20 August 2019, 14:09 WIB

Salak Gula Pasir Bali Menembus Kamboja


Arnoldus Dhae | Nusantara

MI/Arnoldus Dhae
 MI/Arnoldus Dhae
Pelepasan salak gula pasir Bali ke Kamboja, Selasa (20/8). 

SETELAH mangga dilepas perdana ke Rusia oleh Menteri Pertanian, kini giliran salak gula pasir khas Bali dijajaki untuk diekspor ke Kamboja, Dubai, Vietnam dan Tiongkok. Pasca dilepas perdana oleh Gubernur Bali di Pelabuhan Benoa pada Maret 2019, pada hari ini Selasa (20/8), Kepala Badan Karantina Pertanian kembali melepas ekspor 773 kilogram salak gula pasir dari Bali ke Kamboja.

Salak gula pasir (Salacca edulis) ini berasal dari petani di Kabupaten Tabanan yang dikelola dengan sistem kemitraan oleh pelaku usaha agribisnis, PT Serena Sejahtera. Menurut Mulianta, eksportir salak yang juga hadir dalam acara tersebut menyatakan bahwa hasil sortiran dari panen petani makin meningkat. Sebelumnya dari hasil panen hanya 40% yang bisa diekspor kini meningkat menjadi 70%. Hal tersebut karena petani mulai memperbaiki budidayanya sehingga hasilnya sesuai dengan permintaan pasar.

Menurut Jamil, Kementerian Pertanian lakukan upaya dan terobosan dalam meningkatkan kesejahteraan petani dengan mendorong peningkatan ekspor komoditas pertanian.

"Jadi harapannya, margin keuntungan dari ekspor ini bisa dibagi juga ke petani, syukur-syukur ini bisa kita tingkatkan lagi dengan diolah, menambah negara tujuan dan ragam komoditas," ungkap Jamil di area Kargo Logistik Angkasa Pura II, Denpasar, Selasa (20/8).

Selain salak gula pasir, pada saat yang sama Kepala Barantan yang didampingi Kepala Karantina Pertanian Denpasar, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Bali, Instansi terkait di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai juga melepas 2,5 ton perdana kakao organik tujuan Belgia dan kepompong tujuan Singapura. Total nilai ekonomi pelepasan ekspor hari ini adalah Rp1,7 miliar.  

I Putu Terunanegara, Kepala Balai Karantina Pertanian (Barantan) Kelas I Denpasar, menambahkan bahwa ekspor dari wilayah kerjanya  mencakup berbagai komoditas diantaranya anak ayam umur sehari (DOC), walet, mangga, manggis, paprika, handicraft asal batok kelapa, jerami, vanilla, daun bawang dan enceng gondok. Adapun negara  tujuan ekspornya  ke Eropa, Amerika, Rusia, Australia, Swiss dan Timor Leste.

Sebagai fasilitator perdagangan komoditas pertanian, Barantan lakukan terobosan dan inovasi layanan. Dengan tugas utama memperkuat sistem perkarantinaan guna menjamin pelestarian sumber daya alam hayati, juga lakukan percepatan layanan ekspor.

baca juga: Keterbatasan Infrastruktur Picu Kemiskinan di Desa

Digitalisasi layanan tidak hanya untuk mempercepat namun juga menyiapkan model dan solusi layanan. Aplikasi peta potensi komoditasi pertanian bernama IMACE diserahkan kepada pemda dengan harapan dijadikan model dalam membuat kebijakan pengembangan pertanian berbasis kawasan dan orientasi ekspor. Juga kerja sama sertifikasi online, e-Cert yang diterapkan kepada negara mitra dagang. Harapannya menjadi solusi bagi jaminan diterimanya komoditas pertanian oleh negara mitra dagang.

"Sudah menjadi instruksi Pak Mentan, untuk memperluas kerjasama sertifikat online. Ini akan jadi fokus kami mendorong ekspor," tutup Jamil. (OL-3)

BERITA TERKAIT