16 August 2019, 16:50 WIB

Ekspor Kertas ke Korsel Berpotensi Tumbuh


MI | HUT RI

Dok. Kemendag
 Dok. Kemendag
Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Iman Pambagyo, pada  (IK-CEPA) ke-8, (30/4) di Seoul, Korsel

KABAR gembira datang dari Korea Selatan (Korsel). Produk kertas yang tidak dilapisi (uncoated paper) asal Indonesia terbebas dari bea masuk antidumping (BMAD) Korea Selatan (Korsel). Putusan tersebut diumumkan Otoritas Korea Trade Commission (KTC) setelah melalui proses penyelidikan yang cukup panjang.

Penyelidikan antidumping uncoated paper dimulai sejak Oktober 2018. Saat itu, terdapat laporan dari para pelaku usaha setempat yang menduga produk impor itu memicu kerugian material terhadap industri di Korsel.

"Setelah penyelidikan selesai dilakukan, ternyata tidak ditemukan potensi kerugian terhadap industri kertas di Korsel sebagaimana diungkapkan pihak pengaju pemohon penyelidikan. Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korea Selatan pun menghentikan penyelidikan antidumping dan tidak menerapkan bea masuk untuk uncoated paper," ujar Direktur Pengamanan Per-dagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Pradnyawati kepada Media Indonesia, Kamis (15/8).

Dengan terlepasnya dari ancaman BMAD, nilai ekspor uncoated paper berpotensi terus tumbuh.

Data statistik Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indo-nesia ke Korsel untuk produk kertas yang diselidiki tercatat sebesar US$63,8 juta pada 2018.

Nilai tersebut mening-kat 131,53% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya US$27,6 juta.

Setelah terlepas dari jerat BMAD Korsel, pemerintah masih harus berusaha memenangi sengketa dengan Australia.

Indonesia kini sedang memonitor hasil akhir keputusan panelis Badan Penyelesaian Sengketa (dispute settlement body/DSB) WTO DS 529.

"Kertas kita memiliki harga dan kualitas yang sangat kompetitif. Itu dinilai mengganggu keberlangsungan industri kertas di negara tujuan ekspor yang memproduksi produk serupa.

Namun, berita baik dari Korea Selatan ini diharapkan dapat memicu eksportir ker-tas Indonesia untuk kembali berkompetisi dan terus mengembangkan ekspor mereka," tutur Pradnyawati.

Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag itu mengungkapkan produk kertas Indonesia memang kerap dijegal negara-negara tujuan ekspor, seperti Korsel dan Australia. Pasalnya, komodi-tas Tanah Air itu memiliki harga yang sangat kompetitif sehingga para pelaku usaha setempat begitu khawatir tidak mampu bersaing. (Pra/S2-25)

BERITA TERKAIT