16 August 2019, 08:40 WIB

Satukan Indonesia lewat Konektivitas Udara


Try/S3-25 | HUT RI

ANTARA/M AGUNG RAJASA
 ANTARA/M AGUNG RAJASA
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat.

KEMENTERIAN Perhubungan (Kemenhub) akan terus membuka aksesibilitas transportasi udara untuk memperlancar konektivitas di negara kepulauan Indonesia. Dengan akses terluar semakin terjangkau, kegiatan perekonomian pelosok dapat berkembang dan kesenjangan antarwilayah dapat dikikis.

Selama 2018, Kemenhub membangun tiga bandar udara (bandara) baru. Bandara tersebut sekaligus melengkapi bandara-bandara sebelumnya. Secara total, terdapat 10 bandara yang telah dioperasikan pada periode 2015-2018.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara (Hubud) Kemenhub, Polana Banguningsih Pramesti, mengatakan selain membangun, pihaknya juga merevitalisasi 170 bandara di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya 145 bandara.

“Pada tahun ini, kami juga merevitalisasi sebanyak 170 bandara dengan rincian 24 bandara di perbatasan, 59 bandara di daerah rawan bencana, 48 bandara di daerah terisolasi, dan 39 bandara yang runway-nya kami rehabilitasi,” ujarnya.

Selain itu, tingkat ketepatan waktu (on time performance/ OTP) operator penerbangan yang melayani rute domestik mengalami peningkatan. Menurut hasil pengawasan Ditjen Hubud melalui Direktorat Angkutan Udara pada Januari 2019, dari total penerbangan domestik sebanyak 60.326, terdapat 51.201 penerbangan yang tepat waktu atau sekitar 84,87%.

Pada Febuari 2019, dari total penerbangan domestik sebanyak 53.117, terdapat 46.887 penerbangan yang tepat waktu atau 88,27%. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa operator penerbangan meningkatkan kinerja OTP untuk kepuasan pengguna jasa transportasi udara.

“Kami mengapresiasi atas peningkatan OTP para operator penerbangan dan berharap agar OTP tersebut dapat ditingkatkan lebih optimal
serta memberikan pelayanan terbaik bagi pengguna jasa transportasi udara dengan tetap mengutamakan keselamatan dan keamanan penerbangan,” ujar Polana. Ia menambahkan, bila terjadi keterlambatan penerbangan biasanya karena kondisi cuaca yang buruk.

Pengembangan jembatan udara

Fokus Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dalam menghubungkan kawasan terluar pada tahun ini, di antaranya program prioritas pelayanan angkutan udara perintis dan jembatan udara. Program prioritas tersebut meliputi penyelenggaraan angkutan udara perintis sebanyak 192 rute, penyelenggaraan angkutan BBM angkutan udara perintis sebanyak 8.850 drum, angkutan kargo perintis sebanyak 39 rute, penyelenggaraan angkutan BBM untuk kargo perintis sebanyak 2.154 drum, dan penyelenggaraan subsidi operasi angkutan udara kargo sebanyak dua rute, dan pengembangan bandara prioritas nasional di 42 lokasi juga menjadi salah satu program prioritas pada 2019 di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Pada 2019, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara juga memprioritaskan pembangunan untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah di Indonesia melalui peningkatan konektivitas dan pembangunan daerah afirmasi.

“Peningkatan konektivitas dilakukan melalui penyelesaian pembangunan bandara di Siau, Buntukunik, Muara Teweh, dan Tambelan sehingga dapat segera melayani penumpang dan melalui program keperintisan udara,” jelas Polana.

Pembangunan daerah afirmasi mencakup pembangunan daerah tertinggal 30 lokasi bandara, pembangunan kawasan perbatasan dan perluasan aksesibilitas di wilayah kepulauan di empat lokasi bandara, dan penanganan kawasan rawan bencana di 35 lokasi bandara.

Pembangunan transportasi udara juga diarahkan untuk mendukung program pariwisata yaitu dengan meningkatkan kapasitas dan pelayanan di bandara-bandara destinasi wisata, seperti Labuan Bajo, Bandara Matohara untuk Wakatobi, Bandara HAS Hanadjoeddin untuk Tanjung Kelayang, Bandara Sibisa untuk Danau Toba, dan Bandara Morotai.

Selain itu, kata Polana, Kementerian Perhubungan juga akan meresmikan empat bandara baru hingga akhir 2019. Keempatnya merupakan bandara yang akan melayani pesawat-pesawat propeller.

“Kami tahun ini akan merampungkan bandara di Siau, Tambelan, Pantar, dan Muara Teweh,” ujar Polana.

Siau merupakan daerah kepulauan yang terletak di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara. Tambelan merupakan daerah yang berlokasi di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Pantar merupakan pulau di gugusan Kepulauan Alor, Nusa Tenggara Timur. Terakhir, Muara Teweh merupakan daerah di tepi Sungai Barito, Kalimantan Tengah.

Pada 2020, pemerintah masih berencana membuka bandara anyar untuk membuka konektivitas daerah terluar. Pembangunan bandara anyar
bakal dilakukan di Silampari Sumatra Selatan, Murung Raya Kalimantan Tengah, Kayong Utara Kalimantan Barat, Bolaang Mongondow Sulawesi Utara, Bali Baru di Bali Utara, Kediri Jawa Timur, dan Singkawang Kalimantan Barat.

Selain pembangunan bandara anyar, pemerintah bersama PT Angkasa Pura melakukan pengembangan sejumlah terminal bandara. Salah
satunya Angkasa Pura I yang menggarap pengembangan terminal Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. (Try/S3-25)

BERITA TERKAIT