16 August 2019, 14:20 WIB

Menuju Implementasi Era Industri 4.0


Media Indonesia | HUT RI

DOK TMMIN
 DOK TMMIN
Presiden RI Joko Widodo dan Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto ketika meninjau produk ekspor kendaraan utuh  pada tahun 2018.

INDUSTRI otomotif nasional Indonesia saat ini menjadi salah satu harapan besar pemerintah dalam meningkatkan devisa negara dengan cara meningkatkan volume produksi untuk ekspor. Karena itu, Kementerian Perin-dustrian menargetkan industri otomotif Indonesia mampu mengekspor satu juta unit mobil pada 2025.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono mengatakan ada beberapa faktor yang perlu digarisbawahi untuk mencapai target tersebut. Yang utama adalah menggenjot daya saing, baik untuk produk ekspor mau-pun supply chain pendukung-nya, mulai dari industri hulu (material/bahan baku) hingga industri hilir agar produk eks-por otomotif Indonesia bisa kompetitif di pasar global.

Warih mengungkapkan, saat ini TMMIN sedang menuju implementasi era industri 4.0, yakni industri dituntut untuk mengintegrasikan kemahiran digital dalam jalur manufaktur untuk meningkatkan produk-tivitas dan daya saing serta memerangi inefisiensi.

Beberapa contoh penerapan industri 4.0 di antaranya adalah mengubah perspektif manufaktur dari Preventive menjadi Predictive, terutama di sektor maintainance untuk mengurangi waktu downtime, dan menciptakan rantai pasok yang efisien dari pemasok hingga konsumen agar bentuk operasional yang optimum dapat tercapai.

Selain itu, meningkatkan kemampuan proses trace ability untuk mempercepat waktu tanggap saat hambatan/halang-an/cacat terjadi di salah satu proses sehingga ada jaminan kualitas tetap terjaga.

Yang tidak kalah penting adalah pengembangan kemam-puan sumber daya manusia (SDM), karena implementasi industri 4.0 bukan berarti mengurangi kebutuhan akan SDM, akan tetapi lebih kepada pengalihan kemampuan SDM industri.

Dari sisi SDM, menurut Warih, dibutuhkan pendalam-an pada skill-skill yang strate-gis dalam digitalisasi, seperti Internet of Things (IOT), Virtual Reality, Artificial Intelegence & Cloud Computing. “Ke depannya juga dibutuhkan peningkatan kemampuan menganalisa data (data analysis),” imbuhnya.

Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan kerja sama yang erat antara pemerintah, aka-demisi, dan industri untuk program-program berbentuk link & match, vokasi, pemagang-an, dan sertifikasi, seperti yang dilakukan oleh TMMIN saat ini.
 
juga harus kompetitif, karena regulasi menjadi salah satu faktor penentu iklim usaha. “Kami sangat yakin bahwa Pemerintah Indonesia telah berupaya untuk menelurkan regulasi-regulasi yang mendu-kung pertumbuhan industri termasuk otomotif.”

“Saat ini semua negara ingin menjadi negara industri. Ada tendensi proteksionis di beberapa negara dengan tujuan me-lindungi industri lokal. Regulasi di Indonesia diharapkan bisa kompetitif dibandingkan negara-negara lain terutama di kawasan ASEAN. Dengan regulasi yang kompetitif maka diharapkan dapat menarik investasi yang besar ke dalam negeri,” papar pria lulusan Teknik Kimia, Universitas Diponegoro Semarang ini.

Saat ini, Indonesia berada di era perubahan yang besar dari era kendaraan konvensional menuju kendaraan elektrifikasi. Mengikuti tren global, pemerintah Indonesia menetapkan produksi kendaraan roda empat emisi karbon rendah dan kendaraan listrik mencapai sekitar 20% dari total produksi nasional pada 2025.

“TMMIN selalu berupaya untuk mendukung program pe-merintah termasuk dalam pe-ngembangan kendaraan roda empat rendah emisi. Sebelum memasuki era elektrifikasi, saat ini produk-produk kami juga dilengkapi dengan teknologi fleksi engine, yang bisa dipergu-nakan untuk bahan bakar bio.” ungkap Warih.

Komitmen investasi
Menyoal kendaraan elektri-fikasi, lanjut Warih, pihaknya berkomitmen untuk bisa ber-peran aktif dalam menyajikan pilihan kendaraan tersebut sesuai dengan kebutuhan pe-langgan serta kondisi Indonesia baik berupa Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Electric Vehicle (PHEV), Battery Electric Vehicle (BEV), hingga Fuel-cell Electric Vehicle (FCEV).

Pria kelahiran 11 Juni 1963 ini menambahkan bahwa Industri otomotif Indonesia juga harus melihat potensi ini sehingga bisa mengisi pasar global tanpa meniggalkan kebutuhan pasar domestik.

“Kami bertekad, perubahan teknologi (dari konvensional menuju elektrifikasi) tidak me-nyurutkan peran serta Toyota dalam pengembangan industri otomotif nasional, salah sa-tunya Toyota berencana untuk mulai memproduksi kendaraan elektrifikasi di tahun 2022,” tegasnya.

Untuk melaksanakan hal itu, Toyota grup berkomitmen untuk menanamkan investasi sebesar Rp28,3 triliun untuk 5 tahun ke depan, di antaranya untuk pengembangan kenda-raan elektrifikasi.

Warih juga menekankan, walaupun terjadi perubahan teknologi dari konvensional menuju elektrifikasi, struktur industri harus tetap kuat. An-tara lain, melalui tingkat kan-dungan dalam negeri sama seperti industri kendaraan konvensional saat ini sehingga industri otomotif indonesia tidak mengalami deindustriali-sasi. (Cdx/S1-25)

 

BERITA TERKAIT