22 August 2019, 19:50 WIB

Ekonom Sambut Positif Kebutusan BI Pangkas Suku Bunga


Atikah Ishmah Winahyu | Ekonomi

MI/PANCA SYURKANI
 MI/PANCA SYURKANI
Ilustrasi

DIREKTUR Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah memandang, penurunan suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia ditujukan untuk memacu pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan pertumbuhan global.

"Saya kira kebijakan ini sudah tepat untuk memacu pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan global," ujar Piter kepada Media Indonesia, Kamis (22/8).

Namun menurut Piter, masih banyak faktor lain yang turut menentukan berhasil atau tidaknya kebijakan ini. Meski penurunan suku bunga diharapkan dapat mendorong investasi, namun faktor-faktor seperti pembebasan lahan, koordinasi pusat dan daerah, persoalan perburuhan, dan lainnya masih sangat berpengaruh terhadap realisasi investasi.

"Banyak PR-nya (pekerjaan rumah), harus ada koordinasi fiskal moneter dan sektor riil," tandasnya.

Baca juga: BI Pangkas Suku Bunga Acuan, Ini Alasannya

Senada, Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan, penurunan bunga acuan BI sudah pada momentum yang tepat, seiring upaya BI untuk mendorong pertumbuhan kredit dan sektor riil.

"Jadi bukan terlalu cepat," tuturnya.

Dia pun menilai ruang penurunan suku bunga acuan 25 bps masih terbuka hingga akhir tahun menjadi 5.25%. Suku bunga yang rendah diperlukan untk menstimulus perekonomian.

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mencapai 5%. Tekanan perang dagang, harga komoditas yang rendah dan konsumsi lambat memerlukan stimulus moneter," jelasnya.

Sedangkan terkait investasi, dia mengaku tantangannya memang lebih kompleks karena tren investasi global memang sedang menurun.

"Jadi di samping bunga rendah jg hrus dibarengi reformasi perizinan, dan peningkatan daya saing," tandasnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT