15 August 2019, 19:09 WIB

Kini, Potensi Gempa dapat Diketahui dalam Hitungan Detik


Thomas Harming Suwarta | Humaniora

MI/Depi Gunawan
 MI/Depi Gunawan
 Seismograf di  Pos Pengamatan Gunung Tangkuban Parahu di Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

BADAN Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memutakhirkan metode peringatan dini gempa bumi (Indonesia Earthquake Early Warning System-InaEEWS).

"Kalau dulu sistem ini mampu memberikan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami dalam waktu maksimal 5 menit, di era baru ini informasi lebih dini dalam hitungan detik sebelum gempa kuat melanda suatu kawasan,” ungkap Deputi Geofisika BMKG Muhamad Sadly dalam keterangan pers yang diterima Media Indonesia di Jakarta, Kamis (15/8).

Sistem ini, lanjut Sadly, tidak saja bermanfaat bagi masyarakat untuk bertindak lebih cepat menyelamatkan diri, tetapi juga dapat mengamankan objek vital berbasis respons instrumen. Sistem transportasi cepat dan industri penting dapat dinonaktifkan (shut down) beberapa detik lebih awal sebelum gempa menimbulkan kerusakan.

”Sistem ini tidak bertujuan meramal kapan terjadi gempa besar, tetapi lebih kepada memberi peringatan kepada masyarakat bahwa akan terjadi gempa kuat dalam hitungan beberapa detik hingga beberapa puluh detik ke depan,” imbuh Sadly.

Meskipun peringatan diberikan dalam hitungan detik sebelum terjadi gempa, hal itu akan sangat berarti untuk menyelamatkan nyawa manusia.

Sadly menyatakan konsep dasar EEWS menggunakan “end to end system” yang mampu memberikan peringatan dini gempa kuat kepada masyarakat. EEWS mencakup 3 sistem, yaitu: Pertama adalah sistem monitoring yang mendeteksi gempa bumi di hulu, kedua adalah system automatic processing yang mengolah data secara cepat, dan ketiga sistem diseminasi penyebarluasanan informasi/peringatan dini di hilir, ditujukan kepada masyarakat yang disertai saran untuk menyelamatkan diri.

”Konsep ini bekerja dengan memanfaatkan selisih waktu tiba gelombang P (pressure) yang datang lebih awal dan gelombang S (shear) yang datang beberapa detik kemudian. Setiap terjadi gempa bumi, gelombang P akan tiba di sensor lebih awal selanjutnya dalam beberapa detik kemudian tiba gelombang S yang sifatnya destruktif/merusak,” tutur Sadly.

Saat terjadi gempa, tambah Sadly, sensor EEWS akan merekam datangnya gelombang P, sistem secara spontan menginformasikan estimasi tingkat guncangan yang mungkin terjadi dan waktu kedatangan gelombang S. Sensor-sensor ini akan dipasang di berbagai tempat yang berdekatan dengan sumber gempa megathrust dan sumber gempa sesar aktif.

EEWS merupakan sistem deteksi dini gempa kuat dengan mekanisme memberikan peringatan dini berdasarkan prediksi waktu tiba gelombang S yang berpotensi menimbulkan guncangan signifikan dengan memanfaatkan gelombang P untuk memberikan sinyal warning. Dari sensor EEWS ini akan dikirimkan melalui ke InaEEWS Center (BMKG), selanjutnya data diolah secara otomatis dan hasilnya akan disebarkan ke receiver yang ada di stakeholder atau melalui mobile apps. "Receiver ini juga dapat dipasang pada objek vital seperti kereta cepat, MRT, industri vital, pusat keramaian (mal), area permukiman, dan perkantoran," kata Sadly. (A-2)

 

BERITA TERKAIT