16 August 2019, 01:00 WIB

Kompetisi Tingkatkan Daya Saing


Despian Nurhidayat | HUT RI

ANTARA FOTO/Yossy WIdya
 ANTARA FOTO/Yossy WIdya
Ilustrasi -- Sejumlah atlet berlari beradu kecepatan

UNTUK bisa meningkatkan daya saing atlet, dibutuhkan kompetisi. Sebelumnya, atlet tersebut harus dibina. Pastinya, atlet tersebut juga buah dari proses seleksi. Itu semua yang menurut Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) telah dilakukan selama ini. Hasilnya pun sudah bisa terlihat, terdapat beberapa atlet PASI yang berjaya di kompetisi internasional.

"Cara yang dilakukan PASI sebenarnya sama seperti induk cabang olahraga lain. Kami juga punya program pemusatan latihan nasional (pelatnas), di situ dibina lebih intensif lagi, sampai akhirnya berhasil di tingkat dunia," kata Sekretaris Jenderal PASI Tigor Tanjung.

Dia menambahkan bahwa untuk saat ini, pembinaan bahkan tidak hanya dilakukan oleh induk cabang olahraga saja. Pemerintah sendiri melalui (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) PPLP terus mendidik atlet-atletnya. Apa yang dilakukan pemerintah oleh Tigor dirasa membantu dalam hal penyaringan. "Pada akhirnya bagi kami jadi mudah untuk menemukan bakat-bakat dan sumber daya manusia yang mumpuni," sambung Tigor.

Kompetisi terdekat saat ini yang akan dihadapi atlet-atlet PASI, ialah SEA Games 2019. Digelar di Filipina, SEA Games pun dijadikan ajang untuk membuktikan hasil pembinaan yang sudah dijalani selama ini. Namun, Tigor menekankan bahwa ada baiknya SEA Games lebih diposisikan sebagai salah satu rangkaian pembinaan jangka panjang.

"Bicaranya jangan lagi SEA Games 2019, tapi harusnya 2023. Harus jangka panjang karena target jangka pendek menjadikan kita gagal melakukan regenerasi. Kita jadinya mengandalkan atlet yang itu-itu saja," jelas Tigor.

Selanjutnya, Tigor juga menyarankan agar SEA Games dapat dilihat dengan lebih jernih. Terlebih pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), menginginkan agar lebih banyak atlet pelapis atau junior yang dilibatkan. Jika menyertakan atlet muda, Tigor mengatakan Indonesia tidak bisa mematok target yang muluk-muluk di SEA Games. "Menurut saya tidak apa-apa kita enggak meraih posisi empat besar layaknya Asian Games. Karena SEA games kan siklusnya dua tahun, jadi biasanya (atlet) belum matang juga," sambung Tigor.

Adapun untuk persiapan menghadapi SEA Games, Tigor mengungkapkan bahwa itu sudah dilakukan sejak tahun lalu. Pelatnas terus dilakukan tanpa henti. Pelatnas itu ditujukan untuk dua perhelatan. Pertama, ialah olimpiade dan kedua, SEA Games. Untuk olimpiade, PASI telah menerjunkan banyak atletnya ke rangkaian turnamen yang memiliki poin untuk masuk ajang empat tahunan itu.

"Tapi, kelihatannya yang bisa sampai ke Olimpiade 2020 hanya (Lalu Muhammad) Zohri. Karena dia sudah lolos kualifikasi. Sementara yang lain-lainnya, tidak ada harapan lagi," kata Tigor yang mengatakan bahwa bagi atlet yang tidak lolos kualifikasi bisa saja akan diikutkan ke SEA Games.

Peningkatan performa

Nama Zohri di dunia olahraga belum ramai dibicarakan hingga akhirnya atlet asal Nusa Tenggara Barat itu menyabet medali emas di Kejuaraan Dunia Atletik Junior dua tahun lalu. Zohri yang kala itu masih berusia 17 tahun turun di nomor lari 100 meter dan mencetak catatan waktu 10,18 detik. Zohri kemudian berhasil melaju lebih cepat lagi ketika mengikuti Seiko Golden Grand Prix di Jepang pada Mei kemarin dan membukukan waktu 10,03 detik. Sayangnya, saat itu ada yang lebih cepat darinya. Namun, catatan waktu yang dibuat Zohri berhasil membuatnya masuk olimpiade tahun depan yang memiliki batas waktu 10,05 detik.

Sembari menunggu tahun depan, Zohri pada awal bulan ini mengikuti Kejuaraan Nasional Atletik yang diperuntukkan bagi junior dan senior. Tapi, dia turun di nomor lari 200 meter. Walau sebenarnya itu bukan lah nomor yang biasa dia ikuti, Zohri tetap mampu berprestasi. Dia bahkan memecahkan rekor nasional tingkat junior milik Franklin Burumi, yang pada 2009 membukukan waktu 21,27 detik, karena berlari hanya dalam waktu 21,14 detik di babak penyisihan. Sementara di babak final, Zohri hampir menembus rekor nasional tingkat senior yang masih dipegang Suryo Agung Wibowo yang pada 2007 mencetak 20,76. Sementara Zohri baru bisa menembus 20,81 detik.

"Memang bukan target saya untuk mecahin rekor Suryo. Selain itu, di Kejurnas ini saya disuruhnya 90% sama Ibu (Eni Nuraeni)," kata Zohri saat itu. Eni merupakan pelatih Zohri yang saat ini juga menangani sejumlah sprinter binaan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI).

"Ada kejuaraan dunia di Doha, Qatar. Itu target yang dikejar. Saya akan turun di nomor 100 meter. Targetnya bisa lari di bawah 10 detik," sambung Zohri yang yakin lawan yang akan dihadapi di Doha sangat lah tangguh.

Di sisi lain, Zohri mengungkapkan kesannya mengikuti nomor 200 meter yang bisa dibilang bukan lah sektor yang dia geluti. "Sebenarnya karena saya sudah lama enggak turun di nomor 200, itu pun lawannya senior. Makanya sekarang buat nyoba hasil latihan di sini. Saya bersyukur sekali lah udah dapat segini," lanjutnya.

Sementara itu, Eni menilai Zohri sudah sangat maksimal di kejurnas. Eni membenarkan bahwa Zohri memang sengaja dibuat tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk melihat kesiapan Zohri menatap kejuaraan dunia. (R-3)

BERITA TERKAIT