16 August 2019, 08:21 WIB

HKm Ingin Maju Mereboisasi Hutan


Media Indonesia | HUT RI

Dok. Kementerian Kehutanan
 Dok. Kementerian Kehutanan
Kegiatan pembibitan melibatkan perempuan dan menggunakan polybag dari bambu untuk mengurangi sampah plastik

KEGIATAN hutan kemasyarakatan (HKm) dari Kementerian Kehutanan menjadi angin segar karena sejumlah kegiatan reboisasi sebelumnya mengalami kegagalan. Pelibatan masyarakat secara aktif dalam HKm diharapkan mewujudkan kegiatan reboisasi hutan dan lahan.

Setidaknya itu terlihat dari kesuksesan Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (HKm) Ingin Maju yang mengembalikan kondisi Hutan Lindung Langkaras. Hutan yang berlokasi di Desa Tebingsiring, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, tersebut, sebelumnya dalam kondisi kritis diduga akibat pembalakan hutan.

Selain itu, kondisi hutan mengalami kebakaran setiap musim kemarau akibat aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat. HKm Ingin Maju lantas menghijaukan hutan lindung melalui perhutanan sosial dengan menanam 30 ribu pohon karet sejak 2012.Kelompok Tani HKm Ingin Maju sejatinya diberi hak kel-ola 400 hektare untuk dibagi untuk 68 keluarga.

Jadi, hak kelola tiap-tiap keluarga sekitar 5,8 hektare.Mereka pun membentuk enam kelompok usaha perhutanan sosial di bidang pembibitan, karet, jamur tiram, madu, peternakan, dan perikanan. Digawangi Gajali Rahman sebagai Ketua Tani HKm, kegiatan mereka mulai bergulir.

Kegiatan pembibitan saat ini menjadi primadona karena saat ini bibit yang dihasilkan digunakan untuk kegiatan rehabilitasi di Kalimantan Selatan. Masyarakat difasilitasi pelatihan oleh Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan dan KPH Tanah Laut.

Masyarakat pun memperoleh pelatihan penangkaran koloni lebah madu. Madu su-dah dikemas rapi dan layak jual. Hanya, pemasaran masih terbatas di Kalimantan Selatan saat ada pameran. Selain itu, HKm Ingin Maju menerima pinjaman lunak dari Badan Layanan Umum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berupa sapi pada 2017. Sapi ini menjadi cikal bakal kegiatan peterna-kan HKm Ingin Maju. Hingga saat ini sapi tersebut masih dalam proses penggemukan.

Masyarakat juga membuat kolam ikan nila dengan me-manfaatkan air dari embung di dalam kawasan hutan. Dalam hal rehabilitasi hutan, HKm Ingin Maju memanfaatkan kawasan secara agroforestry dengan jenis tanaman jagung, padi, kopi, kayu putih, dan kakao.

Untuk menjaga kawasan dari kebakaran, masyarakat membuat sekat bakar vegetatif dengan tanaman gamal, membuat embung, dan menara api untuk mempermudah pemantauan kawasan dari kebakaran. Kini alang-alang berubah menjadi tanaman kehutanan sehingga tidak ada kebakaran lagi.

"Kami pun di luar usaha pokok, yaitu karet, mendapat tambahan penghasilan dari agroforestry dan kelompok usaha perhutanan sosial. Buah-buahan yang kami tanam juga dipakai sebagai pakan babon, untuk menjaga rantai makanan," ucap Gajali.

Secara ekonomi, pendapatan masyarakat meningkat dan lebih variatif. Pendapatan per kapita HKm Ingin Maju menunjukkan peningkatan dari 2017-2018 dari Rp654 ribu menjadi Rp862 ribu. Kontribusi usaha perhutanan sosial terhadap pendapatan per kapita juga menunjukkan peningkatan dari 21,34% pada 2017, menjadi 38,43% pada 2018. (Try/S3-25)

BERITA TERKAIT