16 August 2019, 10:46 WIB

Masyarakat Inovatif yang Mandiri


Media Indonesia | HUT RI

Dok. Kementan
 Dok. Kementan
Zulkatab, warga Desa Tambak, Provinsi Riau

TIDAK pernah terpikirkan sebelumnya oleh Zulkatab, warga Desa Tambak, Provinsi Riau untuk memanen uang dari budi daya madu kelulut, yang akhirnya menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Madu kelulut, mungkin saja masih terasa asing di sebagian telinga masyarakat. Namun, di tangan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Tambak, usaha budidaya madu ini mampu berkembang pesat. "Semakin ke sini, ternak-madu kelulut semakin berkembang. Kita perlu menciptakan lapangan kerja.

Kita memikirkan nasib orang-orang kecil," kata Zulkatab mengawali kisah sukses usaha bersama kawan-kawannya. Bermukim di wilayah yang rawan akan bencana asap akibat kebakaran lahan, dia bersama 9 orang rekan yang peduli dengan masalah api membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) di tahun 2015.

Berangkat dari kepedulian dan misi sukarela, Zulkatab dan teman-temannya dalam MPA melakukan patroli mencegah dan memadamkan api sebagai gerakan sosial anggota masyarakat. Kepedulian akan alam dan insiatif yang mereka lakukan akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah desa, yang kemudian memfasilitasi para anggota MPA dalam kegiatan-rutinnya.

Pertemuan timnya dengan lebah trigona penghasil madu kelulut ini juga tidak biasa, yaitu saat mereka kehausan dan kehabisan air ketika se-dang memadamkan api di hutan, saat terjadi bencana kebakaran di perbatasan Desa Tambak dan Segati , Riau, ta-hun 2018 lalu.

"Kayu yang kami temukan terdapat kantung madu trigona dan kami minum untuk melepas haus," cerita Zulkatab.

Lalu tercetus ide untuk mengembangbiakan lebah-lebah tersebut. Inisiatif itu mereka bawa ke dinas lingkungan hidup provinsi, yang kemudian mengirim pembina yang mengajarkan cara pengembangbiakan lebah. Percobaan pertama selama satu bulan pada 20 log kayu berisi koloni lebah trigona gagal dibudidayakan.

Zulkatab kemudian mencoba lagi bersama para rekan MPA membeli 10 kotak log kayu bibit lebah untuk dikarantina.

Kegigihan mereka membuahkan hasil, setelah 9 bulan masa pengembangan, panen pertama menghasilkan 1 kg madu.Ketika sudah sekali panen, maka untuk panen madu berikutnya kurang dari satu bulan. Total sejak awal budidaya madu kelulut yang sudah dipanen sebanyak 22 kg.

Tidak main-main, harga jual madu ini Rp 400 ribu per kilogram karena khasiat ke-sehatannya. Hasil madu ini pun telah diserap oleh perusahaan yang menjalin kemitraan dengan mereka dalam hal fasilitas alat budidaya dan pembinaan.

Meski begitu, Zulkatab tetap menyisakan sebagian madu bila ada tetangga dia yang butuh untuk membelinya, tentu dengan harga yang lebih bersahabat, yaitu Rp 100 ribu untuk 3 ons madu.

Dia pun memberdayakan penduduk Desa Tambak yang tidak memiliki pekerjaan tetap untuk secara rutin membantunya, menemukan sarang lebah trigona dengan upah Rp 100 ribu per sarang. Kemitraan kini juga terjalin dengan pemerintah daerah yang membantu anggaran usaha 20 log benih lebah atau setara Rp 20 juta.

Pendekatan ekonomi antar masyarakat juga dilakukan Zulkatab kepada petani tebu untuk memasok makanan bagi lebah budidaya MPA selama musim kemarau ini.

"Sampai sekarang kami memiliki 50 log kotak budidaya lebah yang berhasil. Mulai terbantu ekonomi anggota. Kami tidak sekadar melakukan pendekatan ekonomi. MPA juga membina kelompok tani Desa Tambak Mandiri," urai Zulkatab.

MPA juga membina masyarakat desa untuk mengolah kayu rotan menjadi hasil kerajinan tangan. Sebanyak 20 orang dikerahkan untuk mengkreasikan rotan menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi, seperti piring, keranjang beras, ayunan, cindera mata dan lainnya. Niat mulia untuk menciptakan sumber daya manusia yang lebih baik juga dilakukan generasi kedua petani plasma, Erik Widirianto.

Seperti kacang tak lupa kulit, pria asal Lumajang, Jawa Timur, kembali ke desa tempat dia tumbuh besar di Riau, untuk membangun sekolah setingkat SMP, yaitu MTs, Madrasah Tsanawiyah di Kampung Kumbara Utama, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak.

Dia tidak ingin anak-anak generasi kini harus berjalan kaki sejauh 5 km untuk ke sekolah seperti dia waktu kecil.

Orang tua Erik dahulu ikut dalam program transmigrasi untuk mengelola kebun sawit di kawasan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Siak.Berkat hasil perkebunan yang terus meningkat, Erik mampu mendapatkan pen-didikan hingga lulus kuliah. Pada tahun 2012, ayahnya 'berpulang'.

Ia pun meneruskan usaha perkebunan sawitnya, sebagai penghasilan pokok bagi keluarga. Dia berhasil meluaskan kebunnya dari 11 kavling menjadi 32 kavling atau setara 64 hektare.

"Pagi saya berkebun, siang saya mengajar," cerita Erik.

Sertifikasi ISPO

Berbagai terobosan muncul dari para petani sawit yang membuka wawasannya lebih dari sekedar pekebun sawit.

Meski demikian, petani sawit yang sukses seyogyanya tidak mengabaikan kewajiban dan tanggungjawab mendukung industri sawit di negeri ini. Meningkatkan mutu hasil produksi, salah satunya juga bisa dilakukan dengan melengkapi sertifikat kualitas pengelolaan kebun.

Pada tahun 2017, Sustainable Palm Oil Initiative (SPOI), kemitraan antara UNDP Indonesia dan Kementerian Pertanian, mulai mendukung para pekebun kelapa sawit dari Koperasi Bukit Potalo di Pelalawan, Riau.

Pekebun-pekebun ini menerima pelatihan dan pendampingan untuk memastikan mereka memenuhi prinsip dan kriteria ISPO, dan untuk membantu memperkuat koperasi itu sendiri.

Para petani menerima pelati-han tentang praktik pertanian yang baik (Good Agriculture Practices), masalah hukum dan hak atas tanah, manajemen lingkungan, manajemen dan pembiayaan organisasi, dan sertifikasi ISPO. Pada 2018, para petani ini kemudian menjalani audit ISPO dan me-nerima sertifi kasi ISPO pada Desember 2018.

"Kita melengkapi jaminan mutu pada kebun sawit petani Bukit Potalo dengan sertifikat (Indonesia Sustainable Palm Oil/ISPO) pada tahun 2017 lalu," ujar Atan ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Bukit Potalo Desa Ukui Dua Kabupaten Pelalawan, Riau.

Sertifi kat tersebut, kata dia menjadi jaminan bahwa kebun sawitnya tidak merusak lingkungan dan berkelanjutan. Koperasi Bukit Potalo merupakan bagian dari rantai pasok Asian Agri. Mereka dibina, diberi arahan dan dibimbing mengenai cara pemupukan dan panen yang bagus.

"Hasilnya memadai. Dengan memiliki ISPO ini, kegiatan kita diperhatikan, dari yang panen sembarangan, kini diatur, diawasi sehingga tidak merusak lingkungan, dan kegiatannya bertanggung jawab," tukas Atan.

Pakar pertanian Universitas Gajah Mada Gembong Danudiningrat mengatakan untuk memajukan sumber daya manusia, kemitraan petani plasma dengan perusahaan dan juga pemerintah daerah sangat diperlukan.

Petani diberi motivasi untuk terus menempa diri membuat usaha di luar kegiatan pokok mereka, baik mengembangkan peternakan, pertanian maupun pengolahan hasil, termasuk limbah. Kemitraan juga membuka akses petani untuk menuntut ilmu yang lebih lagi, bertemu pakar, serta belajar menjadi mandiri dan unggul.

Tujuannya agar petani mampu meningkatkan panen maupun hasil ekonomi produktif lainnya, yang diciptakan bahkan di lahan sempit dan menggunakan alternatif pendukung yang lebih terjangkau dari sekitar.

"Biasanya petani selama satu bulan kita didik, untuk membuat usaha sendiri baik di dunia peternakan pertanian maupun pengolahan hasil. Usaha petani bisa berkembang juga salah satunya karena kepedulian perusahaan mitra untuk mencerdaskan petani dalam meraih kehidupan dan penghidupan," tukas Gembong. (Try/S1-25)

BERITA TERKAIT