14 August 2019, 20:29 WIB

Mentas dari Kebutekan, Noah Lahirkan Keterkaitan Keterikatan


Abdillah Marzuqi | Weekend

MI/Abdillah Marzuqi
 MI/Abdillah Marzuqi
Suasana peluncuran album kedua grup musik Noah, di Jakarta, Rabu (14/8)

Proses kreatif tidak semudah membalik telapak tangan. Tidak peduli sehebat apapun, setiap musikus pasti pernah mengalami kemandekan kreativitas.

Begitu pula yang terjadi pada kelompok musik Noah, yang hari ini (14/8) akhirnya merilis album terbaru bertajuk Keterkaitan Keterikatan. Proses Pembuatan album kedua Noah kali ini terbilang cukup lama yakni lebih dari 2 tahun.

Diakui Ariel, sang vokalis, dalam penggarapan album itu ada banyak faktor yang menjadi biang dari molornya perilisan album itu. "Itu sih bukan buntu lagi, butek," sahut Ariel saat membeberkan proses album yang lumayan lama, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (14/8).

Menurut Ariel, meski dikenal sebagai musisi, para personel grup band itu juga punya kehidupan sehari-hari. Kehidupan itu tidak berlaku layaknya panggung yang bisa terus menerus menjadi lahirnya karya musik. Ada kalanya, semua mengalir begitu lancar. Kata-kata dalam lagu seolah keluar sendiri.

"Karena dalam kehidupan kita berubah-berubah (interest) gitu. Kayak saya waktu SMA tiap hari baca buku, pas tahun ketiga hobi baca buku. Begitu banyak kosa kata yang masuk terus begitu pas proses album, semua kosakata itu dikeluarkan," ujarnya.

Namun, kondisi itu tidak terjadi dalam proses album kedua Noah. Ariel, David, dan Lukman mempunyai ketertarikan baru selain musik. Peralihan ketertarikan itulah yang menjadi bumbu dalam proses album kedua.

"Terus di tengah jalan ada proses lain. Seperti Lukman yang tadinya senang bikin lagu, jadi senang foto-foto," sambung Ariel.

Ariel juga mengaku ada yang hilang dari dirinya. Untuk sesaat, ia seolah kehilangan sentuhan magisnya dalam musik. "Saya juga termasuk yang punya kehidupan yang lain. Ada yang mencuri interest saya, yang tadinya interestnya benggong begini saja tiba-tiba ada tulisan apa atau apa. Itu hilang pada saat beberapa tahun kemarin," sambungnya.

Ia melakukan banyak hal untuk menggembalikan daya musikalitas. Ariel sempat berpergian ke Yogyakarta dan menginap beberapa hari di kawasan Borobudur untuk menemukan cita rasa musik yang ia anggap masih kurang pas. Meski penyelesaian lagu terjadi di studio, ia menganggap semua proses yang dilakoni sebelumnya punya andil besar.

Satu hal yang memang sangat dipentingkan Noah. Kelompok musik itu berkomitmen untuk tidak mengulang sajian pada karya sebelumnya. Setiap karya haruslah baru.

"Ini juga yang membuat sulit. Enggak jarang kita sempat menulis atau sempat membikin, pas didengar lagi, terlalu dekat dengan yang pernah kita bikin. Hapus lagi," sambungnya.

"Jadi enggak seperti cuma sempat buntu. Tapi sempat keluar, oh sama, hapus. Sama, hapus. Sampai akhirnya lumayan berbeda," tandas Ariel.

Tujuh tahun
Album Keterkaitan Keterikatan sekaligus menjadi tonggak tujuh tahun Noah berkarya di dunia musik Tanah Air. Perjalanan album itu dimulai pada 2017 ketika Ariel, Lukman, Uki, dan David melakukan serangkaian kegiatan yang diberi nama 7 Days in Paradise.

Selama 7 hari, Noah dikarantina di kapal phinisi untuk melakukan kegiatan rekaman, latihan, hingga proses kreatif album kedua. Setelah melalui perjalanan di kapal phinisi, Noah akhirnya melanjutkan karantina di area Puncak, Jawa Barat, dan Jakarta. Seluruh lagu yang telah diracik Noah selama karantina akhirnya satu per satu mulai diperkenalkan dan album pun siap rilis.

Kejutan pun datang. Jelang rilis album Keterkaitan Keterikatan, Uki mengumumkan keputusannya hengkang dari band asal Bandung itu. Namun, Ariel menegaskan jika Uki masih terlibat penuh dalam album Keterkaitan Keterikatan.

"Keterlibatan Uki jauh banget di di album ini. Dia itu kayak orang di belakang layar dan lebih mengurus masalah teknis. Sampai mixing lagu terakhir masih dia kerjakan. Dia memang komitmen kelarin semua. Bisa dibilang dia engineer-nya. Banyak yang dia lakuin untuk album ini," pungkas Ariel. (M-2)

BERITA TERKAIT