20 August 2019, 11:30 WIB

Kemenristekdikti Fokus pada Penelitian dan Pengabdian Masyarakat


Dero Iqbal Mahendra | Humaniora

ANTARA/Moch Asim
 ANTARA/Moch Asim
Pekerja memproses pembuatan cangkang kapsul saat peresmian "Teaching Industry" Cangkang Kapsul Berbasis Rumput Laut di Universitas Airlangga

KEMENTERIAN Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) kembali menekankan pentingnya dana untuk penelitian dan pengabdian masyarakat. Lantaran, saat ini, dana untuk penelitian dan pengabdian masyarakat belum menjadi prioritas dibandingkan dana untuk pendidikan.

Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti Ocky Karna Radjasa mengatakan pihaknya, saat ini, mengajukan beberapa perubahan guna memperbaiki kualitas penelitian di Indonesia.

Selain itu, dirinya juga menyebut bahwa perubahan dilakukan untuk menambah dana untuk biaya penelitian.

“Pertama, penelitian tidak hanya dari perguruan tinggi saja. Semua pihak termasuk swasta dan LSM, kita mungkinkan untuk melakukan penelitian. Kedua, penelitian boleh multisumber. Ketiga pendanaan multitahun bisa 3-5 tahun. Untuk yang multitahun ini ada jaminan diprioritaskan. Ini akan mendorong kolaborasi. Sementara untuk keterbatasan alat riset, Pak Menteri mendorong sinergi dalam konsorsium,” kata Ocky dalam keterangan pers, Selasa (20/8).

Baca juga: Kemenristekdikti Siap Fokuskan Riset dan Pengabdian Masyarakat

Terkait dana abadi riset, Ocky menyebut Kemenristekdikti masih membahas soal bentuk investasi dana tersebut. Dirinya menjamin keuntungan dari dana abadi tersebut akan diprioritaskan untuk riset nasional.

Sementara untuk pengabdian masyarakat, dirinya mengakui bila dananya masih lebih kecil peruntukannya dibandingkan dengan pendidikan dan penelitian. Ocky menyebut untuk memaksimalkan pengabdian masyarakat, pihaknya butuh dana sekitar Rp400 miliar.

“Kita antisipasi juga untuk dana abadi riset. Ini masih dibahas bentuk investasinya. Nanti keuntungan dari dana abadi salah satu prioritasnya untuk riset nasional,” tutur Ocky.

“Idealnya, Rp400 miliar itu pengabdian masyarakat baru ada dampaknya. Kalau kurang dari itu, kasihan teman-teman dosen,” lanjutnya.

Hal senada dikatakan Ketua Forum Rektor Indonesia Yos Johan Utama. Menurutnya, saat ini, banyak dosen yang enggan melanjutkan pendidikan menjadi profesor atau S3 karena tidak adanya dana penelitian bagi mereka.

Demi meningkatkan keinginan para dosennya untuk melanjutkan pendidikan, Rektor Universitas Diponegoro, Semarang tersebut pun membuat insentif pada mereka.

“Kami ada insentif (agar dosen mau kuliah lagi dan melakukan penelitian). Karena bila tidak, mereka mending mengajar tanpa risiko. Karena mereka ada separuh dosen senior sampai kita dibiayai mau kuliah tetap tidak mau,” kata Yos.

Tidak hanya itu, Yos juga menyebut bila alat penelitian yang ada di Indonesia banyak yang ketinggalan zaman. Karena itu, dirinya setuju ada regulasi yang mendorong agar para dosen mau belajar.

Namun, dia juga menegaskan bila regulasi tersebut jangan malah menjadi penghambat.

“Regulasi seharusnya bukan penghambat tapi progres, mendorong orang ke arah yang diharapkan pemerintah dalam membangun sumber daya manusia. Yang saya khawatirkan, kita tidak bisa buat regulasi yang adaptif untuk seluruh perguruan tinggi, jangan sampai (regulasi yang) Jakarta view. Menurut saya, kebijakannya harus bisa mempersatukan perbedaan,” tuturnya.

Direktur Eksekutif UI-CSGAR Rudiarto Sumarwono juga menegaskan bila penelitian saat ini belum menyentuh pada pasar. Selama ini, penelitian hanya sebatas publikasi dan pengetahuan saja dan belum bisa diterapkan untuk pasar.

Karenanya, Rudiarto mendukung keinginan Presiden Joko Widodo untuk melakukan penelitian pasar, agar bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan negara ke depan. Bagi Rudiarto, harus ada kesinambungan antara pasar dan perguruan tinggi dalam melakukan penelitian.

“Presiden ingin riset untuk pasar bukan hanya publikasi. Kita mau mendorong dukungan dari pasar untuk kepentingan riset di perguruan tinggi. Perguruan tinggi menyediakan peneliti tapi infrastrukturnya kurang sementara pasar, infrastrukturnya ada tapi penelitinya kurang,” paparnya

Rudiarto juga berpendapat, pengabdian masyarakat harus mendapat porsi yang besar ke depan. Baginya, saat ini pengabdian masyarakat sama pentingnya dengan penelitian dan pendidikan. Namun, alokasi dana untuk pengabdian masyarakat masih rendah.

“Jumlah pengabdian masyarakat itu angkanya rendah, dibandingkan penelitian dan pendidikan. Padahal zaman sekarang, sebetulnya pengabdian masyarakat sama pentingnya dgn penelitian dan pendidikan. Kita butuh lebih banyak lagi dorongan-dorongan untuk itu,” pungkasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT