15 August 2019, 20:45 WIB

Bandara Libia tidak Beroperasi Pascaserangan Roket


Tesa Oktiana Surbakti | Internasional

AFP
 AFP
 Pesawat-pesawat udara grounded duduk di landasan di Bandara Internasional Mitiga di ibukota Libya Tripoli.

PENERBANGAN dari satu-satunya bandara yang berfungsi di Tripoli, Libia, terpaksa ditangguhkan pada Kamis (15/8). Langkah yang diungkapkan juru bicara pemerintah persatuan Libia, Moustafa al-Mejii, menyusul serangan roket mematikan semalam.

Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang berbasis di Tripoli menyatakan, tembakan roket pada Rabu (14/8) malam menewaskan seorang penjaga. Serta melukai beberapa agen keamanan yang bertugas melindungi bandara.

"Serangan itu dilakukan milisi (orang kuat militer Khalifa) Haftar dari markas mereka di wilayah selatan Tripoli," ujar al-Mejii kepada AFP.

Dia menambahkan bahwa penerbangan ke Mitiga sudah dialihkan.

Berlokasi di wilayah timur Tripoli, Mitiga merupakan bekas pangkalan udara militer yang dimanfaatkan untuk penerbangan sipil. Tepatnya, sejak Bandara Internasional Tropoli mengalami kerusakan akibat pertempuran pada 2014. Mitiga berada di bawah kendali pasukan pro-GNA, dan menjadi target musuh. Alhasil, jadwal penerbangan sering mengalami penundaan.


Baca juga: PM India Serukan Langkah Pencabutan Status Kashmir


Tentara Nasional Libia yang bergaya Haftar melancarkan serangan untuk merebut Tripoli dari kendali GNA pada April lalu. Ini menjadi perlawanan keras dan mengakibatkan kekacauan di wilayah selatan ibu kota.

Dalam laporan kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Utusan PBB Ghassan Salame mendesak otoritas berwenang di Tripoli menghentikan penggunaan bandara untuk kepentingan militer. Dengan begitu, pasukan lawan tidak menjadikan bandara sebagai target serangan. GNA memprotes laporan yang dinilai menyimpang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 1.093 orang tewas dan 5.752 orang terluka dalam peperangan. Lebih dari 120.000 orang telah mengungsi. Libia terjatuh dalam kekacauan, sejak pemberontakan yang didukung NATO menggulingkan diktator Moamer Kadhafi pada 2011 lalu. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT