16 August 2019, 09:00 WIB

Ekonomi Digital Picu Pemanfaatan Internet Produktif


Andhika Prasetyo | HUT RI

ANTARA/APRILLIO AKBAR
 ANTARA/APRILLIO AKBAR
Pemerintah mendorong UMKM untuk masuk ke dalam ekonomi digital sehingga dapat terus berkembang

BANYAK sektor ekonomi yang tersentuh dan kemudian berkembang pesat dengan kehadiran ekonomi digital, mulai sandang, pangan, maupun papan. Selain memberikan manfaat tersebut, kehadiran ekonomi digital juga dapat mendorong pemanfaatan internet secara berkualitas.

“Perkembangan ekonomi digital sangat potensial dirasakan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengurangi kesenjangan infrastruktur teknologi komunikasi dan informatika (TIK) di wilayah perdesaan dan daerah tertinggal serta meningkatkan pemanfaatan internet untuk kegiatan produktif dan literasi digital,” papar Direktur The SMERU Research Institute (SMERU) Widjajanti Isdijoso.

Hal itu diungkapkan Widjajanti dalam bincang media yang diselenggarakan SMERU dengan tajuk Pertumbuhan ekonomi digital yang berkualitas di Jakarta, kemarin.  

Menurut Widjajanti, digitalisasi yang berkualitas bagi masyarakat berarti tersedianya akses dan manfaat yang tersebar secara merata. Hingga sekarang akses digital di Indonesia berada pada kelompok berpendidikan SMP ke atas (85%), jenjang usia di bawah 40 tahun (80%), serta yang tinggal di wilayah perkotaan (70%).

Kemudian, 80% dari 100 juta pengguna internet menggunakannya lebih banyak untuk mengakses media sosial dan hanya sekitar 18% yang memanfaatkan internet untuk jual-beli atau transaksi keuangan.

“Karena itu, hadirnya berbagai startup digital di Indonesia tentunya diharapkan dapat meningkatkan dan mendorong pemanfaatan internet untuk pertumbuhan ekonomi digital yang berkualitas,” jelasnya.


SDM Rendah

Sementara itu, Direktur Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Leonardo Teguh Sambodo menjelaskan pemanfaatan TIK untuk pemerataan pembangunan merupakan harapan dari hadirnya ekonomi digital. Namun, kendala yang terjadi di Indonesia ialah kurangnya pembangunan infrastruktur teknologi dan juga sumber daya manusia (SDM) yang masih rendah.

“Khususnya Indonesia, tantangan terbesarnya ada pada penyediaan sumber daya manusia dan juga bagaimana kemudian infrastruktur atau sistem sarana dan prasarana bisa menghubungkan dan memfasilitasi untuk menghadapi percepatan dari adopsi maupun perkembangan ekonomi”,  tuturnya.

Dia menjelaskan bahwa pemerintah sedang menyiapkan kebijakan pembangunan digitalisasi 2020-2024 di berbagai bidang, mulai ekonomi, SDM, pertahanan dan keamanan, infrastruktur, serta kewilayahan.

Untuk mewujudkan hal tersebut dan mencapai inklusivitas diperlukan upaya kolektif semua elemen, mulai pemerintah, masyarakat, maupun para stakeholders. Ia menegaskan pemerintah melihat adanya perkembangan teknologi sebagai sebuah peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik.

“Bagaimana pemerintah bisa merespons pola-pola bisnis yang baru ini. Dengan kemajuan teknologi digital ini tidak hanya untuk kesejahteraan masyarakat, tapi juga untuk kemajuan bangsa secara nasional”, imbuhnya.

Lebih jauh Leonardo mengatakan pemerintah mendorong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk masuk ke dalam ekonomi digital sehingga dapat terus berkembang. Pemerintah juga mendorong pertumbuhan perusahaan rintisan (startup) menengah atas untuk bisa berinteraksi dengan investor di level global yang lebih luas.

Di samping itu, berkolaborasi bersama para stakeholders yang ada maka dapat diterapkannya peta jalan e-commerce. Sedangkan untuk golongan nelayan dan petani, pemerintah membantu memanfaatkan teknologi digital untuk dapat meningkatkan produktivitas serta meningkatkan dan memperluas penjualan.

“Berkaitan dengan ekspor, ke depan akan dibuat semacam market place atau berkolaborasi untuk menyalurkan produk-produk UMKM kita sehingga bisa menjangkau level atau pasar penjualan yang lebih luas”, ungkap Teguh. (*/E-3)

 

BERITA TERKAIT