15 August 2019, 00:20 WIB

Jawa Tengah Keroyokan Atasi Krisis Air Bersih


(AS/JS/AD/Opn/LD/LN/DW/UL/N-2) | Nusantara

MI/LILIEK DHARMAWAN
 MI/LILIEK DHARMAWAN
Sejumlah anak membuka kran dari bak penampungan  di Desa Batuanten, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tenga

 BERBAGAI upaya untuk mengatasi dampak kekeringan terus dilakukan. Di Jawa Tengah, sistem keroyokan dilakukan untuk membantu warga yang wilayahnya krisis air bersih.

"Sebanyak 1.319 desa di 27 kabupaten dan kota sudah terdampak kekeringan. Namun, baru tiga daerah yang mengajukan bantuan ke provinsi untuk ikut menanggulangi dampaknya," aku Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah, Sudaryanto, di Semarang, Rabu (14/8).

Ketiga daerah itu ialah Wonogiri, Pati, dan Temanggung. Anggaran penanggulangan ke-keringan di ketiga daerah itu terbatas.

BPBD Jawa Tengah tidak tinggal diam dan membantu dengan pengiriman air bersih. Bantuan air bersih juga mengalir dari sejumlah lembaga swasta. "Sampai saat ini, penanggulangan dampak kemarau di Jawa Tengah masih bisa dilakukan. Cara keroyokan mampu mengatasi kekurangan pendanaan di daerah," lanjut Sudaryanto.

Masih di Jawa Tengah, BPBD Kabupaten Klaten meminta camat untuk cepat tanggap dalam menanggulangi krisis air bersih. "Warga akan cepat tertolong jika camat cepat dalam melaporkan situasi di lapangan," ungkap Kabid Kedaruratan BPBD Yuwana Haris.

Dampak kemarau di sejumlah daerah semakin memprihatinkan. Di Kota Tasikmalaya, warga menggunakan air Sungai Ciangir untuk berbagai keperluan, teramsuk mandi. Padahal, aliran sungai itu secara kasatmata terlihat kotor. "Kami manfaatkan air dari sungai yang mengalir ke kolam ikan. Kami menggunakannya untuk mandi, cuci piring, dan cuci pakaian," aku Euis Komariah, 41, warga Kampung Cimuncang, Kelurahan Sukamulya, Bungursari.

Kekurangan air juga membuat petani sayur di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, berhenti menanam. "Sudah tiga bulan kami sulit menanam. Pada awalnya kami tetap menanam, tapi karena kekurangan air, sayur jadi rusak dan kami merugi," ujar Amran Juha, 49, petani di Desa Binangga, Kecamatan Marawola.

Kekeringan, ujar Indar Jaya, 46, petani lain, membuat dia tidak mendapat penghasilan selama dua bulan terakhir. "Sudah putar otak untuk dapat penghasilan, tapi tidak ketemu juga." (AS/JS/AD/Opn/LD/LN/DW/UL/N-2)

BERITA TERKAIT