22 August 2019, 17:50 WIB

Siswi Korban Penganiayaan Kakak Kelas dan Alumni Alami Trauma


Gana Buana | Megapolitan

ilustrasi
 ilustrasi
  Bullying. 

SISWI Sekolah Menengah Kejuruan berinisial GL, 17, korban penganiayaan mengalami trauma psikis hingga enggan bersekolah lagi. Atas reaksi tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kota Bekasi akan melakukan pendampingan terhadap korban.

"Korban mengalami trauma atas perlakuan yang diterimanya, kami sempat melihat sendiri ke rumahnya," ungkap Ketua KPAI) Kota Bekasi, Aris Setyawan, Kamis (22/8).

Seperti diberitakan, sebuah video menjadi viral setelah dalam konten itu mempertontonkan seorang siswi dianiaya oleh dua orang perempuan yang tak lain kakak kelasnya dan alumni. Kekerasan itu terjadi di sebuah taman di Jalan Irigasi II, Bekasi Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Rabu (14/8) pukul 13.30.

Aris mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan mendampingi GL sebagai upaya penyembuhan mental sambil menunggu proses hukum berjalan. Menurut dia, kesembuhan mental ini berguna agar korban dapat kembali bersekolah.

"Ini bentuk trauma healing, korban juga masih duduk di bangku sekolah," jelasnya.

Aris berharap, ada pemberian dispensasi dari pihak sekolah kepada GL. Sebab, saat ini korban sudah lima hari tidak mau sekolah lagi. Setidaknya, ada utusan sekolah untuk pemberian pelajaran dari sekolah ke rumah.

Sebaiknya, kata Aris, kejadian ini menjadi pelajaran semua orangtua dan guru untuk mengawasi semua anak-anaknya terutama menggunakan media sosial. Sebab, persoalan kekerasan terhadap anak berangkat dari media sosial.

"Awasi pemakaian gedjet anak, jalin komunikasi dengan anak," imbuhnya.


Baca juga: Lima Perda Disahkan di Akhir Jabatan DPRD DKI, Apa Saja?


Sementara itu, orangtua korban berinisial AS, mengatakan, awalnya pada Kamis (15/7) dirinya sudah menaruh curiga saat anaknya pulang sekolah pakaiannya tidak seronoh. Di situ juga A mempertanyakan apa yang terjadi selama di sekolah.

"Sepulang sekolah pakaiannya acak-acakan, saya tanyakan kenapa, anak saya tidak jawab dan langsung masuk ke kamar," katanya.

Karena penasaran, ia terus mencari informasi atas kejadian yang menimpa anaknya itu. Lagi-lagi upaya itu tidak berbuah manis. GL sendiri sangat merahasiakan kejadian yang dialaminya.

"Biasanya dia kalau ada apa-apa selalu ngomong, tapi kenapa sekarang susah sekali ngomong, dan sangat merahasiakan," imbuhnya.

Tak berselang lama, kata AS, ia melihat video yang beredar di media sosial. Ternyata dalam video itu terlihat anaknya sedang menjadi korban kekerasan. AS kemudian mendatangi pihak sekolah untuk mempertanyakan perihal pengeroyokan itu.

"Ternyata gurunya sendiri baru tahu Selasa (20/8) kemarin. Akhirnya guru menyarankan lapor ke polisi,” katanya.

Dalam video itu, GL dianiaya oleh dua orang kakak kelasnya dan seorang alumni sekolah. Pemukulan itu terjadi di sebuah taman di Jalan Irigasi II, Bekasi Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Rabu siang.

"Anak saya disuruh duduk lalu ditendang. Padahal anak saya pakai jilbab, ternyata di video itu sudah lepas jilbabnya, dicekik dan ditendang," katanya.

AS menduga peristiwa ini dipicu karena penampilan anaknya GL selalu rapih dan menjaga perawatan. Kemungkinan kakak kelasnya tidak senang. Atas kejadian itu, GK dinyatakan mengalami luka dada dan luka wajah. Dalam laporannya ke Polres Metro Bekasi tertanda LP/1983/K/VII/2019/SPKT/Restro Bekasi Kota pada Selasa (20/8). AS membawa barang bukti berupa video pengeroyokan anaknya. (OL-1)

BERITA TERKAIT