15 August 2019, 22:00 WIB

Bambu Lamina Solusi Kelangkaan Kayu


(*/H-2) | Humaniora

ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
 ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Kerajinan yang mengembangkan teknologi dipadukan dengan potensi alam melalui bambu lamina yang ramah lingkungan ini

BAMBU lamina merupakan produk unggulan masa depan yang dapat digunakan sebagai bahan mebel dan komponen bangunan. Temuan itu sekaligus menjadi solusi dalam mengatasi kelangkaan kayu. 

"Bambu lamina termasuk produk hijau yang ramah lingkungan," ucap peneliti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ignasia Maria Sulastiningsih saat memaparkan orasinya bertajuk Pengembangan Bambu Lamina sebagai Produk Alternatif untuk Mengatasi Kelangkaan Kayu, dalam sidang pengukuhan gelar profesor risetnya di Jakarta, Kamis (15/8).

Bambu dikenal sebagai tanaman cepat tumbuh yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan dan dapat dikonversi menjadi bambu komposit berupa bambu lamina, yang berbentuk seperti papan atau balok kayu. Lewat bantuan pengempaan, bambu lamina dibuat dengan cara menggabungkan beberapa elemen berupa pelupuh atau bilah bambu yang direkatkan dengan perekat organik.

“Papan bambu lamina tiga lapis dari bambu andong dengan ketebalan 2,5 sentimeter memiliki kekuatan setara dengan kayu kelas kuat II, dan bisa ditingkatkan pemanfaatannya, khususnya untuk produksi bambu lamina agar dapat memberi sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” beber peneliti ilmu kayu dan teknolog hasil hutan itu.

Selain Ignasia, KLHK juga mengukuhkan gelar profesor riset pada peneliti teknologi pembenihan tanaman hutan, Dida Syamsuwida, yang meneliti inovasi teknologi penanganan benih rekalsitraan tanaman hutan dalam mendukung kelestarian hutan. 

Dijelaskannya, penanganan benih rekalsitran melalui teknologi penyimpanan dalam bentuk semai telah terbukti dapat memperpanjang daya simpan bahan tanaman hutan sampai lebih dari satu tahun. Teknologi penyimpanan dalam bentuk semai atau bibit itu dilakukan dengan menggunakan bahan penghambat pertumbuhan, manipulasi lingkungan, atau kombinasi keduanya.

“Penerapan teknologi penyimpanan benih rekalsitran dalam bentuk semai atau bibit menjadi peluang untuk dapat mengatasi problematik dalam pengadaan benih untuk penanaman,” tutur Dida.

Keragaman tanaman hutan tropis yang tinggi di Indonesia, membuat adanya pembedaan karakteristik benih. Benih bersifat rekalsitran memiliki kemampuan rendah dalam daya simpannya dan hanya mampu bertahan 1–4 minggu. 

Lebih dari 47% jenis kayu hutan tropis merupakan jenis yang menghasilkan benih bersifat rekalsitran dan merupakan jenis endemik potensial termasuk diantaranya dari keluarga dipterokarp. 

Sekjen KLHK Bambang Handroyono berharap, hasil riset kedua peneliti itu menjawab permasalahan yang dialami bangsa ini. Kedua profesor riset merupakan profesor riset ke-25 dan ke-26 dari 471 peneliti di KLHK. (*/H-2)
 

BERITA TERKAIT