16 August 2019, 22:00 WIB

Jaga Bumi ala Peraih Kalpataru


Abdillah M Marzuqi | Weekend

MI/Abdillah M MArzuqi
 MI/Abdillah M MArzuqi
Wakil ketua II YKTI Sonny A Keraf (kanan) dan Kepala Balitbang KLHK Agus Justianto dalam Sarahsehan Kalpataru di JS Luwansa, Rabu (15/8).

Setiap orang bisa berkontribusi untuk menjaga lingkungan. Nah bagaimana bila para peraih kalpataru yang bertukar pikiran untuk melestarikan lingkungan? Itu yang terjadi dalam sarahsehan Kalpataru yang berlangsung di JS Luwansa, Jakarta, Rabu (15/8).

Sarasehan Kalpataru ini bagian dari Gerakan Jaga Bhumi yang diinisiasi Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) sejak 2017.  Sarahsehan ini melibatkan 100 peraih kalpataru dari tahun 2005-2019 yang mencakup kategori perintis lingkungan, pengabdi lingkungan, penyelamat lingkungan dan pembina lingkungan. Sarasehan Kalpataru merupakan wadah mempertemukan seluruh praktisi penyelamat lingkungan dari kerusakan untuk membangun kekuatan lebih besar lagi untuk menjaga lingkungan.

"Menjejaring yang pernah menerima penghargaan Kalpataru," ujar Wakil Ketua II YKRI Sonny A Keraf saat ditemui lokasi sarasehan.

Kehadiran wadah itu, menurut Sonny menarik karena para pejuang lingkungan peraih Kalpataru bisa berdiskusi dan bertukar pikiran. Mereka bisa saling membantu, mencari solusi atas permasalahan lingkungan. Mereka juga bisa saling berkoordinasi dan saling merawat semangat juang untuk perlindungan lingkungan hidup di Indonesia.

"YKRI percaya para peraih Kalpataru ini contoh nyata figur tauladan masyarakat asli Indonesia yang sarat dengan ilmu pengetahuan praktis dan pengalaman lapangan yang mumpuni. Karya nyata para peraih Kalpataru adalah aset pengetahuan yang harus senantiasa dilestarikan dan diturunkan kepada generasi selanjutnya." tambah Sonny.

Sebenarnya Gerakan Jaga Bhumi sudah ada tahun 2017 untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mencintai lingkungan dan menjaga bumi. Fokus utamanya adalah meningkatkan minat terhadap keberadaan Kebun Raya di Indonesia.

Gerakan Jaga Bumi berhasil membangun Kebun Raya Mangrove pertama di dunia yang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Surabaya pada periode pertama (2017-2018). Periode selanjutnya (2019-2020), YKRI mendorong agar Indonesia memiliki Kebun Raya Tanaman Obat (KRTO).

KRTO perlu dibangun mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman hayati nomor dua terbesar di dunia. Berdasarkan Riset Tumbuhan dan Jamu (Ristorja 2012-2017) oleh Kementerian Kesehatan RI, tercatat Indonesia memiliki sejumlah 6.000 hingga 7.500 tanaman obat. (M-3)

 

 

BERITA TERKAIT