16 August 2019, 04:30 WIB

Meningkatkan Kualitas SDM UMKM Menumbuhkan Perekonomian Nasional


Raja Suhud | HUT RI

ANTARA FOTO/Saiful Bahri
 ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Perajin menyelesaikan pembuatan batik di Desa Klampar, Pamekasan, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. 

SEKRETARIS Kementerian Koperasi dan UKM Rully Indrawan menyatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sektor UMKM akan melesatkan pertumbuhan nasional karena tenaga kerja banyak bekerja di UMKM.

Rully Indrawan dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (14/8), menyebutkan data Kemenkop UKM menunjukkan, dalam hal penyerapan tenaga kerja nasional, UMKM berkontribusi sebesar 97%.

"Dengan demikian, kehadiran dan peningkatan kualitas SDM UMKM juga memiliki peran strategis dalam upaya pemerintah mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran," katanya.

Rully memaparkan, pihaknya menyadari bahwa UMKM masih menghadapi tantangan tidak ringan yang salah satunya ialah masih terbatasnya keterampilan SDM.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi jumlah penduduk usia produktif sebesar 68% dari total populasi 267 juta jiwa.

"Momentum ini diperkirakan bisa mendongkrak ekonomi Indonesia tumbuh lebih positif karena dominasi penduduk berusia produktif bisa banyak berkontribusi ke pertumbuhan ekonomi. Namun, hal ini juga bisa berdampak negatif jika aspek seperti pendidikan, kesehatan, dan peluang lapangan pekerjaan tidak terencana dan terkelola dengan baik," katanya.

Sebelumnya, Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) menyatakan apabila omzet usaha mikro, kecil, dan menengah didorong untuk naik sebesar 30%, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 7%.

"Jangan main-main dengan usaha mikro, kecil, dan menengah. Kalau kemudian kita bisa meningkatkan omzet 30% saja, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat melebihi 7%," ujar Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta.

Arif mengatakan pelaku usaha mikro dan kecil saat ini berkisar 63 juta unit usaha, yang terbagi atas 62 juta pelaku mikro dan 750 ribu orang pelaku usaha kecil. Apabila unit usaha itu didorong untuk naik kelas maka Indonesia akan terlepas dari stagnasi 5%.

"UMKM memberikan kontribusi terhadap PDB 60%, tapi akses perbankan hanya 20%. Kalau diberikan akses yang lebih besar lagi, mereka akan naik kelas," kata dia.

Upaya peningkatan omzet itu dibutuhkan akses permodalan serta akses pasar. Cara lainnya, yakni dengan melibatkan UMKM dalam aktivitas investasi dan ekspor, hingga melarang masuknya perusahan besar untuk sektor usaha yang layak digarap UMKM.

"UMKM ini merupakan market yang sangat besar. Ada dua persoalan utama yang dihadapi pertama akses pasar, kedua akses permodalan. Apabila kita dorong maka ekonomi akan tumbuh di angka 7%," kata dia.

 

Meningkatkan ekspor

Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM Victoria Simanungkalit menambahkan, tantangan produk UMKM lainnya di antaranya nilai ekspor produk UMKM baru sebesar 14%.

"Untuk itu, kami akan terus mendorong kualitas produk UMKM, khususnya dalam bidang kemasan. Dengan kemasan yang baik, akan berdampak pada meningkatnya nilai produk itu sendiri," katanya.

Victoria menilai kemasan merupakan bagian penting dari strategi marketing.

"Tidak sekadar mewadahi dan melindungi, kemasan merupakan unsur yang memengaruhi minat konsumen pada sebuah produk yang berujung pada jumlah penjualan," imbuh Victoria.

Menurutnya, sangat disayangkan apabila produk unggul tidak mampu menembus pasar hanya karena kemasannya tidak menarik atau kurang memberi informasi yang dibutuhkan pembeli. Selain soal kemasan, lanjut Victoria, standardisasi dari sebuah produk menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan.

"Kita harus selalu ingat bahwa ke depan tuntutan pasar semakin meningkat. Kita harus siap menghadapi itu. Terlebih lagi, kita sudah menerapkan standar produk (SNI, red.) untuk produk luar yang masuk ke Indonesia. Kita harus terus meningkatkan standardisasi produk hingga bisa berstandar internasional," tandasnya.

Saat ini sejumlah pihak telah menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk menembus pasar ekspor. Misalnya saja misi-misi dagang yang gencar dilakukan pemerintah terus melibatkan pelaku usaha UMKM. Dengan demikian, produk mereka makin dikenal pembeli di luar negeri dan tercipta hubungan bisnis yang berkesinambungan. (*/E-3)

BERITA TERKAIT