16 August 2019, 11:32 WIB

IPW Desak Polri Usut Pembakaran Terhadap 4 Polisi di Cianjur


M. Iqbal Al Machmudi | Politik dan Hukum

 Medcom.id
  Medcom.id
Ilustrasi -- Anggota polisi terbakar saat aksi demonstrasi di Cianjur, Jawa Barat.

INDONESIA Police Watch (IPW) mengecam keras aksi terbakarnya empat anggota polisi dalam aksi demo di Cianjur, Jawa Barat. IPW mendesak Polri untuk mengusut tuntas kasus ini agar pelakunya dihukum berat dan ditelusuri apakah ada kelompok teroris ikut bermain dalam aksi demo tersebut.

Ketua Presedium IPW, Neta S Pane, mengatakan dalam beberapa aksi demo yang berujung bentrok sering kali polisi luka akibat dilempari batu dan kayu oleh pendemo, bahkan pernah beberapa kali polisi dilempari molotov.

Selama itu pula belum pernah terjadi polisi terbakar tubuhnya akibat dilempari pendemo dengan molotov, paling hanya terkena percikan api dari molotov yang dilemparkan pendemi tersebut dan segera bisa diatasi polisi itu bersama polisi lain.

"Jadi, apa yang terjadi di Cianjur dimana ada empat polisi menderita luka bakar 30 sampai 50 persen saat mengendalikan aksi demo adalah sebuah peristiwa yang sangat memprihatikan dan tidak bisa ditolerir," kata Neta saat dikonfirmasi, Jumat (16/8).

IPW sendiri mengecam keras peristiwa pembakaran hidup-hidup anggota polisi tersebut dan mendesak polisi segera mengusut tuntas kasus ini dan menuntut pelaku dan otak pelakunya dihukum seberat beratnya. Selain itu kordinator aksi demonya harus segera ditangkap dan dihukum berat.

"Melihat kronologisnya, IPW menilai aksi penyerangan dan pembakaran anggota polisi di depan umum itu sudah terencana dan terstruktur," ujar Neta.

Bukan tanpa alasan, Neta melihat dari adanya demonstran yang membawa bahan bakar minyak dalam aksi tersebut. Selain itu, saat sejumlah polisi berusaha memadamkan kobaran api dari ban bekas yang dibakar pendemo.

Saat itulah pendemo lain melemparkan bahan bakar minyak ke arah dan tubuh aparat kepolisian tersebut hingga 4 polisi tubuhnya terbakar parah.

"Dari situ terlihat bahwa upaya membakar polisi itu sudah terencana matang dan terstruktur. Ada yang membakar ban, ada yang membawa minyak dan ada yang melemparkan bahan bakar minyak ke tubuh polisi hingga tubuh empat polisi terbakar parah," jelas Neta.

Menurut Neta selama ini yang menjadi musuh besar polisi adalah para teroris dan kelompok radikal, yang nyata dan berani menyerang dan membunuh anggota polisi secara terbuka di depan umum.

Dengan adanya kasus Cianjur ini, musuh besar polisi bertambah satu lagi, yakni kelompok demonstran radikal yang berani menyerang dan membakar polisi di depan umum.

Neta menilai bahwa kasus Cianjur yang terjadi merupakan fenomena baru dan ancaman baru bagi jajaran kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Jajaran kepolisian harus mengusut dengan intensif kasus pembakaran anggota polisi di Cianjur.

"penyerangan dengan cara membakar anggota polisi di depan umun itu murni atas inisiatif dan dilakukan massa demonstran semata atau ada penyusupan kelompok teroris atau kelompok radikal dalam aksi demo tersebut," jelasnya.

"Pertanyaan ini patut dilontarkan karena ada sejumlah orang yang membawa bahan bakar minyak dalam aksi demo itu," imbuhnya.

"Untuk itu polri harus mengusut tuntas kasus ini agar para pelaku dan otak penyerangan ini bisa dihukum seberat beratnya," tutupnya.

Sebelumnya, tersebar sebuah video yang memperlihatkan banyak orang yang sedang melakukan demonstrasi ditengah kerumunan tiba-tiba muncul kobaran api yang menjalar ke salah satu anggota polisi. Anggota polisi yang terbakar itu pun sempat disiram air oleh sejumlah orang. Api juga menjalar tiga polisi lainya. (OL-09)

BERITA TERKAIT