saya kasihan melihat jenazah. Selain sudah lama di puskesmas, pihak puskesmas pun tidak peduli dan tidak bersedia mengantar ke rumah,” kata Supriadi, kemarin.

Padahal, kata Supriadi, pihaknya juga sudah meminta tolong petugas puskesmas untuk menghubungi call center supaya bisa mengirim ambulans lain.

“Puskesmas beralasan call center-nya tidak nyambung. Saya mencoba beberapa kali menghubungi call center, tapi operator call center beralasan jaringan buruk sehingga suara saya tidak terdengar jelas,” kata Supriadi.

Untunglah kemudian ada warga yang memberi tumpangan mobil untuk pulang ketika melihat Supriadi membopong jenazah. Kasus ini pun lalu viral di media sosial.

Terkait kasus ini, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Liza Puspa Dewi, merasa prihatin dan mohon maaf. Menurut Liza, sebenarnya Pemda Kota Tangerang sudah memunyai fasilitas mobil jenazah gratis yang bisa dimanfaatkan melalui aplikasi 112.

“Ambulans di puskemas hanya dipersiapkan untuk mengangkut pasien yang dalam kegawatdaruratan. Di dalam mobil ambulans terdapat banyak alat medis yang harus selalu steril. Bila digunakan untuk jenazah, khawatir berdampak tidak baik kepada pasien,” ungkapnya.

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah ikut meminta maaf atas kekurangsigapan petugas Puskesmas Cikokol. Saat datang ke rumah korban, Arief berjanji akan memberi teguran langsung kepada petugas puskesmas dan dinas kesehatan. “Saya memerintahkan pembenahan SOP pelayanan di dinas kesehatan, terutama puskesmas, untuk mengedepankan hal-hal yang bersifat gawat darurat atas dasar kemanusiaan,” kata Arief.

Saat didatangi Wali Kota, tangis ibu korban, Mayasaroh, 43, pun pecah.

“Saya merasa sangat kehilangan, tetapi saya sudah ikhlas,” kata Mayasaroh. Namun, dia tetap merasa kecewa atas perlakuan petugas puskesmas yang tidak mau mengantar pulang jenazah anaknya. (X-11)

BERITA TERKAIT