21 August 2019, 17:30 WIB

JILF dan Harapan Mengubah Perilaku Warga


Galih Agus Saputra | Weekend

Dok Instagram @jilfindo
 Dok Instagram @jilfindo
Seluruh pembicara dan penulis yang terlibat dalam JILF. 

SETELAH cukup dinanti, Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019, resmi dibuka Selasa (20/8). Dalam acara yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki itu Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), sebagai penyelenggara, mengungkapkan rencananya JILF akan dihelat rutin tiap tahun.

PLT Ketua DKJ, Danton Sihombing mengatakan perhelatan ini diharapkan dapat menjadi ruang distribusi seni yang amat luas. Lebih dari itu, ia juga mengatakan bahwa JILF diharapkan dapat menjadi asupan kognisi bagi warga Jakarta dan warga Indonesia pada umumnya.

"Khususnya bagi demografi usia muda, yang merupakan investasi bagi dunia seni yang akan datang. Ruang-ruang seni juga menjadi sarana perubahan perilaku, yang sekaligus dapat mengurangi relasi tegang antara kota dan warga, singkatnya mengubah si pemarah menjadi si peramah," imbuhnya.

'Pagar' diangkat sebagai tema sentral dalam JILF 2019. Dalam pandangan DKJ, ia berfungsi sebagai pelindung sekaligus pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah yang harus dilintasi, apabila ingin mengenal maupun dikenal oleh orang lain.

Dalam perhelatan ini, setidaknya ada 55 penulis, 26 penerbit, dan 21 komunitas sastra yang turut diundang. Mereka datang dari Afrika Selatan, Botswana, Filipina, India, Indonesia, Inggris, Jerman, Malaysia, Mauritius, Palestina, Singapura, hingga Siprus, Somalia, Thailand, dan Turki.

Salah satu kurator, Yusi Aviqnto Pareanom yang juga menjabat sebagai Direktur JILF 2019 menambahkan bahwa, JILF telah digodok sejak 2016. Ia dirancang agar dapat menjadi kesempatan bagi seniman tanah air untuk unjuk gigi dihadapan penikmat seni dari berbagai negeri. "Kita punya banyak penulis yang karyanya sangat layak dikonsumsi oleh warga dunia. Bukan hanya karena eksotis, tetapi karena memang layak mutunya," tutur Yusi.

JILF 2019 menawarkan dua program. Program utamanya terdiri atas pidato kunci, simposium, bincang sastra dan penulis, serta malam pembacaan karya, lab ekosistem sastra, pameran sastra liar era kolonial, hingga pasar hak cipta buku yang mempertemukan penerbit internasional dan nasional. Sementara untuk program pendukung, JILF 2019 menyelenggarakan diskusi prafestival, dan ruang sastra, dan komunitas yang akan diisi dengan pentas teater, musik, dan pemutaran film.
Khusus pembukaan JILF 2019 yang berlangsung di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta ditandai dengan pidato kunci oleh Novelis Palestina, Adania Shibli. Ia membawakan pidato berjudul 'Saya Tidak Bercakap Bahasa Saya' yang mana menggambarkan kisahnya dalam keheningan namun dapat berbicara lantang melalui karya, khususnya yang bercerita tentang pengalaman hidupnya di Palestina.

Selanjutnya, JILF 2019 akan menggelar sejumlah simposium antara lain, 'Lepas dari Komodifikasi' oleh Laura Prinsloo, dan Linda Christanty dari Indonesia, Shenaz Patel dari Mauritius, dan Oliver Precht dari Jerman. Lalu, setelah itu ada simposium bertajuk 'Melawan Bias' yang akan dibawakan oleh Bejan Matur dari Turki, Zainab Priya dari Afrika Selatan, dan Saras Dewi dari Indonesia, serta sejumlah simposium lainnya yang membahas masalah mulai dari kuratorial, tema umum, hingga 4.0. (M-1)

BERITA TERKAIT