16 August 2019, 13:37 WIB

Mengubah Sampah Menjadi Rupiah


Media Indonesia | HUT RI

DOK. Karang Taruna Kelurahan Pematang Pudu, Mandau, Bengkalis
 DOK. Karang Taruna Kelurahan Pematang Pudu, Mandau, Bengkalis
Salah satu warga yang memanfaatkan Bank Sampah

SAMPAH tak selamanya identik dengan masalah. Melalui pemanfaatan dan pengolahan yang baik, sampah dapat ber-nilai ekonomis. Seperti yang dilakukan Karang Taruna Kelurahan Pematang Pudu, Mandau, Bengkalis, lewat pembentukan Bank Sampah Pematang Pudu Bersih (BS PPB).

Sejak dibentuk 1 Desember 2015, Bank Sampah Pematang Pudu Bersih berkembang pe-sat. Saat ini, mereka memiliki ratusan nasabah, mulai dari pelajar, masyarakat umum, hingga instansi swasta dan pe-merintah. Setiap harinya, BS PPB menerima sekitar 250 - 300 kg sampah. Untuk mengelola sampah yang terkumpul, BS PPB bahkan sudah memiliki mobil pengangkut sampah.

Ide awal pembentukan bank sampah ini berawal dari sebuah keinginan sederhana: membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan tempat tinggal dan bergotong-royong membersihkan lingkungan dari sampah.

Dari sanalah kemudian timbul pemikiran untuk mendirikan bank sampah, yang tidak hanya bermanfaat dalam penanganan sampah, tapi juga memberikan hasil ekonomi bagi masyarakat.

“Masyarakat diajarkan bagaimana memilah sampah or-ganik dan non-organik sebelum disetorkan ke bank sampah. Secara rutin, para relawan BS PPB juga melakukan sosialisasi dan pelatihan tentang cara me-ngelola sampah,” jelas Lambas Hutabarat, Manager Operasio-nal BS PPB.

Cara kerja bank sampah adalah dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya sampah non-organik, seperti botol plastik, tas plastik, kaleng dan produk-produk sintetis lainnya, untuk dimanfaatkan menjadi produk-produk kerajinan daur ulang atau bisa juga dijual kepada pengepul sampah, salah satunya Asosiasi Pengusaha Daur Ulang Plastik Indonesia (APDUPI) Wilayah Riau.

Setiap nasabah memiliki buku tabungan untuk mencatat jumlah sampah yang disetorkan ke bank sampah.

“Ada yang langsung menukarkannya dalam bentuk uang, dari sampah yang mereka antar ke kantor BS PPB. Ada juga yang menabungnya dulu, lalu mencairkan tabungannya ketika sudah membutuhkan,” kata Lambas.

Tabungan bank sampah ter-diri dari beberapa jenis yakni, Tabungan Reguler, Tabungan THR, Tabungan Pendidikan dan Tabungan Sosial. Para nasabah bebas memilih jenis tabungan sesuai kebutuhan masing-masing.

Untuk nasabah Tabungan Reguler, misalnya, mereka da-pat mengambil tabungannya sewaktu-waktu ketika membutuhkan. Sedangkan untuk Tabungan THR dan Tabungan Pendidikan, nasabah ha-nya bisa mencairkannya saat periode tertentu, dan hanya sekali dalam setahun, yakni menjelang lebaran dan tahun ajaran baru.

“Sementara untuk Tabungan Sosial, nasabah tidak mengambil nilai tukar uang-nya. Nasabah memberikan uangnya untuk kegiatan sosial bank sampah,” tutur Lambas.

Perkembangan pesat BS PPB tidak lepas dari pendam-pingan yang diberikan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KE-HATI) dan Yayasan Kreatif Usaha Mandiri Alami (KU-MALA). Kedua lembaga tersebut merupakan mitra pelak-sana yang digandeng oleh PT. Chevron Pacific Indonesia dan didukung oleh SKK Migas untuk menjalankan program bank sampah.

Dalam program bank sampah, Chevron menyediakan dana bergulir untuk pengadaan alat- alat pengolahan sampah dan biaya pelatihan bagi masyarakat untuk menyulap sampah non organik menjadi berbagai produk rumah tangga yang kreatif.

Hasilnya, sampah non organik yang dikumpulkan warga berhasil 'disulap' menjadi kerajian daur ulang yang menarik, seperti tas, dompet, tempat sepatu, tempat helm, bunga, serta produk -produk untuk dekorasi rumah lainnya.

“Alhamdulillah, produk-produk nasabah kami banyak diminati konsumen,” kata Lambas. (OL--09)

BERITA TERKAIT