16 August 2019, 08:37 WIB

Pengabdian untuk Kelestarian Satwa Dilindungi


Media Indonesia | HUT RI

ANTARA/FB ANGGORO
 ANTARA/FB ANGGORO
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melepasliarkan empat ekor elang bondol pada peringatan HKAN 2019

SEMANGAT kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia dapat ditunjukkan dengan sejauh mana kontribusi kita sebagai warga negara menjaga keberlangsungan alam tercinta, baik pada sesama maupun sumber daya alam dan satwanya.

Bermacam cerita upaya gerak cepat menyelamatkan satwa dilindungi telah dilakukan tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Hal itu harus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan, keseimbangan alam, serta memperlambat angka kepunahan tumbuhan dan satwa liar dilindungi.

Seperti yang dilakukan BKSDA Maluku sepanjang 2018, telah melakukan 93 kali kegiatan penyelamatan terhadap tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Kepala BKSDA Maluku Mukhtar Amin Ahmadi menyebutkan,pada periode tersebut total tumbuhan dan satwa yang dilindungi yang berhasil diselamatkan itu berjumlah sekitar 1.189, yang terdiri atas 1.177 ekor satwa jenis burung, tujuh tanduk rusa, lima butir telur burung gosong.

Ada juga beberapa jenis tumbuhan yang diselamatkan, yakni empat rumpun akar bahar, dan 2 rumpun anggrek. Selain itu, pada Februari lalu, BKSDA Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyela-matkan penyu air tawar de-ngan panjang 90 sentimeter dan lebar 60 sentimeter, yang sedang terluka.

Satwa liar yang biasa disebut labi-labi bintang itu ditemukan warga di Sungai Sempor, Dusun Manyaran, Ke-lurahan Triharjo, Kabupaten Sleman, DIY. Hewan tersebut memiliki estimasi umurnya sekitar 50 tahun.Tim quick response BKSDA DIY lalu menitipkan semen-tara hewan bernama ilmiah Chitra chitra ke Lembaga Konservasi Gembira Loka Yogyakarta. Kemudian, hewan liar tersebut dikarantina selama 30 hari untuk penyembuhan luka. Manajer Konservasi Gem-bira Loka Zoo Yogjakarta, Josephine Vanda Tirtayani, mengatakan luka pada tubuh labi-labi bintang diduga akibat penangkapan. Ditemukan pula luka yang ditimbulkan dari alam.

Merujuk data Lembaga Konservasi Dunia IUCN (International Union for Con-servation of Nature), labi-labi bintang masuk status kon-servasi critically endangeredatau hampir punah. "Spesies tersebut kehilangan habitat asli dan hampir punah karena eksploitasi untuk konsumsi dan perdagangan liar," ujar Vanda.Pada April 2019, puluhan satwa dilindungi berhasil di-selamatkan dari perdagangan gelap satwa. BKSDA Kota Batam pun melepasliarkan satwa liar tersebut ke habitat aslinya.

Sebanyak 29 ekor burung dilindungi tersebut terdiri atas burung kakaktua jambul kuning, kakaktua raja, nuri bayan, nuri kepala hitam, dan nuri maluku.

Satwa dilindungi tersebut masih menjalani pemulihan setelah dikirim dari Indonesia Timur melalui jalur darat. Rencananya satwa dilindungi tersebut akan diseludupkan ke luar negeri melalui jalur laut.

Belum lama, pada Juni 2019, BKSDA Jawa Barat juga menyelamatkan enam satwa liar dilindungi undang-undang dari Taman Wisata Jempol Waterboom Ciledug, Kabu-paten Cirebon. Enam satwa tersebut, kakatua putih besar jambul kuning, dua ekor nuri bayan, jalak putih, jalak bali, dan perkici dora.

Kisah heroik
Satu kisah heroik tentang penyelamatan satwa liar berasal dari dokter satwa BKS-DA Bengkulu, Erni Suyanti Musabine, yang seperahu de-ngan seekor harimau sumatra (Phantera tigris sumatrae), yang viral di media sosial beberapa tahun lalu. Foto dokter perempuan yang menyeberangkan harimau yang akan direlokasi ke Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, di Kabupaten Bengkulu Utara, pun mendapat apresiasi dari ratusan pengguna media sosial Facebook. Dokter tersebut membawa dua harimau.

Harimau jantan merupakan korban konflik dengan manusia, sedangkan harimau betina merupakan korban jerat pemburu dan ha-rus diamputasi kakinya."Sebagai dokter hewan yang bertanggung jawab terhadap pembiusan, saya tidak bisa meninggalkan harimau sendi-rian dalam kondisi terbius, tapi harus terus memantau kondisinya dan berada di dekatnya," ujar dokter Yanti.

Sejak 2007, perempuan pemberani tersebut terlibat upaya penyelamatan harimau sumatra bersama Tiger Pro-tection and Conservation Unit (TPCU) atau lebih dikenal de-ngan sebutan PHS-KS, yakni Tim Patroli Harimau Taman Nasional Kerinci Seblat.

Hingga saat ini, Yanti ber-sama TPCU sudah menangani empat harimau korban jerat, menderita penyakit infeksius, keracunan, dan korban konfl ik di Provinsi Jambi dan Bengkulu. Sementara itu, bersama Wildlife Rescue Unit BKSDA Bengkulu, Yanti sudah menangani sembilan harimau di Provinsi Bengkulu. Sebagian besar merupakan korban jerat pemburu liar, menderita luka tembak, serta penganiayaan senjata tajam yang harus diamputasi.

Selama berjuang menyela-matkan harimau, berbagai pengalaman bahaya hingga perjuangan selalu mening-galkan kesan. Baginya, me-nyelamatkan harimau tak berhenti dari melepaskan jerat dan evakuasi, tapi ada proses perawatan yang terkadang banyak menguras tenaga, pikiran, dan air mata. (Try/S1-25)

BERITA TERKAIT