14 August 2019, 21:56 WIB

Inovasi Alas Kaki untuk Jemaah Haji


Dhika Kusuma Winata | Humaniora

MI/Dhika Kusuma Winata
 MI/Dhika Kusuma Winata
Inovasi alas kaki dari Syarief Hasan Lutfie

DIREKTUR Utama Rumah Sakit Haji Jakarta Syarief Hasan Lutfie memperkenalkan inovasi alas kaki untuk mencegah kelainan kaki datar atau kaki bebek (pes planus).

Alas kaki yang diciptakan itu ditujukan untuk jemaah haji yang lazimnya kerap menyepelekan kondisi kaki dalam menjalani ibadah yang banyak menguras aktivitas berjalan.

"Mengenai fisik kaki jarang ada yang memperhatikan. Padahal kaki itu bagian tubuh utama yang digunakan untuk tawaf, sa'i, dan lainnya. Jika diabaikan permasalahan kaki ini maka jemaah akan cepat mengalami kelelahan hingga kehabisan energi atau yang kita kenal dengan fatigue," kata Syarief di Jakarta, Rabu (14/8)

Pria yang juga dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi itu mendesain insole alas kaki khusus untuk jemaah haji. Produk alas kaki yang diberi nama SHL didesain secara khusus untuk mengurangi kontraksi otot kaki sehingga mampu meminimalisir tenaga yang dikeluarkan penggunanya.

Menurutnya, kondisi kelainan kaki datar masih kerap disepelekan. Ia mengatakan ada sekitar 20% orang Indonesia mengalami kaki datar. Dalam jangka panjang kelainan kaki datar berdampak menurunnya produktivitas karena tubuh cepat merasa kelelahan.

Baca juga : 20% Orang Indonesia Alami Kelainan Kaki Datar

"Kaki datar memengaruhi kemampuan kaki untuk berjalan. Saat seseorang melakukan gerakan mengungkit kaki, dia akan menggeser berat badan ke jempol kakinya sehingga kontraksi otot-otot tungkai akan bertambah," jelasnya.

Penelitian doktoralnya beberapa tahun lalu mengungkapkan prevalensi orang Indonesia mengidap kaki datar juga dialami jemaah haji. Salah satu faktor utama penyebab kaki datar, ujarnya, ialah pengaruh penggunaan alas kaki.

Pasalnya, di Indonesia jarang alas kaki yang memiliki lapisan insole. Lapisan tersebut menyangga lekuk telapak kaki dan menopang kaki untuk berjalan dengan benar.

Penelitiannya terinspirasi saat ia memulai karier di Kementerian Kesehatan dan melihat tren kelainan kaki pada jemaah. Menurutnya, kondisi kaki manusia sangat beragam.

Ia menggambarkan sebagian orang ada yang tungkai kakinua pendek sebelah, ada pula yang mengalami kaki datar.

Ia kemudian mengumpulkan data-data dan mengambil riset disertasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia untuk melakukan penelitian kemampuan endurance pada jemaah haji yang memiliki kaki datar.

Ia pun melihat masalah tersebut muncul karena tidak adanya upaya preventif yang maksimal.

"Ternyata banyak hal yang bisa dilakukan sebagai upaya preventif bukan hanya kondisi klinis penyakitnya tetapi juga terkait dengan anatomi dan fisiologi calon jemaah tersebut. Anatomi itu termasuk anatomi kaki dan anatomi tungkai," ucap dokter yang mengambil post doctoral di Keio University Hospital di Tokyo, Jepang itu. (OL-7)

BERITA TERKAIT