16 August 2019, 03:10 WIB

Dari Pemuda untuk Warganya


Liliek Dharmawan | HUT RI

MI/Liliek Dharmawan
 MI/Liliek Dharmawan
Kawasan datara tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng) menyimpan magnet wisata yang luar biasa.

CUACA cerah saat pemotongan rambut gimbal digelar, Minggu (4/8). Di tengah inti rangkaian pagelaran Dieng Culture Festival 2019, Farah, 23, pengunjung asal Jakarta asyik mengabari rekannya lewat video call.

Kamera telepon selulernya menyorot suasana ritual pemotongan rambut gimbal yang berlangsung di Kompleks Candi Arjuna di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, itu. Sebelumnnya, aksi serupa juga dilakukan artis Isyana Saraswati, yang tampil mengisi acara pada malam harinya. Lewat media sosial, ia mengunggah foto saat pentas berlangsung.

"Kami berterima kasih kepada pengunjung dan artis yang secara sukarela mengunggah perhelatan DCF 2019. Aksi mereka menjadi promosi gratis sehingga berdampak baik bagi DCF di masa mendatang," ungkap Sekretaris Desa Dieng Kulon, Sabar Alfarizi.

Dataran Tinggi Dieng, tempat digelarnya rangkaian festival itu, berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Beberapa tahun terakhir, daerah itu memperoleh sinyal telepon seluler yang cukup kuat.

DCF pun mendunia, terutama karena aksi kalangan milenial. Pengunjung dari luar kota pun membanjir, baik dari Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Solo, bahkan sejumlah turis asing.

Dieng Kulon yang merupakan desa terpencil kini telah menjadi desa berdaya. Kearifan lokal masyarakat setempat, yakni pemotongan rambut gimbal tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga telah dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi daya tarik wisata.

"Pihak desa bersama dengan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara terus membangun infrastruktur wisata, terutama tempat parkir dan jalan. Perpaduan infrastruktur bagus, wisata inovatif, ditambah lagi dengan akses internet yang baik menjadikan DCF setiap tahun diserbu pengunjung," aku Kepala Desa Dieng Kulon, Slamet Budiono.

 

Ekonomi tumbuh

Karena wisata, lanjutnya, saat ini masyarakat di Dieng Kulon jauh lebih berdaya. Kalau dulu para pemuda menganggur, kini tidak lagi. Mereka yang jadi petani, ada tambahan pekerjaan menjadi pemandu wisata atau pembawa ransel wisatawan.

Sekitar 300 homestay milik warga pun tumbuh. Warung makan dan penjualan oleh-oleh khas Dieng, seperti purwaceng dan carica juga berkembang cepat.

"Inilah dampak bagus dari pembangunan wisata di Dieng. Alhamdulillah, masyarakat semakin sejahtera," jelas Slamet.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Dwi Suryanto, mengatakan pemerintah juga tidak tinggal diam. Mereka ikut serta mendorong pengembangan wisata di Dieng, terutama membangun infrastruktur pendukung sehingga pengunjung yang datang semakin nyaman.

Tahun ini, pengunjung DCF ke-10 sangat besar. Sekitar 177 ribu pengunjung domestik datang dan 930 turis asing.

"Jika dihitung, jumlah nominal yang beredar selama penyelenggaraan DCF mulai 2-4 Agustus lalu, mencapai Rp70 miliar. Nilai yang cukup fantastis. Itu semua berkat acara yang inovatif serta promosi yang terus menerus, terutama melalui media sosial," jelas Dwi.

Dieng yang biasa disebut ‘Negeri di Atas Awan’ memang telah menjadi ikon wisata yang mendunia dengan pergelaran DCF setiap tahunnya. Perjuangan menuju ke sana tidak mudah. Penggagas perdana pagelaran itu ialah para pemuda yang bergabung menjadi Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa di Dieng Kulon.

"Pertama kali para pemuda dan masyarakat Dieng menggelar Pekan Budaya Dieng. Tetapi kemudian, berubah menjadi DCF. Ketika awal DCF digelar, Pokdarwis Dieng Pandawa telah menggandeng kawan-kawan yang bergerak di medsos," ujar Ketua Dieng Pandawa Alif Faozi.

 

Terus berjuang

Pada 2010, promosi dilakukan lewat Facebook. Namun, dari target 300 pengunjung, hanya 100 yang datang. Acara utama dari awal ialah pemotongan rambut gimbal.

Mereka tidak patah arang. Berbagai kreasi dan inovasi terus dilakukan sehingga DCF menjadi booming, tiga tahun kemudian.

Sejumlah inovasi di antaranya konser Jazz Atas Awan, untuk menggaet kalangan milenial. Pertunjukan musik itu makin meriah dengan dibarengi acara pelepasan lampion.

"Sampai tahun ini, konser musik Jazz Atas Awan, pelepasan lampion, dan pemotongan rambut gimbal menjadi ikon yang tak tergantikan," tambah Alif.

Sejak awal digelarnya DCF, Pokdarwis Dieng Pandawa telah menelurkan konsep community based tourism dengan mengandalkan kekuatan sumber daya lokal dan jejaring media sosial. Konsepnya sederhana, yakni dari warga untuk warga dan oleh warga.

Dari awal perhelatan DCF, dana didapat dari iuran anggota. Seorang anggota diwajibkan menyumbang Rp50 ribu. Pemerintah kabupaten juga menyumbang sebesar Rp10 juta. "Ada dari sponsor dan sumbangan lain sehingga total biaya Rp25 juta bisa tertanggulangi," lanjutnya.

Kegotongroyongan warga sampai sekarang masih terus dilestarikan meski biayanya membengkak. Untuk perhelatan DCF setiap tahun, kini anggarannya mencapai Rp2 miliar.

Sebagian besar dananya dari warga. Pemilik homestay menyumbang Rp500 ribu-Rp750 ribu per orang. Di Desa Dieng Kulon saja ada 300-an homestay, belum desa sekitarnya Dieng Wetan dan Karangtengah. Setiap homestay menyediakan beberapa kamar sehingga total kamar di Dieng ini jumlahnya mencapai 5.000-an.

Kini, DCF yang dihelat dari desa kecil dan terpencil, berada di atas  ketinggian 2.000 mdpl telah mendunia sebagai ikon wisata Banjarnegara.

Dampaknya begitu terasa, menyejahterakan warga. (N-2)

BERITA TERKAIT