19 August 2019, 23:30 WIB

Jerman-Hongaria Peringati Runtuhnya Tirai Besi


AFP/*/X-11 | Internasional

Sumber: AFP,
 Sumber: AFP, "Histoire du XXe siecle" by S. Bernstein and P. Milza
Momen runtuhnya sistem perbatasan Tirai Besi pada 1989.

PERDANA Menteri Hongaria, Viktor Orban, kemarin, menyambut Kanselir Jerman Angela Merkel di Kota Sopron, Hongaria, dalam rangka memperingati momen runtuhnya sistem perbatasan Tirai Besi pada 1989.

Kedua pemimpin itu secara pribadi lekat dengan peristi­wa 1989. Namun, sejak saat itu, Orban dan Merkel mengambil arah politik yang sangat berbeda.

Merkel yang tumbuh dalam komunisme Jerman Timur kemudian percaya akan pentingnya nilai-nilai liberal dalam politik dan ekonomi pasar bebas.

Sebaliknya, Orban yang dikenal sebagai pemimpin muda liberal pada 1989, melihat peristiwa tahun itu sebagai langkah awal negara-negara Eropa Timur membangun kembali kedaulatan nasional mereka.

Pertemuan Orban dan Mer­kel itu merupakan pertemuan langka dari dua orang yang selamat dari kekisruhan politik Eropa. Merkel menjabat sejak 2005 dan Orban sejak 2010.

Pertemuan bilateral terakhir mereka pada Juli 2018 ketika Orban melakukan kun­jungan pertamanya ke Berlin.
Pada 2015, Orban sempat mengkritik keputusan Merkel membuka perbatasan Jerman bagi mereka yang melarikan diri dari zona konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, Merkel juga pernah menuduh Orban gagal menghormati ‘kemanusiaan’ karena mengeluarkan kebijakan antimigran yang keras.
Sebelumnya, pada Sabtu (17/8), dalam siaran podcast mingguannya, Merkel menga­takan Jerman akan ‘selalu ber­syukur’ atas ‘kontribusi Hongaria selama ini dalam mewujudkan keajaiban persatuan Jerman’.

Di sisi lain, meskipun ada ketegangan politik antara ke­duanya, Hongaria dan Jerman menikmati hubungan ekonomi yang erat karena Jer­­man merupakan mitra dagang terbesar Hongaria dan sumber utama investasi asing, terutama dalam industri mobil Jerman.

Tembok Berlin

Pertemuan itu sekaligus menandai peringatan 30 tahun ‘Piknik Pan-Eropa’ di per­batasan Hongaria-Austria. Saat itu, setidaknya 600 orang Jerman Timur melintasi perbatasan dan melarikan diri ke Jerman Barat yang bebas.

Peristiwa tersebut merupakan eksodus besar-besaran pertama warga Jerman Timur sejak pembangunan Tembok Berlin pada 1961. Hal itu juga dipandang sebagai faktor kunci runtuhnya tembok tersebut tiga bulan kemudian.  (AFP/*/X-11)

BERITA TERKAIT