20 August 2019, 14:00 WIB

Ali Muharam Persembahkan Buku 'Ngehe' untuk Negeri


Tosiani | Weekend

MI/Ramdani
 MI/Ramdani
Kios Makarono Ngehe

PENDIRI Makaroni Ngehe, Ali Muharam, Senin (19/8) meluncurkan buku berjudul 'Ngehe', di Hotel Mulia, Jakarta Selatan. Bertepatan waktunya dengan momentum HUT Kemerdekaan RI tahun ini, buku tersebut ia persembahkan untuk negara ini, Indonesia.

Buku ini bercerita tentang perjalanan nasib yang dilalui Ali dari masa-masa sulit, hingga ia mencapai kesuksesan berbisnis camilan makaroni. Tidak hanya itu, sukses yang ia jalankan juga karena mendapatkan jalan mencapai tujuannya menjadi seorang penulis. Ali yang hanya lulus SMA, pernah menempuh hidup sulit dengan bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah warung tegal (warteg). Ia juga mengalami sakit hati karena diperlakukan buruk dan tidak digaji saat bekerja menjadi asisten seorang warga Kolombo.

Menjadi penulis adalah cita-citanya sejak lama. Namun sebelum menjadi penulis, ia memilih berjualan makaroni dulu karena profesi penulis belum bisa menghasilkan uang cukup banyak. Sementara ia juga perlu mematangkan diri untuk menghasilkan banyak uang. Ia juga dikejar waktu karena harus menghidupi keluarga dan memenuhi keinginannya untuk mandiri secara ekonomi sebelum masuk usia 30 tahun.

"Saya pilih jual makaroni karena ada ikatan emosi dengan almarhum ibu yang dulu sering menyajikan makaroni tiap lebaran. Kemudian banyak yang meniru membuat makaroni untuk bisnis. Ketika itu ibu saya menyesali mengapa tidak jualan makaroni. Saya ingin menjualnya untuk mewujudkan keinginan ibu jualan makaroni," tutur Ali, Senin (19/8).

Adapun nama 'ngehe' ia pilih karena melambangkan hidupnya yang sangat 'ngehe'. Kalimat 'ngehe' itu merupakan ungkapan kasar atas kekesalan diri untuk melecehkan orang lain. Dengan cara itu, Ali menggambarkan garis kehidupan penuh kesulitan yang pernah ia lalui. Ngehe juga merupakan kepanjangan dari motto hidupnya, yakni Nationalism, Giving, Enterpreneurship, Humanism, dan Environment.

Ia menambahkan, kekuatan dari buku ini menurut dia adalah mendeskripsikan emosi. Saat menulis ini ia kerap berlinang air mata. Bagian saat ibunya wafat sampai di skip berkali-kali. Ia banjir air mata saat menulis buku ini. (M-4)

BERITA TERKAIT