15 August 2019, 14:36 WIB

Gojek Bantu Memutar Roda Perekonomian Masyarakat


Faustinus Nua | Ekonomi

DOK.MI/ARYA MANGGALA
 DOK.MI/ARYA MANGGALA
Konvoi para pengemudi Gojek di Jakarta.

GOJEK dinilai sebagai perusahaan yang telah menjalankan ekonomi inklusif. Ekonomi inklusif merupakan sebuah pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berkontribusi signifikan bagi upaya pengentasan kemiskinan dan pemerataan pembangunan.

Hal tersebut diungkapkan Directur Smeru Research Institute, Widjajanti Isdijoso ketika memaparkan presentasinya dalam acara bincang media dengan tema 'Pertumbuhan Ekokomi Digital yang Berkualitas', di Jakarta, Kamis (15/8). Smeru merupakan lembaga kajian independen di bidang kebijakan publik, kebijakan sosial, perdagangan dan ekonomi, pertumbuhan ekonomi, urbanisasi dan pembangunan.

"Gojek yang menyediakan banyak sekali lapangan pekerjaan untuk mitra dari kalangan marginal. Gojek adalah agen digital yang berfungsi mentransfer kesejahteraan dan pemerataan," imbuhnya.

Widjajanti mengakui di Indonesia memang masih ada ketimpangan dalam pemanfaatan teknologi untuk ekonomi inklusif. Hal itu dipengaruhi oleh aksesibilitas internet yang belum memadai di  Tanah Air. Menurut dia, hingga saat ini akses digital di Indonesia berada pada kelompok berpendidikan SMP ke atas (85%). Sementara dari segi usia berada di bawah 40 tahun (80%), sementara berdasarkan kategori wilayah masih didominasi masyarakat perkotaan (70%). Selain itu, dari sisi penggunaan, sebanyak  80% dari 100 juta pengguna internet lebih banyak memanfaatkan untuk mengakses media sosial dan hanya sekitar 18% yang memanfaatkannya untuk jual beli atau transaksi keuangan.

“Karena itu, hadirnya berbagai startup digital di Indonesia tentunya diharapkan dapat meningkatkan dan mendorong pemanfaatan internet untuk pertumbuhan ekonomi digital yang berkualitas,” jelasnya.

VP Public Affairs Gojek Astrid Kusumawardhani menjelaskan, inovasi dan ekosistem Gojek dirancang dari awal supaya banyak masyarakat bisa memanfaatkan teknologi untuk naik kelas.

“Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang ekonomi digital, kami percaya pemanfaatan teknologi merupakan cara paling cepat dan tepat untuk membantu masyarakat lebih sejahtera. Di ekosistem Gojek, sudah ada tiga super-app untuk membantu konsumen, merchant, dan mitra driver,” jelas Astrid.

Saat ini, pada ekosistem Gojek sudah tergabung lebih dari dua juta mitra dari berbagai latar belakang. Teknologi Gojek, tutur Astrid, telah membuka akses ke pendapatan tambahan dan hidup layak bagi masyarakat Indonesia yang sebelumnya sulit mengakses dunia profesional, misalnya kelompok yang rentan secara ekonomi.

Sekitar 80% dari mitra driver Gojek merupakan tamatan SMA ke bawah, lalu 70% dari mitra GoLife adalah perempuan yang merupakan tulang punggung keluarga, dan 1 dari 20 mitra GoMassage dan GoAuto adalah penyandang disabilitas. "Dengan teknologi, Gojek membantu menyetarakan kesempatan ke berbagai lapisan masyarakat agar mereka juga dapat merasakan manfaat dari ekonomi digital,” tambah Astrid.

Komitmen Gojek untuk mendorong ekonomi digital yang inklusif telah terbukti melalui kontribusinya selama ini. Dalam penelitian Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Indonesia (LD FEB UI) pada 2019, Gojek telah berkontribusi berkisar Rp44,2-Rp55 triliun terhadap perekonomian nasional.

BERITA TERKAIT