14 August 2019, 16:45 WIB

Polisi Masih Cari Perekam Video Dugaan Makar Permadi


Rifaldi Putra Irianto | Megapolitan

ANTARA
 ANTARA
Politikus Partai Gerindra, Permadi

DIREKTUR Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol Iwan Kurniawan mengungkapkan pihaknya hingga saat ini masih melakukan penyelidikan mengenai laporan calon anggota legislatif (Caleg) PDI Perjuangan (PDIP), Stefanus Asat Gusma, yang melaporkan politikus Partai Gerindra, Permadi, terkait dugaan makar. Pihaknya masih mencari pelaku yang melakukan perekaman video, untuk dapat dimintai keterangan mengenai kasus itu.

"Itu juga masih dalam penyelidikan kita. Kita mencoba untuk dapat data dari tempat kegiatan mereka.Masih kita cari terutama yang melakukan perekaman terhadap kegiatan itu, jadi supaya lengkap nanti. Minimal pelaku perekaman itu kita harus tahu karena laporannya saat itu kan terkait undang-undang ITE. Jadi yang mendistribusikan, yang menyebarkan itu kita akan coba kita dapatkan dulu," kata Iwan, di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (14/8).

Baca juga: DPRD DKI Dukung Taksi Daring tak Kena Ganjil-Genap

Disebutkanya, pihaknya sempat kesulitan untuk mengetahui pelaku yang melakukan perekaman pada video tersebut.

"Kemarin kita agak kesulitan dari data nama yang ada, kemudian kita cari, kita selidik, dengan ini keliatannya ada sedikit kesulitan kita untuk menemukan yang bersangkutan," ucapnya.

Dapat diketahui, calon anggota legislatif (Caleg) PDI Perjuangan (PDIP), Stefanus Asat Gusma, melaporkan politikus Partai Gerindra, Permadi, terkait ujarannya yang mengandung seruan untuk melakukan makar.

Baca juga: Ada Ingub, Anies Jamin Bengkel Bakal Sediakan Fasilitas Uji Emisi

Laporan tersebut diserahkan ke Polda Metro Jaya pada Jumat (10/5) disertai bukti berupa video yang sudah tersebar di media sosial.

Stefanus mengaku, melihat video yang tersebar tersebut yang menampilkan Permadi sedang melakukan rapat atau diskusi. Namun, Stefanus tak kenal lawan diskusi Permadi. Menurutnya, dalam video itu ada ajakan dan seruan menyebut etnis tertentu. Kemudian, ada ajakan tidak tunduk pada konstitusional dan melakukan revolusi. (OL-6)

BERITA TERKAIT