16 August 2019, 08:20 WIB

Kerja Sama Industri Jamin Keterserapan Lulusan


(Dhk/S5-25) | HUT RI

MI
 MI
Siswi SMK sedang melakukan pengoperasian mesin

PENDIDIKAN kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dilakukan link and match antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dan pihak industri sebagai pengguna utama lulusan SMK sehingga keterserapan lulusan SMK di dunia industri dapat meningkat secara signifi kan. 

Kerja sama antara SMK dan dunia industri merupakan amanat Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Dalam inpres tersebut ditekankan bahwa perlu upaya kerja sama dengan kementerian/ lembaga, pemerintah daerah, dan dunia usaha/industri. 

Untuk mencapai tujuan itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui  Direktorat Pembinaan SMK dan Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan PT Komatsu Indonesia menyelenggarakan peluncuran Program Kelas Industri Alat Berat Komatsu dengan melibatkan 35 SMK terpilih se-Pulau Jawa. Peluncuran Kelas Komatsu dilakukan melalui sinergi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Perindustrian. 

Peluncuran disaksikan langsung Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud M Bakrun dan 35 kepala SMK tersebut. Bakrun menegaskan program link and match wajib diterapkan untuk mendorong keterserapan lulusan SMK. Ia mengapresiasi industri, dalam hal ini PT Komatsu yang telah berkontribusi dalam pengembangan SMK dan Kemenperin atas kerja samanya dalam pengembangan SMK melalui program link and match. 

“Budaya kerja dan budaya industri penting ditanamkan kepada peserta didik SMK. Saya juga mengajak industri lainnya untuk mengikuti jejak Komatsu dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) terampil sebab Komatsu Class merupakan salah satu contoh sinergi yang baik antara SMK dan industri,” ucap Bakrun dalam seremoni peluncuran Komatsu Class di Jakarta Utara, baru-baru ini. 

Realisasi penyelenggaraan Komatsu Class sudah dimulai sejak 2016 dengan penandatangan nota kesepahaman (MoU) dengan SMK, penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Industri Alat Berat, sinkronisasi kurikulum, magang guru, penyediaan alat peraga pendidikan, serta penyusunan silabus dan modul pembelajaran. Terakhir, Komatsu melakukan uji coba pembelajaran dan praktik kerja di Pusat Pelatihan Komatsu Indonesia bagi 508 siswa SMK sejak April 2018 sampai dengan Juli 2019.

Komitmen perusahaan
Direktur Utama Komatsu Pratjojo Dewo menyatakan program link and match ini merupakan bentuk konsistensi atas komitmen perusahaan untuk berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa dalam bentuk mempersiapkan siswa SMK untuk memasuki dunia kerja, khususnya di industri manufaktur alat berat. 

Pada setiap sekolah nantinya ada sekitar 35 siswa yang ikut program tersebut sehingga setiap tahunnya akan lulus sekitar 1.225 siswa yang bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri alat berat. 

“Bukan hanya di Komatsu Group, tetapi juga di perusahaan lain bahkan di industri pengguna alat berat,” kata Pratjojo. Dalam uji coba pembelajaran dan permagangan tahun buku 2018, Komatsu Indonesia menyerap 281 siswa sebagai tenaga kerja dari 345 siswa yang mengikuti program. Langkah tersebut diharapkan diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain untuk mewujudkan tenaga kerja Indonesia yang kompeten. (Dhk/S5-25)

BERITA TERKAIT