16 August 2019, 01:40 WIB

Humor, Kuasa dan Merdeka


Asep Salahudin Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM Suryalaya Ketua Lakpesdam Pimpinan Wilayah NU Jawa Barat | Opini

MI/Tiyok
 MI/Tiyok
Ilustrasi

KEKUASAAN tabiatnya sering kali tidak suka terhadap kritik, baik kekuasaan politik maupun keagamaan. Negara despotik dan agama yang tertutup fundamentalistis, salah satunya ditandai dengan sikap aparatusnya yang sigap membungkam segala potensi yang dianggap dapat merongrong wibawa kuasanya. Pada suasana mencekam seperti ini, maka biasanya kritik disalurkan dalam bentuk humor. Humor menjadi saluran strategis untuk 'mempertanyakan' segala bentuk kemapanan dan penyimpangan.

Humor ternyata menjadi beririsan dengan hasrat keterbukaan. Demokrasi dan humor menguatkan satu dan lainnya. Humor pada titik tertentu menjadi katalisator untuk menurunkan ketegangan antarkelompok dan kaum yang berbeda. Di tangan seorang humoris, tak ada yang rumit. Semua dijalani secara ringan. 

Yang menarik justru tatkala tokoh humoris menjadi penguasa, hal pertama yang akan kita saksikan ialah bagaimana sang tokoh itu mengelola negara dengan jenaka, lewat cara-cara yang bukan hanya menertawakan kekuasaan dan peristiwa di sekelilingnya, melainkan juga mentertawakan dirinya. 

Inilah yang dialami pada fase ketika KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden keempat. Atau dalam seloroh putri bungsunya, Inayah Wahid, "Gus Dur itu sesungguhnya adalah komedian yang punya profesi sampingan sebagai presiden, kiai, budayawan, dan penggerak sosial." 

Atau dalam perkataan Emha Ainun Najib, "Gus Dur dan Asmuni itu berasal dari desa yang sama, Ndiwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sebenarnya, Asmuni yang layak menjadi ketua NU dan Gus Dur menjadi Srimulat."
Gus Dur juga yang mengatakan perbedaan dirinya dengan presiden sebelumnya. Presiden pertama, katanya, gila perempuan, presiden kedua gila harta, presiden ketiga gila benaran. 

"Dan presiden keempat bikin rakyatnya gila semua..." Dalam sebuah acara di stasiun televisi Jaya Suprana bertanya, "Apakah Gus Dur ini adalah presiden paling kocak di dunia? Ada enggak presiden lain yang lebih lucu?" Jawab Gus Dur, "Wah, soal itu saya gak tahu. Yang jelas saya ini nyasar. Mestinya jadi pelawak kok malah jadi presiden." Pada momen lain, Gus Dur sendiri berujar, "Pak Harto dulu presiden new order. Pak Habibie, presiden in order, boleh juga out of order. Saya sendiri presiden no order."

Bahkan, pada sidang Paripurna DPR 18 Nopember 1999, Presiden Gus Dur sempat mengolok-olok DPR, menyamakan mereka dengan taman kanak-kanak (TK) yang membuat wakil rakyat itu meradang. Namun, Gus Dur jalan terus dan terus menyampaikan komunikasi berjubahkan lelucon, termasuk ketika melakukan lawatan ke berbagai negara.

Minimal melalui dua tulisannya, yaitu Melawan melalui Lelucon (Tempo, 19 Desember 1981) dan kata pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia (Pustaka Grafitipress, Maret 1986) kita bisa menangkap  asbabunnuzul sekaligus pentingnya humor dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. Mungkin betul apa yang dibilang Bertold Brecht, "Hidup akan tersiksa di sebuah negara yang tak karib dengan humor, tapi lebih nestapa hidup di sebuah negara yang sangat menghajatkan humor."

Hari ini
Sayang sekali hari ini tidak ada sosok tokoh masyarakat sipil dan politisi ulung model Gus Dur yang selalu menciptakan jokes segar dalam melihat sengkarut kehidupan berbangsa. Fakta sosial heterogen yang sering kali menciptakan ketegangan diselesaikan lewat humor tanpa satu sama lain merasa tersakiti, tapi justru tertawa mentertawakan kekurangan masing-masing.

Karena humor sesungguhnya punya kemampuan langsung menembus palung keinsafan manusia yang paling subtil; kesadaran nurani. Untuk menjadi manusia rohani, bukan sekadar terampil menghidupkan ritualisme agama, melainkan juga menyalakan sensitivitas humor. Supaya menjadi insan kamil, bukan instan kamil.  

Maka itu, kalau kita membuka khazanah kearifan perenial, para sufi (mistikus) selalu menyampaikan pesan-pesan rohaniahnya tidak secara didaktik dan akademik, tapi lewat senarai cerita jenaka, melalui narasi yang sarat dengan kisah penuh perlambang yang bikin seseorang tertawa, mentertawakan dirinya. Yang paling populer seperti diperkenalkan Nasruddin Hoja pada abad ke-13 atau Abu Nawas dari Persia yang hidup sekitar 756-814 M.

Dalam telaah sosiolog Peter L Berger, seperti dikutip Sindhunata dalam majalah Basis (2018) bahwa sesunggguhnya agama tidak bisa mengelak untuk menerima tertawa sebagai bagian dari dirinya. Tawa dan religiositas itu ialah 'saudara dalam roh'. Bagaikan satu kesatuan dalam anatomi, fenomenologi tertawa mau tak mau harus membimbing orang ke teologi tertawa. Tawa itu senantiasa ada dalam sejarah manusia. 

Bukan hanya pada mulanya ialah sabda, melainkan juga pada awalnya ialah tawa. Asal-usul itu ialah firman sekaligus lelucon. Tak ada kultur yang 'ada' dan bertahan lama tanpa faktor tertawa. Kemampuan untuk menangkap sesuatu secara komikal ialah universal sifatnya, maka komik atau tawa bukan hanya pengalaman biasa sehari-hari, melainkan suatu elemen antropolgis yang konstan dan kontinual ada dalam setiap masyarakat.

Humor  bukan  melambangkan sisi dangkal komunikasi manusia, melainkan justru menjadi modus eksistensial kehadiran manusia. Tawa menjadi saluran epifani ilahi sekaligus talang transendensi. Tawa dapat mengungkap sisi terdalam rohani dan halaman muka yang dapat mendefinisikan hakikat kemanusiaan kita. Bukankah khitah kehadiran agama (dan negara) ialah dalam rangka meningkatkan kegembiraan jemaah (dan warga), dan kegembiraan salah satuya diekspresikan dalam bentuk tawa.

Mana mungkin seorang rohaniwan dan kepala negara bisa bikin gembira umat dan rakyatnya kalau dia sendiri murung, tak pernah gembira dengan dirinya, tidak pernah menampakkan raut muka yang riang. Mustahil ahli agama dan pemimpin negara bisa bikin jemaatnya senang, kalau dirinya  pemarah.

Orang bisa bertahan dengan perut lapar, tapi ketika stres menghinggapi, biasanya sering kali berujung pada tindakan bunuh diri. Humor justru hadir agar orang bisa terbebas dari kesumpekan hidup, bisa melejitkan daya nalarnya dan akhirnya hidup berlama-lama. Hanya ada di NKRI sebuah tragedi masih berkelindan dengan komedi; tentang bekas ketua DPR yang menabrak tiang listrik dan sekarang giliran pohon Sengon yang menabrak elite PLN yang menjadi biang kerok listrik padam. Hanya orang-orang NKRI dalam suasana duka di tanah para nabi masih sempat nyerobi doa tanpa etika. 

Merdeka itu tertawa
Bagi saya, Menuju Indonesia unggul yang menjadi tema HUT ke-74 RI, salah satunya harus dibuktikan dengan keseriusan negara memastikan kemampuannya bikin segenap warga bahagia. Merdeka tidak sekadar bebas dari kolonialisasi Jepang dan Hindia Belanda, tapi juga merdeka ialah rasa riang dalam berbangsa dengan merasakan keadilan yang merata, pengakuan yang setara, serta keterwakilan dalam politik yang saling memuliakan. 
Merdeka ialah rute demokrasi menuju bahagia bersama. Selamat ulang tahun ke-74. Dirgahayu Indonesia.
 

BERITA TERKAIT