16 August 2019, 13:21 WIB

Kemitraan Mendorong Kemandirian Petani Sawit


Media Indonesia | HUT RI

Dok. Kementan
 Dok. Kementan
Jumadi, petani hidroponik

TINGGINYA permintaan produk kelapa sawit dan turunannya, serta ketentuan terhadap praktik pengelolaan yang berkelanjutan oleh pasar nasional dan internasional saat ini mendorong pelaku usaha termasuk perusahaan dan petani kelapa sawit untuk terus berbenah agar mampu bersaing di pasar internasional.

Pengembangan kelapa sawit di Indonesia sampai saat ini telah memberikan peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Dengan komposisi kepemilikan dan pengelolaan yang 40% diusahakan petani rakyat, dari total luas kelapa sawit Indonesia yang mencapai 14 juta hektare, terlihat jelas peran petani sawit terhadap pasokan dalam negeri.

Bagi petani yang masuk kelompok tani plasma atau yang bermitra dengan perusahaan sawit, pergerakan harga tandan buah segar (TBS) tidak menjadi beban yang dipikul sendiri, karena pola kerja sama dengan perusahaan dalam skema intiplasma mengatur mekanisme penentuan harga TBS yang melibatkan unsur pemerintah, petani, pelaku usaha, dan media.

Namun tidak demikian dengan petani perorangan atau swadaya yang masih mengurus kebun dan menjual TBS-nya secara masing-masing atau tidak menjalin hubungan kemitraan. Turun naiknya harga tandan buah segar saat ini menjadi permasalahan utama yang dihadapi para pekebun khususnya petani sawit swadaya akibat lemahnya posisi tawar.

Guna mendapatkan harga sawit yang wajar di tingkat pekebun sawit swadaya, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian No 01 Tahun 2018 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Produksi Pekebun.

Aturan itu mengamanatkan agar pekebun sawit swadaya yang terdapat dalam 1 (satu) hamparan membentuk kelembagaan pekebun swadaya untuk selanjutnya dimitrakan dengan pabrik kelapa sawit (PKS) terdekat. Kementerian Pertanian Republik Indonesia menegaskan dukungan pemerintah dalam penerapan praktik agronomi berkelanjutan melalui kemitraan petani dan perusahaan sebagai pendamping.

"Kemitraan ini harus dituangkan dalam Perjanjian kerja sama dibuat secara tertulis dan disaksikan instansi pembina terkait," tutur Kepala Seksi Pemasaran Domestik, Ditjen Perkebunan, Elvy.

Sistem yang baik perlu dibangun dalam proses bisnis antara koperasi plasma dan perusahaan intinya, atau bagi koperasi swadaya (belum bermitra) juga perlu didorong untuk bermitra dengan perusahaan inti agar koperasi tidak lagi menjual TBS kepada tengkulak.

Dengan demikian, pekebun dapat memperoleh harga TBS yang wajar. Kemitraan ini juga penting karena berimplikasi kepada kualitas dari kegiatan peremajaan sawit yang dilakukan koperasi.

Kemitraan antara perusahaan dan petani tidak hanya sebatas kepentingan penjual dan pembeli, namun dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani selaku mitra.Umumnya perusahaan mitra akan melaksanakan pendampingan dan praktik-praktik berkelanjutan agar diterapkan para petani di kebun milik mereka sendiri.

Supervisi tersebut antara lain pengetahuan untuk budi daya tanaman produktif lain di luar sawit, untuk tambahan ekonomi petani dan mengolah perkebunan yang bertanggung jawab.

Di luar itu, petani swadaya yang tergabung pada kelompok-kelompok koperasi, bisa membangun usaha baru dari inovasi, baik untuk meningkatkan  produktivitas kebun kelapa sawit, maupun menciptakan peluang bisnis baru.

Kemitraan membuka akses petani untuk memperoleh bibit unggul, memanfaatkan peralatan modern, hingga fasilitas permodalan, yang membuat petani lebih mandiri pada masa peremajaan tanaman sawit dengan menghasilkan pendapatan alternatif. Perjalanan panjang pendampingan dengan perusa-haan mitra membuahkan hasil pada Sukiman, petani sawit di Riau.

Anggota Asosiasi Berkah Makmur Bersama ini berhasil meningkatkan produktivitas kebunnya sebesar 30%, seba-gai hasil dari cara pemupukan yang tepat.

"Per 10 hari bisa panen 1,8 ton, 2 ton, hingga 2,2 ton. Jika dihitung rata-rata panen se-besar 2 ton per 10 hari. Jika sebulan, katakanlah 6 ton per 2 ha," cerita petani mitra Asian Agri ini.

Bersama kawan-kawannya, Ia juga memanfaatkan janjangan kosong atau tandan kosong,yaitu limbah padat yang dihasilkan pabrik kelapa sawit pada proses pengelolaan tandan buah sawit menjadi minyak kelapa sawit (CPO), untuk dapat digunakan sebagai pupuk organik (kompos) bagi tanaman petani.

"Kami bisa minta ke pabrik mitra dengan membawa truk sendiri dan tidak dipungut biaya," ujarnya.

Kini, Sukiman sudah mulai merengkuh hasil positif usahanya. Dia telah memiliki angkutan colt diesel sebagai alat angkut tandan buah segar (TBS).

Dari peningkatan panen sawit serta usaha hasil pengolahan, dirinya juga telah menghasilkan keuntungan untuk menjalankan pengembangan ternak sapi yang terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit.

"Ada 36 ekor sapi Bali yang saya urus sendiri sejak 2010," ungkap dia.

Hidroponik, solusi alternatif

Menjalin kemitraan dengan perusahaan dan pemerintah daerah untuk memajukan usaha dan menangkap peluang ekonomi juga dirasakan Jumadi.

Dia berhasil membudidayakan hidroponik menjadi solusi ekonomi alternatif petani sawit. Mengembangkan diri untuk menciptakan alternatif ekonomi dari berbagai tanaman dia perlukan terutama ketika sedang masa peremajaan sawit.

Dengan kemitraan pendampingan dan pembinaan, kini budi daya hidroponik Jumadi menjadi bisnis yang berkembang.Sayur yang mereka hasilkan dari green house tempat penanaman di samping rumah kini mereka pasarkan melalui dinas ketahanan pangan setempat.

Ilmu tanam-menanam dengan cara hidroponik juga mereka teruskan ke sesama petani lewat berbagai penyuluhan.

"Pada awalnya kami menekuni hidroponik ini karena saya lebih suka cara perawatannya yang mudah hanya dengan media tanam air. Hasil panennya pun bisa dikonsumsi dan dijual. Cara pengembangan seperti ini, kami sebarluaskan melalui audiensi agar masyarakat juga tahu cara budidaya sayur bayam, sawi, hingga pakcoi," kata Jumadi. (Try/S1-25)

 

BERITA TERKAIT