15 August 2019, 07:20 WIB

Harta Tersembunyi di Pegunungan Meratus


(DY/H-2) | Humaniora

Dinas TPH Banjar
 Dinas TPH Banjar
Tanaman Obat Di Pegunungan Meratus

TEMUAN obat penyembuh kan-ker dari kayu bajakah di Kali-mantan Tengah, hasil riset siswa SMAN 2 Palangka Raya, mendadak viral di media sosial. Riset yang didasari kearifan lokal suku Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan itu pun membuka mata kita, atas begitu besarnya potensi tanaman obat di Indonesia.

Dr Sutomo, Peneliti pada Program Studi Farmasi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengatakan, Kalimantan tidak hanya menyimpan harta kekayaan berupa hasil hutan alam maupun sumber daya mineral, tapi juga hasil hutan nonkayu yang berkhasiat untuk pengobatan.

Di Pengunungan Meratus, misalnya, beragam jenis tanaman hutan telah dimanfaatkan masyarakat lokal secara turun-temurun sebagai obat tradisional. Beberapa obat tradisional ini bahkan sudah terkenal hingga mancanegara, di antaranya pasak bumi, tapak barito serta kayu manis.

Pegunungan Meratus seluas 9.113,48 kilometer persegi menjadi bagian delapan kabupaten di Kalsel. Lokasinya berada di tenggara Kalimantan, membentang di bagian utara-selatan sepanjang 600 kilometer persegi hingga perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

"Kawasan hutan Pegunungan Meratus memiliki keanekaragam-an hayati yang bisa dikembangkan bagi kebutuhan masyarakat, salah satunya yakni beragam jenis tanaman obat (herbal) yang mempunyai kegunaan atau nilai lebih dalam pengobatan," kata Sutomo, belum lama ini.

Dari penelitian yang dilakukan di kawasan hutan Pegunungan Meratus selama setahun, ada lima jenis tanaman liar yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku farmakope herbal, yakni matoa, jualing, bilaran tapah, racun ayam, dan mundar. Tanaman-tanaman itu memiliki senyawa antioksidan untuk pengobatan kanker, jantung, dan sebagainya.

"Masih ada banyak jenis tanam-an hutan Meratus lain yang belum banyak orang tahu," sebut Sutomo.

Dengan potensi hutan yang terpendam itu, Pemprov Kalsel berencana membangun Pusat Penelitian Tanaman Obat Endemik Kalimantan di Kebun Raya Banua di Kota Banjarbaru. "Kami telah memiliki 720 jenis atau 6.152 spesies tanaman pada lahan seluas 100 ha," kata Kepala UPT Kebun Raya Banua Kalsel, Agung Sriyono.

Sebagai salah satu lokasi tujuan pariwisata di Kalsel, kebun raya ini juga populer di mata wisatawan. Tercatat jumlah pengunjung ke Kebun Raya Banua pada 2018 sebanyak 17.188 dan meningkat menjadi 31.085 orang. (DY/H-2)

BERITA TERKAIT