16 August 2019, 04:40 WIB

Pendidik Asing Jangan Langsung Jadi Rektor


Dero Iqbal Mahendra | HUT RI

Dok. 123RF
 Dok. 123RF
Rektor asing tidak menjamin suatu perguruan tinggi negeri dapat langsung berada di peringkat terbaik universitas dunia.

WAKIL Presiden Jusuf Kalla mengatakan kehadiran tenaga pendidik dari universitas asing memang diperlukan untuk meningkatkan standar mutu pendidikan tinggi di Indonesia, tapi sebaiknya WNA itu tidak langsung menjabat sebagai rektor.   

“Saya setuju rektor asing, tapi melalui tahapan sehingga mereka dan universitas juga tidak shocked, rektornya juga tidak shocked. Jadi bisa dimulai dari sebagai penasihat teknis, dekan, baru kalau mau dimajukan jadi rektor,” kata Jusuf Kalla.   

Jika profesor asing langsung menjabat sebagai rektor, itu bisa menyulitkan bagi kedua belah pihak, yakni tenaga ahli dari perguruan tinggi dalam negeri dan tenaga ahli asing itu sendiri.  

“Kalau rektor kan urusannya banyak, ada urusan anggaran, urusan sosial, urusan raker, policy sehingga kalau dari asing bisa bingung dia. Jadi saya bilang dekan dulu, dekan sangat teknis atau malah konsultan teknis dulu masuk.”

Kehadiran tenaga pendidik asing berkualitas, lanjut Wapres, dapat menjadi daya dorong bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk memperbaiki sistem pendidikan tingginya. Apalagi, kemajuan teknologi semakin cepat berkembang dan kualitas sumber daya manusia Indonesia harus meningkat.

“Kita perlu standar global karena teknologi sudah sangat cepat. Universitas kita juga harus cepat majunya sehingga dipandang perlu ada daya dorong lebih kuat yang salah satunya mendatangkan dosen-dosen dan ahli-ahli.”

JK mengatakan kehadiran tenaga pendidik dan ahli dari luar negeri merupakan salah satu bagian dari program kerja sama antara universitas asing terbaik dan perguruan tinggi di Indonesia.  

Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) menargetkan sedikitnya lima PTN akan dipimpin rektor terbaik dari luar negeri pada 2024. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas PTN dalam menciptakan lulusan di era persaingan global.

Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP) Yanuar Nugroho menjelaskan, wacana pemerintah soal perekrutan rektor asing yang berkembang sebenarnya berkaitan dengan kualifikasinya berskala internasional, bukan kewarganegaraannya. Hal ini menjadi polemik belakangan ini di antara masyarakat.

“Sebenarnya ini persolannya bukan antara orang asing atau orang kita, tetapi rektor dengan kualitas dan kualifikasi internasional,” katanya.   

Ia menjelaskan wacana rektor asing adalah membangun ekosistem pimpinan dan pengajar dengan kualifikasi internasional, misalnya terakreditasi Indonesia Accreditation Board for Engineering Education (IABEE).   

 

Tidak menjamin

Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Panut Mulyono menilai keberadaan rektor asing tidak menjamin suatu perguruan tinggi negeri dapat langsung berada di peringkat terbaik universitas dunia karena masalah akademis di luar negeri berbeda dengan di Indonesia. 

Terlebih, untuk membawa PTN ke peringkat terbaik dunia, menurut Panut, lebih baik dilakukan profesor dan dosen dari dalam negeri sendiri.  

“Saya kira problematika kita berbeda dengan problematikan di negara-negara maju. Kalau untuk membawa lingkungan perguruan tinggi kita ke dunia yang lebih luas, itu lebih baik menurut saya adalah orang-orang dari kita,” kata Panut.   

Panut menegaskan yang terpenting dilakukan saat ini ialah meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di dalam negeri dengan mendorong PTN untuk bekerja optimal supaya masuk dalam daftar peringkat universitas terbaik dunia.   

Kriteria bagi PTN untuk dapat masuk daftar peringkat terbaik dunia pun sudah jelas, antara lain diukur dari banyaknya publikasi jurnal terindeks internasional, jumlah sitasi dan lulusan yang diterima di perusahaan ternama.  

“Peringkat dunia itu kan diukur dari prestasi yang dicapai oleh perguruan tinggi. Jadi prinsipnya ya bagaimana kita ini meningkatkan kualitas pendidikan tinggi kita, bahwa untuk ranking dunia kriterianya adalah jumlah publikasi, jumlah sitasi, kemudian juga income dari industri,” jelasnya.   

Publikasi tahunan terhadap peringkat universitas dunia biasanya mengacu pada Quacquarelli Symonds World University Rankings dan Times Higher Education World University Rankings. 

Berdasarkan QS World University Rankings 2019/2020, PTN yang paling baik masuk dalam daftar berada di peringkat 296, yakni Universitas Indonesia (UI), diikuti Universitas Gajah Mada (UGM) di peringkat 320, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) di peringkat 331 dunia.  Sementara itu, menurut The World University Rankings, UI berada di urutan 600-800 dunia diikuti ITB di peringkat 801-1000 dunia. (P-1)

BERITA TERKAIT