22 August 2019, 21:35 WIB

Kebakaran Hutan Terus Bermunculan di TN Tesso Nilo


Antara | Nusantara

MI/Rudi Kurniawansyah
 MI/Rudi Kurniawansyah
Kebakaran Hutan di TN Tesso Nilo

KEBAKARAN hutan terus bermunculan di Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, yang lokasinya tidak jauh dari lokasi penggembalaan gajah sumatra jinak dan luasnya kebakaran diperkirakan sudah mencapai ribuan hektare.  

Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Halasan Tulus, di Pekanbaru, Kamis (22/8) malam, mengatakan, kobaran api tiba-tiba muncul di dekat kamp Flying Squad pada sore hari setelah kunjungan Kapolda Riau Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo dan Wakil Komandan Satgas Karhutla Riau Edwar Sanger.

Padahal, ketika kunjungan Kapolda tidak terlihat ada kebakaran di area Kamp Flying Squad, yang merupakan tempat penggembalaan delapan ekor gajah sumatra (elephas maximus sumatranus) jinak binaan WWF Indonesia.   

"Pas Kapolda pulang sudah agak sore, terus tiba-tiba (api) muncul lagi. Kalau sudah begitu terpaksa kami kerja lagi (padamkan api)," kata Halasan.

Ia mengatakan kebakaran di TNTN kerap bermunculan secara tiba-tiba akibat dipicu angin kencang dan kondisi di lokasi itu sangat kering dan panas.

"Karena angin kencang, kering, dan bahan bakarnya ada maka terjadi itu (api). Sebenarnya kita bisa handle tapi api tidak benar-benar padam," ujarnya.

Kebakaran di dekat kamp Flying Squad binaan WWF tersebut menimbulkan asap pekat. Namun, Halasan mengatakan kondisi gajah sumatra
(elephas maximus sumatranus) binaan dalam kondisi aman karena sudah dipindahkan menjauh dari kebakaran dan asap.

Ia menambahkan, kunjungan Kapolda Riau ke TNTN adalah untuk memeriksa kondisi gajah dan penanganan kebakaran di kawasan konservasi itu. Menurut Halasan, Kapolda Riau juga menyatakan komitmen untuk menyelidiki dugaan pembakaran kawasan TNTN.


Baca juga: Polsek Batulicin Amankan Tiga Pembakar Lahan


"Beliau memerintahkan anggotanya untuk mengejar pelaku pembakar-pembakar itu," kata Halasan.     

Sementara itu, Humas WWF Program Riau, Syamsidar, mengatakan, tim gabungan dari TNI, Polri, Brigade Pengendalian Karhutla TNTN, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) binaan WWF langsung berupaya memadamkan kebakaran yang tiba-tiba muncul di dekat kamp flying squad.

Ia mengatakan, api hingga laporan terakhir sekitar pukul 18.00 WIB, api masih berkobar. Luas kebakaran di area sekitar flying squad sudah mencapai ratusan hektare (ha).

"Kalau data minggu lalu sekitar 200 ha, mungkin sekitar segitu juga karena beberapa terulang lagi. Kalau untuk keseluruhan TNTN menurut perkiraan berdasarkan data menurut sistem informasi geografis sekitar 4.100 ha," katanya.

TNTN merupakan kawasan konservasi, yang salah satunya berfungsi sebagai habitat asli satwa endemik gajah sumatra (elephas maximus sumatranus). Awalnya, luas TN Tesso Nilo adalah 38.576 hektare (ha) berdasarkan Surat Keputusan Menhut No.255/Menhut-II/2004.

Kemudian kawasan konservasi itu diperluas menjadi 83.068 ha dengan memasukkan areal hutan produksi terbatas yang berada di sisinya, berdasarkan SK No.663/Menhut-II/2009.

Namun, kerusakan yang terjadi di kawasan itu akibat perambahan sudah sangat masif yang mengubah bentang alam hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.  

Sebelumnya, Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Pelalawan menangkap seorang tokoh masyarakat atau 'Batin/Bathin' yang dijuluki sebagai 'Batin Hitam Sungai Medang' atas dugaan melakukan perambahan lahan TNTN.  

"Tersangka membuka lahan di TNTN seluas enam hektare untuk perkebunan karet," kata Kapolres Pelalawan, AKBP Kaswandi Irwan, dihubungi dari Pekanbaru, Rabu (14/8).

Ia mengatakan tersangka berinisial AA itu ditangkap setelah Polres Pelalawan mendapat informasi pembukaan lahan dengan cara membakar di kawasan konservasi itu dari Balai TNTN. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT