19 August 2019, 07:00 WIB

Menjadi Indonesia


Satia P Zen Penerima Beasiswa LPDP-Mahasiswa Program Doktoral di Tampere University, Finlandia | Opini

MI/Duta
 MI/Duta
Ilustrasi MI.

TANTANGAN terbesar dari realitas keberagaman di Indonesia ialah fakta semakin menurunnya kemampuan kita sebagai bangsa untuk mengelolanya. Keberagaman lebih sering dipandang sebagai ancaman dan bukan lagi ditimbang sebagai anugerah yang memperkaya.

Berbarengan dengannya, muncul kecenderungan untuk memurnikan budaya Indonesia dari yang ‘tidak dianggap Indonesia’. Sebagai sebuah bangsa, banyak dimensi identitas, seperti suku, agama, dan gender yang harus dinegosiasikan dalam konteks relasi budaya, kekuasaan, dan ekonomi.

Pendidikan ialah jalan terbaik bagi proses negosiasi berbagai dimensi identitas. Sayangnya, pendidikan yang menjadi bagian integral dari membangun identitas sebagai orang Indonesia, gagal menyediakan pengalaman agar anak-anak Indonesia dapat belajar mengelola keberagaman dengan segala kompleksitasnya.

 

Identitas dan imajinasi keindonesiaan

Menurut Yuval Noah Harrari (2018), ada tiga kerja besar sebuah bangsa dalam membangun, yaitu kerja ekonomi, kerja politik, dan kerja identitas. Kerja ekonomi dan kerja politik memiliki kejelasan area dan indikator, sedangkan kerja identitas tidak terlalu mudah dilihat.

Kerja identitas berada pada ruang abstrak, seperti budaya, pendidikan, estetis, dan metafisik. Salah satu wahana paling penting untuk memfasilitasi proses kerja identitas sejak dini ialah pendidikan. Sistem pendidikan--hingga saat ini--dianggap sebagai cara paling efektif dalam membentuk identitas warga negara sesuai visi negara tersebut.

Namun, selama ini pendidikan kita cenderung berkutat mengenai penguasaan fakta dan data objektif secara kognitif yang kemudian diujikan, sebagai bagian dari mekanisme akuntabilitas pendidikan publik yang berorientasi pada capaian kinerja yang sempit.

Maka itu, ada yang hilang dari proses ini, yaitu pengalaman belajar sebagai eksplorasi diri dalam wadah sosial dan budaya, baik sebagai individu maupun komunal. Akibatnya, pendidikan sebagai sebuah proses membentuk identitas yang memanusiakan dipersempit menjadi daftar capaian semata.

Contohnya, kebanyakan pelajaran mengenai budaya Indonesia masih berkutat pada apa yang dimiliki Indonesia yang dituangkan dalam butir-butir informasi mengenai suku, makanan, bangunan, pakaian, dan kesenian.

Di akhir pelajaran, siswa diuji lazimnya dalam bentuk pilihan ganda ataupun pertanyaan pendek. Namun, apakah mengenal Indonesia itu berarti menguasai di luar kepala fitur-fitur definitif dari ragam daerah dan suku di Indonesia? Apakah kemampuan menguasai fitur definitif budaya juga serta merta mewakili kualitas sebagai warga negara yang baik?

Mengenal dan menjadikan negeri tersebut sebagai bagian dari identitas merupakan sebuah proses naratif dan imaginatif. Ben Anderson mengatakan, sebuah bangsa dibentuk imajinasi dari sekelompok orang yang merasakan sebuah ikatan dan ini menjadi dasar narasi identitas sebuah bangsa.

Ikatan tersebut bisa ditimbulkan kesamaan budaya, sejarah, dan bahasa. Para pelopor bangsa Indonesia membangun narasi identitas ini serta mengukuhkan ikatan tersebut dan menumbuhkan rasa kebersamaan melalui Sumpah Pemuda (Tilaar: 2001).

Hal ini terjadi karena mereka tidak hanya mampu mengidentifikasi kesamaan yang ada, mereka juga memiliki kemampuan mengelola keberagaman, keterampilan dalam menegosiasikan perbedaan, dan mencapai kesepakatan melalui mufakat.

Namun, identitas ialah sebuah konsep yang dinamis. Secara metafora, identitas diibaratkan sebuah konstelasi yang memiliki inti, tapi elemennya bergerak seiring ruang otonomi dan agensi manusia yang berada pada ruang budaya, sejarah, dan kekuasaan (Hermans & Ryan: 2010).

Jadi, bagaimana identitas yang dinamis ini dapat dipertahankan?   Identitas dapat diekspresikan dan dibentuk melalui narasi, yang mana diri (self) membentuk jalan cerita, tapi juga dibentuk cerita itu sendiri (Ricouer: 1991) dan hal ini mensyaratkan proses refleksi. Di sinilah pendidikan menjadi bagian penting dari pembangunan sebagai proses dan wadah bagi kerja identitas bangsa yang berkelanjutan.

Sekolah menjadi konteks tempat anak-anak melakukan kerja identitas melalui sebuah proses pendidikan yang mendorong refleksi sebagai manusia Indonesia di tengah keberagamannya secara terus-menerus. Untuk itu, sekolah menjadi tempat penting yang mana keberagaman Indonesia harus bisa direpresentasikan agar dapat dialami dan membiasakan siswa belajar mengelolanya.

Lebih jauh lagi, jika anak-anak melakukan refleksi akan pengalaman tersebut serta merumuskan sendiri narasi mereka sebagai orang Indonesia dalam beragam ekspresi. Maka pada saat bersamaan, proses ini akan membentuk identitas keindonesiaan mereka. Namun, apakah sekolah kita masih menjadi cermin dari keberagaman Indonesia?

 

Laboratorium keberagaman

Sayangnya, yang terjadi saat ini ialah sekolah tidak lagi dapat menjadi tempat kerja identitas dapat dilakukan dalam ruang lingkup keberagaman. Saat ini sekolah-sekolah kita telah tersegregasi menjadi sekolah-sekolah yang melayani segmen masyarakat dengan karakteristik khusus.

Dulu segregasi diciptakan sistem penjajahan yang memerlukannya untuk melanggengkan dominasi kekuasaan. Namun, ketika Indonesia merdeka, segregasi ini terus dipelihara dan menjadi default dalam sistem pendidikan kita.

Mekanisme segregasi semakin kompleks saat ‘mode produktivitas’ menjadi asumsi dari pengelolaan pendidikan kita (Abrams: 2016). Contohnya, segregasi yang subtil menyangkut pengelompokan kelas berdasarkan kemampuan siswa, yaitu kebijakan kelas unggulan dan kelas biasa.

Pemisahan ini didasari asumsi adanya pencapaian target dalam waktu yang ditentukan sebagai indikator produktivitas belajar. Dengan asumsi ini diharapkan siswa dapat mencapai tujuan belajar dalam durasi waktu mata pelajaran tertentu sesuai standar yang ditetapkan. Siswa yang dianggap lambat akan menghambat siswa lain yang lebih cepat sehingga agar ‘produktivitas’ dapat dicapai, segregasi menjadi pilihan.

Seiring waktu, siswa terbiasa berinteraksi dengan siswa lain dengan tingkat kemampuan dan latar belakang sosial yang sama. Mode produktivitas tidak melihat adanya faktor lain, seperti latar belakang ekonomi dan budaya yang menyebabkan siswa belajar dengan ‘cepat’ atau ‘lambat’. Akibatnya, siswa yang terbiasa bergaul dan belajar dalam komunitas yang seragam tidak memiliki kesempatan mengalami perbedaan dan mengelolanya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mengurangi kompleksitas keberagaman dengan dalih ‘efisiensi dan efektivitas’ justru menghilangkan akses siswa terhadap pengalaman berharga dalam mengelola keragaman.

 

Imajinasi kebangsaan

Dampaknya bagi Indonesia ialah adanya generasi yang tumbuh dan mengalami Indonesia dengan makna yang berbeda-beda, sempit, dan terisolasi. Meskipun keragaman pengalaman dan cerita merupakan konsekuensi logis dari keragaman Indonesia, ikatan dan rasa kebersamaan telah pudar karena irisan narasi meng-Indonesia tidak lagi ada dalam proses pendidikan.

Segregasi pendidikan yang ada tidak mendukung proses naratif dalam membentuk identitas Indonesia yang merefleksikan keberagaman serta mendorong interaksi lintas kelompok. Padahal, sebuah imajinasi kolektif mesti dihidupkan dan dirawat, senantiasa diperbarui dan dialami bersama-sama.

Anak-anak dari generasi ini akan melihat adanya jarak antara imajinasi identitas Indonesia dan realitas keseharian mereka menjadi Indonesia. Bagi sebagian anak yang mengalami Indonesia dalam kepahitan impitan ekonomi dan kemiskinan, ada jurang lebar ekonomi dan sosial untuk membentuk identitas Indonesia. Sementara itu, bagi mereka yang menjadi korban konflik dan kekerasan, ada jurang kecurigaan terhadap institusi dan simbol Indonesia. Sebaliknya, ada sebagian anak yang mengalami Indonesia dalam ruang lingkup komunitas dengan kemampuan ekonomi dan sosial homogen yang minim kontradiksi. Mereka melihat Indonesia dari lensa satu warna, mengabaikan warna-warna lain, dan mudah terancam dengan apa yang berbeda.

Pendidikan sebagai wadah pembentukan identitas Indonesia melalui proses naratif mensyaratkan pengalaman dalam keberagaman. Dalam proses ini, diperlukan refleksi dan dialog serta kemauan untuk menjalani proses negosiasi setiap waktu. Proses ini menumbuhkan integritas dan berpikir kritis untuk tidak memilih jalan pintas. Misalnya, secara buta mengikuti tradisi ataupun tirani mayoritas. Dibutuhkan keberanian untuk mengekspresikan dalam tindakan juga ketekunan untuk menjalani prosesnya sepanjang hayat.

Dan yang terpenting, diperlukan keterbukaan dan kelapangan untuk menerima dan merayakan yang berbeda. Inilah kerja-kerja identitas penting yang harus menjadi bagian integral dari proses pendidikan kita.

Harapannya, di usia Indonesia yang ke-74 tahun, kita bisa belajar menjadi Indonesia; tanpa segregasi dan rasa takut.

BERITA TERKAIT