16 August 2019, 16:55 WIB

Ditjen Bimas Hindu Apresiasi Pandu Nusa


Golda Eksa | HUT RI

ANTARA/JOJON
 ANTARA/JOJON
Festival Jagannath Ratha Yatra

DIREKTUR Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Hindu mendorong dan memberikan dukungan atas keberadaan Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara (Pandu Nusa) sebagai lembaga Hindu yang memperjuangkan dan menghimpun para guru agama Hindu di Indonesia.

"Saya sangat berkepentingan dengan Pandu Nusa. Organ ini strategis sekaligus sebagai ujung tombak dalam pengembangan pendidikan Hindu di Indonesia. Untuk itu, konsolidasi dan haluan organisasi harus jelas serta terarah," kata Dirjen Bimas Hindu Kemenag Ketut Widnya di sela-sela membuka acara Samiti Utama I (Rapat Kerja Nasional) Pandu Nusa di Denpasar, Minggu (14/7).

Ia mengatakan keberadaan organisasi ini ke depan dipandang sebagai organisasi yang strategis dalam mengontrol kebijakan pemerintah, khususnya dalam kebijakan pendidik Hindu.

Dirjen Hindu meminta melalui kegiatan Samiti Utama agar Pandu Nusa bisa merancang dan merumuskan program kerja yang rasional dan konkret.

Tantangan dan pekerjaan rumah Pandu Nusa selaku organisasi formal dan legal sangat besar dalam mengemban misi pendidikan Hindu. Tak semata-mata mendidik generasi Hindu, tapi juga memperjuangkan kesejahteraan para guru agama Hindu di Indonesia.

Konsolidasi, kata Widnya, menjadi agenda penting Pandu Nusa untuk mengondisikan para penggiat pendidik Hindu di Indonesia, terutama dalam pembentukan pengurus setiap daerah di Indonesia.

"Kalau mau jujur, sebenarnya pemerintah tidak tahu betul dan detail kebutuhan para guru di tiap daerah. Melalui Pandu Nusa, semoga bisa menyuarakan hal ini," kata mantan Ketua STAHN Gde Pudja Mataram ini. Secara kelembagaan, Ditjen Bimas Hindu siap memberikan dukungan dalam kegiatan Pandu Nusa secara nasional dan regional. Namun, dia meminta agar program kerja nasional bisa melahirkan program kerja yang matang dan memiliki orientasi yang jelas, baik dalam penguatan kapasitas kelembagaan hingga kebijakan strategis yang bisa dirumuskan dan disinergikan dengan Ditjen Bimas Hindu.

Sementara itu, Ketua Umum Pandu Nusa I Gusti Ngurah Dwaja menjelaskan, Pandu Nusa sebagai lembaga yang menghimpun para pengaja atau guru agama Hindu di berbagai tingkatan lembaga pendidikan di Indonesia, berharap bisa bekerja sama dan memperoleh dukungan pendanaan dari Ditjen Bimas Hindu dalam mengepakkan sayap organisasi secara nasional.

Sejak berdiri 2017, kata Ngurah Dwaja, pihaknya mengakui mengalami tantangan yang cukup besar, khususnya pendanaan organisasi hingga menyatukan persepsi para acarya di seluruh Indonesia.

Bahkan, untuk efisiensi dan efektivitas kegiatan, koordinasi dilakukan melalui media sosial. Mempertemukan para pengurus dari berbagai daerah di Indonesia sewaktu-waktu.

Momentum rapat kerja nasional perdana ini juga dimanfaatkan dari kegiatan peserta yang mengikuti Jambore Pasraman Nasional yang berlangsung di Bali sehingga bisa mengefektifkan operasional pengurus Pandu Nusa di daerah.

"Kami meminta agar Dirjen Bimas Hindu bisa memberikan dukungan, baik dalam pembinaan, pengawasan dukungan pengembangan SDM melalui workshop-workshop, khususnya untuk keberlangsungan lembaga ini ke depan," harapnya.

Rapat Kerja Nasional Pandu Nusa yang mengusung tema Menggiatkan acarya menguatkan pendidikan dan kebudayaan berlangsung hingga Senin (8/7). Kegiatan tersebut diikuti 28 pengurus wilayah di Indonesia. Selain membahas berbagai agenda terkait kelembagaan dan program kerja, pertemuan ini dimanfaatkan para pengurus dan anggota untuk berbagi pengalaman dalam pengembangan pendidikan Hindu dari berbagai daerah hingga simakrama (silaturahim) dengan para pengurus.

 

Ikuti festival

Di sisi lain, ribuan umat Hindu dari seluruh daerah di Nusantara dan dari mancanegara mengikuti rangkaian Festival Kereta & Sri Jagannatha Ratha Yatra Nusantara 2019 untuk mengingat dan menyebarkan karunia Tuhan (Sri Jagannatha), sekaligus berdoa demi kejayaan NKRI.

"Kami ingin bisa terus-menerus berkontribusi kepada bangsa, negara, dan agama. Dengan mendekatkan diri pada Sri Jagannatha atau Tuhan Penguasa Alam Semesta (Sri Krishna) melalui festival ini sehingga kita menjalankan dharma agama (kewajiban beragama) dan darma negara bisa seiring," kata Ketua Umum International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) Indonesia, I Wayan Subagio .

Festival yang dilaksanakan untuk ke-17 kalinya di 'Pulau Dewata' itu, menurut Subagio, merupakan momen spiritual yang penting untuk lebih dekat dan mengingat kebesaran Tuhan.

"Dalam pustaka suci Veda, kita diwajibkan untuk selalu ingat pada Beliau, caranya dengan memperbanyak melakukan ritual, kegiatan keagamaan, maka kita semakin dekat dengan Beliau. Imbas yang kita dapatkan, bersihnya hati dari pencemaran kehidupan material, bebas dari nafsu dan keinginan yang tidak positif yang dipengaruhi Rajasika dan Tamasika. Dengan demikian, membuat kita menjadi pribadi yang mandiri, suci, terhindarkan dan jauh dari adharma (perbuatan tidak baik)," ucapnya. (Ant/OL/RK/P-1)

BERITA TERKAIT