22 August 2019, 18:40 WIB

Kades Tebara Terus Bertekad Ciptakan Lapangan Kerja bagi Warganya


Alexander P Taum | Nusantara

DI balik kisah kegagalan banyak desa memanfaatkan Dana Desa, Nusa Tenggara Timur ternyata menyimpan sejumlah kisah tentang desa berprestasi.

Marten Ragowino Bira, Kepala Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, NTT, misalnya, berhasil membawa Kampung Adat Prai Ijing menjadi desa wisata berkelas dunia.

Sejak memangku jabatan sebagai Kepala Desa Tebara, Marthen berikhtiar menjadikan desanya tempat orang hidup, berkarya, dan bergembira. Desa bukan lagi menjadi tempat bermukim bagi orang-orang lemah dan tak berdaya.

Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, NTT, saat ini menjadi ikon wisata di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi NTT. Pasalnya, desa yang memiliki Kampung Adat Prai Ijing ini telah telah mendunia berkat kucuran dana ADD yang digelontorkan Pemerintah Pusat di bawah piminan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Tak hanya itu, Dana Desa yang dikelolanya dengan sangat baik berhasil memacu perekonomian di daerahnya.

"Saya mengelola Dana Desa dari 2016 sewaktu menjadi Kepala Desa PAW sebesar Rp750.722.000, dan pada 2018 menjadi Rp1.264.204.890, kemudian pada 2019 sebesar Rp1.377.094.000. Karena Dana Desa hadir sebagai stimulan saja agar muncul usaha-usaha produktif sehingga akan terbuka banyak peluang kerja, Memutar roda ekonomi, sekaligus menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes)," ujar Marthen.

Suami dari Theresia Wolu, serta ayah dari Aceline Angela Genya Bira dan Juan Trystan Tobu Bira, ini mulai membuat program yang mengangkat potensi desa dan dimanfaatkan untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.

Pria lulusan Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, ini, mulai mengembangkan 5 unit usaha. Ia menamakan Badan Usaha Desa (BUMDes)-nya yakni Iyya Tekki, yang berarti satu suara.


Baca juga: Polda Jatim Periksa Saksi Perusak Tiang Bendera Asrama Papua


Unit usaha Iyya Tekki Desa Tebara yakni pengelolaan kampung wisata Prai Ijing, pengelolaan danau wisata Alami Weeboro sebagai objek wisata air, pelayanan simpan pinjam untuk usaha produktif bagi warga, pengelolaan pasar desa, dan pengelolaan lumbung desa.

"Saya mulai membentuk BUMDes Iyya Tekki untuk mengelola wisata budaya Kampung Adat Prai Ijing yang dimulai pada 2 Juli 2018 dengan penghasilan bersih selama 5 bulan di 2018 sebesar Rp170 juta dan menghasilkan PADes Rp51.308.000. Dari pengelolaan Kampung Adat Prai Ijing sebagai tempat wisata, selain menghasilkan PADes juga membuka lapangan kerja bagi 60 warga baik pemuda pemudi sebagai tenaga kerja produktif dan warga usia lanjut dengan penghasilan sehari rata-rata Rp35.000 per orang," ujar mantan editor sebuah penerbitan besar di Jakarta itu.

Tak berhenti di situ, untuk membantu meningkatkan SDM warganya, Marthen pun bekerja sama dengan sejumlah lembaga kredibel dari Jakarta.

"Kita melakukan penguatan kapasitas petugas desa wisata (guide, petugas loket, parkir, petugas kebersihan, juru masak kuliner,  petugas homestay), bekerja sama dengan Prita Laura dkk dari Universitas Podomoro Jakarta, Indonesia International Work Camp (IIWC), Felencia Hutabarat dkk, co working space KEKINI, Tim Halo Sumba Universitas Airlangga Surabaya, Tim LPM Univ Sanata Dharma Yogyakarta. Semua dibiayai dari dana desa," ujar Marthen, Kamis (22/8).

Berkat kerja keras dan perjuangannya, Desa Tebara ditetapkan sebagai Desa Percontohan Program Prioritas Nasional Tahun 2018 dalam kategori Pengelolaan Keuangan Desa, Aset Desa, dan Inovasi Desa. Penghargaan diterima di Jakarta pada 17 Januari lalu. Penghargaan itu diberikan oleh Kementerian Keuangan RI.

"Saya selalu berpikir, hal penting dalam pengelolaan keuangan terutama dana desa adalah soal transparansi yang utama. Tetapi setelah kita mengelola keuangan dengan baik sekaligus transparan, kita perlu melihat sisi yang paling penting, yaitu efek manfaat atau nilai guna dari adanya dana desa itu," pungkas Marthen. (OL-1)

BERITA TERKAIT