16 August 2019, 10:06 WIB

Kemenkes akan Teliti Kandungan Bajakah Untuk Kanker


Indriyani Astuti | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Dua siswa SMAN 2 Palangka Raya bersama guru pembimbing (tengah) menemukan tanaman bajakah yang diklaim bisa menyembuhkan kanker. 

BEBERAPA hari terakhir beredar informasi di media sosial dan media massa tentang tanaman bajakah di Kalimantan Tengah yang dikabarkan dapat menyembuhkan kanker payudara. Kementerian Kesehatan akan melakukan penelusuran tanaman bajakah yang telah diteliti oleh dua pelajar SMA di Palangka Raya, Kalimantan Tengah itu.

Kepala Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, Akhmad Saikhu mengatakan Bajakah merupakan sebutan bagi batang menjalar yang menjadi bagian dari tanaman. Istilah tanaman bajakah belum merujuk pada jenis spesies tertentu.

Meskipun demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung percaya terhadap klaim bajakah bisa menyembuhkan penyakit kanker karena masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

"Penyembuhan kanker secara kuratif harus melalui penegakkan diagnosis dokter. Penggunaan obat tradisional atau jamu untuk menguatkan daya tahan tubuh boleh saja. Namun tidak bisa dikatakan itu menyembuhkan kanker," jelas Saikhu di Jakarta, pada Kamis (15/8) malam.

Ia menuturkan Indonesia memiliki hutan tropika terbesar kedua di dunia yang menyimpan potensi tumbuhan berkhasiat untuk kesehatan, salah satunya untuk pengobatan kanker. Melalui Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) membangun database pengetahuan etnofarmakologi, ramuan obat tradisional, dan tumbuhan obat di Indonesia.

Ristoja telah dilakukan pada 405 etnis di 34 provinsi di Indonesia pada 2012, 2015 dan 2017 dan melibatkan 2.170 peneliti serta 2.354 pengobat tradisional. Upaya itu telah berhasil mengidentifikasi 2.848 spesies tumbuhan obat dan 32.014 ramuan.

Dipaparkannya ada 74 kelompok kegunaan ramuan yang berhasil tercatat dari Ristoja. Selain itu, terdapat 10 keluhan atau penyakit terbanyak yang ditemukan dalam riset tersebut, yaitu demam, sakit perut, sakit kulit, luka terbuka, mencret, batuk, tumor atau kanker, darah tinggi, kencing manis dan cidera tulang.

Menurut Akhmad Saikhu pada 2012, Ristoja berhasil menginventarisasi sebanyak 506 ramuan jamu sebagai bagian dati pengobatan tumor dan kanker yang menggunakan tumbuhan obat tertentu. Ia menyontohkan tumbuhan Malapari di Bengkulu yang memiliki nama latin Pongamia pinnata dan alang-alang (Imperata cylindrica (L.)Raeusch.) di Sulawesi Tengah, serta samama (Anthocephalus chinensis (Lam.) Rich.ex Walp.) di Maluku Utara.

Pada 2015, Ristoja juga mendapatkan informasi tumbuhan obat yang digunakan dalam ramuan untuk tumor/kanker yaitu Curcuma longa L., Annona muricata L., Morinda citrifolia L., Piper betle L., Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees, Scurrula ferruginea (Jack) Danser, Curcuma zanthorrhiza Roxb., dan Scurrula atropurpurea (Blume) Danser.

Ristoja yang dilakukan pada 2017 untuk menemukan tumbuhan obat yang berpotensi untuk mengatasi kanker. Tercatat ada 223 ramuan yang bisa digunakan sebagai bagian pengobatan kanker yang terdiri atas 244 tumbuhan obat. Sepuluh jenis tumbuhan obat yang paling banyak dimanfaatkan untuk pengobatan tumor atau kanker temuan Ristoja 2017 yaitu Curcuma longa L., Annona muricata L., Zingiber officinale Roscoe, Areca catechu L. , Allium cepa L. , Allium sativum L., Callicarpa longifolia Lam., Mimosa pudica L., Alstonia scholaris (L.) R. Br., dan Blumea balsamifera (L.) DC.

Jamu atau obat tradisional digunakan berdasarkan konsep kepercayaan secara turun temurun yang diwariskan dari satu generasi ke generasi. Namun, Ia mengingatkan bahwa penggunaan secara empiris belum bisa digunakan sebagai acuan dalam pemanfaatan tumbuhan obat atau jamu secara luas di masyarakat.

"Untuk itu, Badan Litbangkes melalui program Saintifikasi Jamu melakukan pembuktian secara ilmiah khasiat berbagai tanaman obat ini," tuturnya.

Tumbuhan obat dan jamu untuk dapat digunakan kepada pasien dalam upaya kuratif, terangnya, membutuhkan rangkaian penelitian yang dimulai dari standarisasi tanaman untuk menjadi bahan baku yang bermutu dan aman, dilanjutkan dengan uji pra-klinik pada hewan coba, dan kemudian uji klinik pada manusia melalui fase 1 sampai dengan fase 4.

Analisis lanjut hasil Ristoja terhadap formula jamu untuk tumor dan kanker pada 2018 telah dilakukan skrining in-vitro terhadap tanaman obat maupun formula jamu yang dimanfaatkan untuk tumor dan antikanker. Dari hasil pengujian terhadap beberapa sel kanker (sel kanker payudara, sel kanker kolon, dan sel kanker serviks) diketahui bahwa ada beberapa tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat antikanker, antara lain Mikania micrantha Kunth, Leucas lavandulifolia Sm., Callicarpa longifolia Lam., Calophyllum inophyllum L., Tetracera scandens (L.) Merr., dan akar batu/aikabasa (Cucurbitaceae).

baca juga: Kemenhub Gandeng ITS Buat Kapal Pariwisata Bawah laut

Peneliti di Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu  Yuli Widiyastuti menambahkan bahwa ada jenus tanaman bernama Aikabasa di Nusa Tenggara Timur mirip seperti bajakah yang ditemukan siswa SMA untuk mengatasi kanker. Akar tanaman menjalar itu telah digunakan secara turun temurun dan dipercaya bisa mengobati kanker oleh penduduk setempat.

"Aikabasa digunakan oleh salah satu suku di Nusa Tenggara Timur untuk mengatasi tumor/kanker tapi sampai saat ini belum berhasil diidentifikasi sampai level spesies," tukasnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT