23 August 2019, 05:40 WIB

Dari Cilacap untuk Langit Jakarta


Raja Suhud | Ekonomi

DOK PERTAMINA
 DOK PERTAMINA
KILANG REFINARY PERTAMAX CILACAP

Buruknya kualitas udara di Jakarta memunculkan wacana untuk menghentikan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) bertimbel di area Ibu Kota.

Pertamina mengaku siap mengambil bagian dalam upaya memulihkan kualitas udara di DKI Jakarta dengan menghasilkan BBM berkualitas tanpa timbel.

"Pertamina mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penggunaan BBM berkualitas demi lingkungan yang lebih baik," kata Fajriyah Usman, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (persero), di Jakarta, kemarin.

Upaya tersebut dilakukan dengan menyediakan bahan bakar berkualitas di seluruh SPBU di wilayah DKI Jakarta yang berjumlah 259.

Dari keseluruhan SPBU di Jakarta, semua SPBU menjual pertamax, sedangkan pertamax turbo dijual di 130 SPBU dan Pertamina dex dijual di 160 SPBU di wilayah DKI Jakarta.

Menurut Fajriyah, guna mendukung kebijakan penggunaan BBM tanpa timbel di Jakarta, Pertamina tidak hanya menjamin ketersedia-an BBM berkualitas di SPBU, tetapi juga telah memastikan dua kilang yang menyuplai BBM ke Jakarta telah memproduksi BBM berstandar Euro 4.

Proyek Langit Biru

Selain Kilang Balongan yang memproduksi pertamax, Pertamina juga telah merampungkan Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) yang dikelola Refinery Unit (RU) IV Cilacap yang telah diserahterimakan akhir Juli lalu.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Ignatius Tallulembang, menjelaskan dengan selesainya PLBC, kemampuan produksi pertamax Kilang Cilacap meningkat signifikan dari 1,0 juta barel per bulan menjadi 1,6 juta barel per bulan.

"Kilang Cilacap merupakan salah satu kilang besar Pertamina yang berperan dalam menjaga swasembada dan kemandirian energi nasional. Kapasitas operasi menyumbang sekitar 33,4% dari total kapasitas kilang nasional," katanya.

Tallulembang menegaskan, PLBC yang dimulai sejak 2015 kini telah selesai dan bisa beroperasi penuh sehingga jumlah produksi Kilang Cilacap bertambah dan kualitasnya sesuai dengan standar Euro 4.

Menurutnya, Euro 4 merupakan standar mutu gas buang kendaraan yang ditetapkan negara-negara Uni Eropa untuk menjaga kualitas udara. Semakin tinggi standar Euro yang ditetapkan maka semakin kecil batas kandungan karbon dioksida, sulfur, dan partikel yang berdampak negatif pada manusia dan lingkungan.

"Beroperasinya PLBC secara penuh menemukan momentum yang tepat karena produk yang dihasilkan akan menjadi solusi untuk mengatasi polusi udara, termasuk di wilayah Jakarta," lanjut Tallulembang.

Sebagaimana diketahui, proyek PLBC menelan investasi US$392 juta dengan lingkup pekerjaan meliputi revamping unit platforming I sehingga kapasitas produksi meningkat 30% menjadi 18,6 MBSD, pembangunan unit baru LNHT-isomerization dengan kapasitas desain 21,5 MBSD, serta pembangunan beberapa unit utilities untuk mendukung unit proses PLBC.

Melalui PLBC ini, Pertamina berharap dapat meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan oleh kilang sehingga menjawab isu lingkungan, meningkatkan kapasitas kilang, serta mengembangkan bisnis petrokimia.

Selain ketersediaan BBM berkualitas di Jakarta dan sekitarnya, peningkatan produksi pertamax juga dapat mengurangi impor BBM.

"Hal ini berdampak positif pada cadangan devisa negara dan bahkan berkontribusi terhadap GDP Indonesia sebesar 0,12%," tandasnya. (E-2)

BERITA TERKAIT