16 August 2019, 03:50 WIB

Menuju Raksasa Digital di Asia Tenggara


Nur Aivanni | HUT RI

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
 ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan pengarahan dalam seminar internasional Transformasi Digital untuk Ekonomi Indonesia.

PEMERINTAH terus mendorong upaya pengembangan ekonomi digital, baik melalui basis industri maupun perdagangan elektronik (e-commerce).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, salah satu kunci sukses pelaksanaannya ialah penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology/ICT).

“Pemerintah telah membangun infrastruktur dalam bentuk jaringan fiber optik, proyek Palapa Ring, dan kapasitas bandwidth yang diperbesar," kata Airlangga beberapa waktu lalu.

Peningkatan penggunaan smartphone di Tanah Air, sambungnya, juga membuat penerapan ekonomi digital jadi semakin kuat dan cepat.

Dalam pengembangan ekonomi digital berbasis industri atau nilai tambah, lanjut dia, pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah dalam menghadapi era industri 4.0.

Daya saing manufaktur dan potensi ekonomi digital yang ada di Indonesia, jelasnya, harus diimbangi dengan inovasi teknologi. Untuk itu, dibutuhkan pusat-pusat inovasi industri untuk menunjang peningkatan sumber daya manusia (SDM), kemajuan teknologi, dan penumbuhan wirausaha baru.

Salah satu bentuk nyatanya, terang dia, ialah pembangunan Nongsa Digital Park (NDP) di Batam. Kawasan itu akan menjadi basis sejumlah pelaku industri kreatif di bidang digital, seperti pengembangan startup, web, aplikasi, program-program digital, film, dan animasi.

Sementara itu, untuk yang berbasis platform e-commerce, pemerintah mulai mefasilitasi dalam proses logistik, kemudahan impor tujuan ekspor, dan pembiayaan.

“Kami telah membuat harmonisasi regulasi, termasuk perpajakan, cukai, dan payment gateway sehingga bisa membuat produk lokal beredar di pasar ASEAN,” ucapnya.

Kemenperin juga telah memacu perluasan pasar bagi industri kecil dan menengah (IKM) melalui pembangunan sistem e-Smart IKM.

Airlangga memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020 dengan menargetkan 1.000 technopreneur dengan valuasi bisnis mencapai US$100 miliar dan total nilai e-commerce sebesar US$130 miliar.

 

Tantangan ekonomi digital

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung mengatakan, Indonesia harus bisa mengambil peluang investasi di bidang ekonomi digital. Potensi investasi ekonomi digital di Indonesia masih sangat besar, apalagi iklim usaha di Indonesia bagi ekonomi digital, misalnya, startup atau perusahaan rintisan, sudah cukup mendukung.

"Mengambil potensi investasi di bidang ekonomi digital jelas bisa," kata Ignatius.

Perkembangan ekonomi digital di Indonesia saat ini, menurutnya, cukup signifikan untuk mendongkrak pertumbuhan investasi. Ke depan, momentum pertumbuhan startup masih akan tetap terjaga.

Kendati demikian, ia mengingatkan pertumbuhan tersebut akan mulai melambat pada suatu waktu.

Ia menuturkan, ada sejumlah tantangan yang akan dihadapi ekonomi digital di Indonesia.

Pertama, menyangkut logistik, terutama bagi e-commerce. Indonesia sebagai negara kepulauan perlu didukung dengan infarstruktur yang memadai.

Kedua, talenta di sektor ekonomi digital. Ketiga, kejelasan sebuah aturan yang menyangkut keberlangsungan sektor ekonomi digital.

Sementara itu, untuk menopang perkembangan ekonomi digital, menurut Ignatius, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pertama, pemerataan broadband internet. Kedua, regulasi yang tidak terlalu mengatur-atur sektor ekonomi digital.

"Aturannya harus longgar. Hanya saja, ketika dibutuhkan sebuah aturan untuk menjaga persaingan usaha yang sehat, pemerintah tidak boleh terlambat," terang Ignatius.

Ketiga, peningkatan kualitas SDM. Menurutnya, dunia pendidikan, terutama di tingkat universitas, seharusnya bisa segera menyesuaikan mata kuliahnya seiring dengan berkembang pesatnya teknologi digital. Dalam hal itu, pemerintah mempunyai peran dalam melakukan reformasi di dunia pendidikan.

"Pertumbuhan ekonomi digital ini trennya cepat sekali, kita enggak bisa menunggu bertahun-tahun. Jadi birokrasinya harus dikurangi," ucapnya.

Tidak kalah penting, lanjut dia, masyarakat juga perlu diedukasi bahwa masa depan ialah era digital.

 

Market size membesar

Hingga Februari 2019, jumlah perusahaan startup di Indonesia sudah mencapai 2.070 perusahaan dengan pertumbuhan tertinggi di tiga sektor, yaitu on-demand services, financial technology (fintech), dan e-commerce.

"Perkembangan industri startup yang cukup cepat ini harus segera direspons oleh pemerintah, terutama BKPM sebagai lembaga negara yang melaksanakan fungsi pelayanan dan pelaksanaan penanaman modal," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong.

Dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143 juta orang atau 54% dari total populasi dengan jumlah pemilik smartphone dan mobile internet mencapai 90 juta (statista).

Riset Google dan Temasek juga menyebutkan bahwa market size ekonomi digital di Indonesia mencapai US$27 miliar dan berpotensi menjadi US$100 miliar pada 2025.

Dari aliran investasi asing per tahun di level US$20 miliar-US$25 miliar, diperkirakan 10% disumbang dari sektor ekonomi digital.

Lembong pun menyampaikan, ekonomi digital merupakan salah satu sektor yang menyelamatkan laju investasi internasional Tanah Air. Pesatnya perkembangan ekonomi digital di beberapa sektor mampu mengubah pola usaha, dari offline menjadi online dan mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan.

"Tahun lalu, laju global FDI turun di kisaran 20%. Akhir tahun ini hingga awal tahun ini kita sudah melihat investasi mulai kencang lagi," katanya.

Salah satu sektor yang sangat terbantu dengan maraknya ekonomi digital, sambung Lembong, ialah sektor pariwisata. Pariwisata menjadi salah satu mesin bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. (E-2)

BERITA TERKAIT