20 August 2019, 13:05 WIB

Mandiri, BRI, dan BTN Unjuk Kinerja di Pasar Modal


Atalya Puspa | Ekonomi

Ist
 Ist
Nasabah dan Pegawai Bank Tabungan Negara

TIGA bank yang saham mayoritasnya dimiliki negara, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk, dan PT Bank Mandiri Tbk memaparkan pencapaian kinerja kepada para investor di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pemaparan tiga bank BUMN itu merupakan bagian dari Public Expose Live 2019 yang diselenggarakan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dalam rangka ulang tahun ke-42 BEI.

Dalam paparannya, Wakil Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan BRI menargetkan pertumbuhan kredit UMKM mencapai 80% pada 2022 dari 76% pada saat ini. Pihaknya melihat peluang besar pada UMKM untuk memperkuat costumer based BRI karena belum banyaknya perbankan yang bermain di ranah usaha kecil.

"Kita targetkan untuk go smaller dan go shorter untuk memperkuat customer based yang potensinya cukup besar. Akan tetapi, tantangannya memang operational cost-nya lebih tinggi dan bisa kita jawab dengan digitalisasi," tutur Sunarso.

Memperkuat customer based merupakan salah satu upaya yang ditempuh BBRI untuk menjadi the most valuable bank in south east adia dan home to the best talent pada 2020. Selain itu, BBRI akan meningkatkan kontribusi perusahaan anak.

Pada semester I 2019, BRI membukukan laba Rp16,2 triliun atau naik 8,2% (yoy). Adapun pertumbuhan kredit tercatat naik 11,8% ke angka Rp888 triliun (yoy).

Di lain pihak, Bank BTN mencatatkan diri sebagai bank dengan pertumbuhan aset tertingggi di antara 15 entitas bank terbesar lainnya di Indonesia.

Aset BTN tumbuh di level 16,58% (yoy) dari Rp268,04 pada semester I 2018 menjadi Rp312,7 triliun pada semester II 2019.

Selain itu, pertumbuhan aset BBTN berada di atas rata-rata industri perbankan nasional, yang berdasarkan data OJK, aset perbankan nasional hanya naik di level 7,77% yoy per Mei 2019.

"Perseroan akan tetap menjaga laju pertumbuhan bisnis sesuai dengan rencana bisnis bank hingga akhir 2019," kata Direktur Bank BTN, Nixon LP Napitupulu

Nixon melanjutkan, laju pada aset perseroan tersebut disumbang pergerakan positif pada penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).

"Kenaikan kredit dan DPK yang melaju tersebut menyumbang pergerakan positif pada aset kami. Ke depannya kami terus berupaya agar laju kenaikan aset tetap dibarengi dengan kualitas yang terjaga," tutur Nixon.

Pertumbuhan kredit BBTN pada semester I 2019 berada di posisi 18,78% (yoy) ke angka Rp251,04 triliun atau naik dari Rp211,35 triliun pada semester I 2018.

Garap infrastruktur

PT Bank Mandiri mencatat telah melakukan penyaluran kredit infrastruktur mencapai Rp203,4 triliun. Angka itu tumbuh 22,6% dari periode yang sama di 2018.

Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi memerinci perseroan telah menyalurkan kredit pada pembiayaan pembangunan infrastruktur di tujuh sektor. "Kami telah menyalurkan kredit pada sektor transportasi Rp39,6 triliun, tenaga listrik Rp43,9 triliun, migas dan energi terbarukan Rp37,2 triliun, dan konstruksi Rp17,2 triliun."

Mandiri juga menyalurkan kredit untuk infrastruktur tol Rp17,1 triliun, telematika Rp22,6 triliun, perumahan rakyat dan fasilitas kota Rp10,9 triliun, dan infrastruktur lain Rp14,7 triliun.

Sejalan dengan itu, BMRI mencatat adanya kenaikan penyalur-an kredit ke angka 12,1%. Di samping itu, NPL gross kuartal II 2019 berada di angka 2,6% atau turun dari 3,1% pada periode yang sama di 2018. (E-1)

BERITA TERKAIT