25 August 2019, 13:55 WIB

Kim Jong-un Saksikan Uji Coba Rudal, Negosiasi Nuklir Kian Sulit


Ihfa Firdausya | Internasional

AFP/KCNA
 AFP/KCNA
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyambut kesuksesan uji coba rudal yang 

MEDIA pemerintah Korea Utara (Korut) KCNA pada Minggu (25/8) melaporkan bahwa pemimpin mereka Kim Jong-un kembali turut menyaksikan penembakan uji coba senjata yang baru dikembangkan.  Hal tersebut dinilai akan semakin memperkeruh situasi untuk dimulainya kembali perundingan denuklirisasi.

Korut menampik pernyataan militer Korea Selatan (Korsel) tentang dugaan dua rudal balistik jarak pendek yang diluncurkan Sabtu (25/8) kemarin. Media pemerintah Korut mengatakan itu adalah 'peluncur roket multipel super besar'.

Kim mengatakan sistem yang baru dikembangkan adalah 'senjata yang hebat'. Ia menyatakan 'penghargaan tinggi' untuk para ilmuwan yang telah merancang dan membangunnya.

"Uji coba itu membuktikan bahwa semua spesifikasi taktis dan teknologi dari sistem dengan benar mencapai indeks yang telah ditentukan," kata laporan KCNA.

Kim juga mengatakan negara itu perlu terus meningkatkan pengembangan senjata.

"Untuk secara tegas menggagalkan ancaman militer yang terus meningkat dan tekanan ofensif terhadap pasukan musuh," kata KCNA.

Kim dilaporkan telah mengamati setidaknya dua uji coba lain 'senjata baru' di bulan ini. Namun, sifat dan spesifikasi teknis dari senjata tersebut tetap menjadi misteri.

Peluncuran Sabtu kemarin adalah yang terbaru dari serangkaian peluncuran dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini merupakan bentuk protes Korut terhadap latihan militer gabungan AS-Korsel, yang telah berakhir hampir seminggu yang lalu.

Uji coba Sabtu kemarin juga mendorong Gedung Biru Kepresidenan Korsel untuk mengadakan pertemuan Dewan Keamanan Nasional (NSC).

"Anggota NSC setuju untuk melanjutkan upaya diplomatik dengan komunitas internasional. Kami ingin membawa Korea Utara kembali ke meja perundingan dengan AS untuk mencapai tujuan denuklirisasi lengkap di semenanjung Korea," kata pemerintah dalam sebuah pernyataan.

Namun, kemungkinan pembicaraan itu dalam waktu dekat tampaknya telah memudar. Setelah pekan lalu utusan khusus AS untuk Korea Utara Stephen Biegun mengatakan 'siap terlibat' dalam perundingan, pihak Korut justru 'skeptis' dengan negosiasi itu.

Pyongyang berjanji untuk tetap menjadi 'ancaman terbesar AS'. Mereka mengatakan latihan militer bersama AS-Korea Selatan telah mempersulit prospek pembicaraan nuklir. (AFP/OL-09)

BERITA TERKAIT