16 August 2019, 05:10 WIB

Menggaet Wisatawan Milenial dengan Warisan Dunia


Teguh Nirwahyudi | HUT RI

ANTARA FOTO/Ismar Patrizki
 ANTARA FOTO/Ismar Patrizki
Lokomotif uap tua “Mak Itam”, melintas di tepi Danau Singkarak, Solok, Sumatera Barat.

TUUUUUT...tuuuuut...tuuuuut.

Suara Mak Itam membelah pagi di Sawahlunto, Sumatra Barat. Lengkingan suara lokomotif itu merambat jauh hingga lembah dan memantul di dinding bukit yang mengepung kota arang tersebut.

Sejak Mak Itam pensiun, ia ditidurkan di depo. Suaranya yang nyaring tidak pernah terdengar lagi meski bagi warga Sawahlunto suara itu akan terus melekat erat dalam ingatan.

Pagi itu Mak Itam melengking lagi. Beberapa orang sekitar depo diserbu sejuta kenangan yang mengharu biru dalam ingatan yang mulai berkarat. Kereta api ialah sarana transportasi paling canggih saat pertama kali menjajaki lereng-lereng Bukit Barisan hingga Sawahlunto di akhir abad ke-19. Logam hitam dengan suara ketel uap yang khas itu membuat masyarakat Minangkabau kala itu berdecak takjub.

Pedati yang saat itu menjadi angkutan barang paling jamak digunakan masyarakat dengan cepat tergantikan monster besi hitam yang kemudian digelari Mak Itam. Lengking kereta ialah hal yang sangat akrab dengan Sawahlunto.

Dimulai penemuan batu bara di Ombilin oleh WH De Grave pada 1871, jalur kereta api dibangun dari Padang Panjang ke Sawahlunto. Jalur pertama dari Padang Panjang menuju Muaro Kalaban sepanjang 56 kilometer selesai Oktober 1892 dan dilanjutkan menuju Sawahlunto pada 1896. Kereta api itu mengangkut batu bara dari Ombilin hingga pelabuhan Emma Haven.

Namun, suara peluit Mak Itam baru terdengar di Sawahlunto pada 1921 ketika pemerintah Hindia Belanda mendatangkannya dari pabrik Esslingen (Jerman) dan SLM (Swiss) untuk menggantikan lokomotif lama. Setelah itu, lengking nyaring Mak Itam seakan menyatu dengan detak jantung kota itu. Sebuah kota kecil di pedalaman Sumatra, tetapi memiliki fasilitas kelas I di zamannya. Semua atas nama mutiara hitam, batu bara.

Mak Itam ialah lokomotif uap jenis E10 60. Kereta jenis itu dibeli Pemerintah Hindia Belanda melalui perusahaan kereta api Staatsspoorweg ter Sumatra&Westkust (SSS) dari pabrik Esslingen (Jerman) dan SLM (Swiss) pada 1921, 1926, dan 1928. Satu dari dua lokomotif legendaris di Sumbar itu digerakkan tenaga uap dari batu bara atau kayu jati.

Roda giginya mampu memanjat lereng-lereng Bukit Barisan di Sumatra yang memiliki kecuraman 6%-10% dengan menarik muatan 130 ton batu bara.    Lokomotif itu pernah dibawa ke Ambarawa pada 1997 untuk perawatan dan perbaikan. Namun, atas inisiatif Masyarakat Peduli Kereta Api Sumbar (MPKAS) bersama pemerintah daerah pada 3 Desember 2007, Mak Itam dikembalikan ke Sawahlunto dan 2009 beroperasi sebagai kereta api wisata.

Ribuan wisatawan dalam dan luar negeri datang ke Sawahlunto hanya untuk menikmati sensasi naik kereta uap itu. Sayang, karena sudah uzur, Mak Itam hanya melayani hingga Maret 2013. Pada Juni 2016, Mak Itam kembali diperbaiki agar bisa beroperasi lagi, tetapi cuma sebentar. Hingga kini, lokomotif legendaris itu tidak pernah benar-benar berhasil diperbaiki sehingga tidak pernah dioperasikan lagi, bahkan diwacanakan sebagai cagar budaya.

Namun, akhir Juli 2019, peluit Mak Itam kembali terdengar di lereng-lereng bukit Sawahlunto. Mungkinkah Mak Itam dibangkitkan lagi dan menyusuri rel sepanjang 300 kilometer di perbukitan Ranah Minang?

Kepala PT KAI Divre II Sumatra Barat Fredi Firmansyah menyebut, saat ini kondisi Mak Itam siap operasi. Kapan saja dibutuhkan lokomotif uap itu bisa dijalankan. Namun, agar bisa dioperasikan harus ada izin operasi dari Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, dan didukung kondisi rel yang laik.

"Jadi, tidak bisa hanya PT KAI Divre II. Semua saling terkait jika ingin mengoperasikannya untuk mendukung Warisan Budaya Dunia UNESCO di Sawahlunto," kata Fredi.

Ia menyebut operasional Mak Itam untuk pariwisata sebelumnya, PT KAI menyewakan kepada Pemerintah Kota Sawahlunto. PT KAI hanya menyediakan masinis dan perawatan.

Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Nyoman Shuida, menyebut Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) pantas menyandang status warisan budaya dunia karena konsep Tiga Serangkai yang dicetuskan pemerintah Belanda saat itu.

Tiga Serangkai dimaksud meliputi Kota Tambang di Sawahlunto, infrastruktur perkeretaapian, dan Pelabuhan di Teluk Bayur. Artinya, infrastruktur kereta api, baik lokomotif maupun rel, ialah bagian tidak terpisahkan dari WTBOS sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Dengan demikian, bukankah pengaktifan kembali seluruh jalur kereta api di Sumbar, dalam kerangka Warisan Budaya Dunia tersebut, seharusnya mempertimbangkan nilai-nilai sejarahnya.

Setidaknya pendapat itu mirip dengan pemikiran pimpinan KPK Saut Situmorang. Saut menggambarkan bagaimana Sumbar bisa memanfaatkan aset yang ada seperti kereta api untuk menghasilkan pendapatan dengan memberikan sensasi pada wisatawan tentang bagaimana menikmati keindahan persawahan dengan latar Bukit Barisan dan Danau Singkarak.

Aset memang menjadi salah satu dari delapan area intervensi KPK untuk disupervisi dalam konteks pencegahan korupsi. Mungkin itu pula yang mendorongnya bicara tentang kereta api. Aset luar biasa milik Sumbar yang kini teronggok seakan tidak berharga. Padahal untuk Indonesia sekarang, di mana lagi orang bisa merasakan duduk dalam kereta api uap sambil menikmati suara peluit yang khas dan keindahan danau selain di Sumbar?

Pengalaman itu, mungkin adalah pengalaman seumur hidup yang bisa dirasakan terutama bagi generasi milenial yang belum pernah bersua Mak Itam.

Ranny Rastati dalam Jurnal Kajian Jepang Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia pada 2018 menulis milenial ialah generasi yang lebih memilih hiburan sebagai kebutuhan pokok. Mereka lebih suka membeli pengalaman dan melakukan perjalanan untuk mendapatkan pengetahuan baru.

Sebagai generasi yang fasih teknologi, milenial mencari dan membandingkan beberapa referensi sebelum memutuskan berwisata.

Karakter itu tentu saja sangat cocok dengan tema petualangan dan sensasi menaiki Mak Itam peninggalan Hindia Belanda di Ranah Minang.  Sensasinya tidak kalah dari menaiki kereta uap Big Boy di AS yang kembali diaktifkan pada 2019 setelah dipensiunkan pada 1961 atau menikmati keindahan alam Melbourne menggunakan kereta uap Puffing Billy di Australia.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata indonesia Sumbar Ian Hanafiah mengatakan kereta api uap itu aset sangat luar biasa untuk mendukung pariwisata di Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Ia menyebut wisatawan asing sangat tertarik untuk atraksi wisata seperti itu.

Dalam perjalanan wisatawan bisa berhenti di tengah jalan untuk berfoto dan menikmati pemandangan. Sepanjang jalan dari Padang Panjang hingga Sawahlunto banyak spot foto menarik hingga bisa menjadi magnet kuat bagi wisatawan, termasuk para milenial.

"Sekarang Sawahlunto sedang punya momentum untuk menjadi destinasi

unggulan yang mampu menarik ribuan, bahkan jutaan wisatawan. Jangan sampai momentum itu terlewat, lepas begitu saja," katanya.

Tuuttt....Tuuuttt... Dalam ingatan, ia merayapi dinding Bukit Barisan meliuk lewat rerimbunan, air terjun, dan persawahan yang hijau kuning keemasan. Semerbak riak Danau Singkarak terserak dalam kenangan  dalam lengking pagi Mak Itam. (Teguh Nirwahyudi/Ant/P-1)

BERITA TERKAIT