14 August 2019, 15:03 WIB

Gerakan Sosial Kumpulkan Plastik Tiap Akhir Pekan


Alexander P Taum | Nusantara

MI/Alexander P Taum
 MI/Alexander P Taum
Para anggota komunitas Trash Hero dengan sampah yang berhasil dikumpulkan tiap akhir pekan. 

LAMBATNYA penanganan sampah di tingkat masyarakat, akhirnya masyarakat sendiri yang mengelola sampah. Setiap akhir pekan Trash Hero, sebuah komunitas peduli sampah yang dibentuk oleh para pemuda di Lembata, Nusa Tenggara Timur berinisiatif memungut, memilah dan membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kelompok ini juga melakukan edukasi kepada anak-anak tentang kebersihan.

Maria Theresia Wilibrodada, Leader Trash Hero chapter Lembata, kepada Media Indonesia, Rabu (14/8) mengatakan, komunitas yang dibentuknya setiap akhir memiliki agenda tetap yakni mengumpulkan dan membuang sampah plastik ke TPA.

"Inisiatif ini kami lakukan karena prihatin dengan sampah plastik yang terus menumpuk di tempat-tempat umum. Setiap harinya kota Lewoleba memproduksi sampah plastik 500 kg per hari. Kami tidak memiliki tendensi politik atau apapun. Semua hanya karena keprihatinan, masalah sampah akan menjadi faktor yang memproduksi penyakit, tanpa disadari," ujar Wilda.

Komunitas yag dibentuknya terdiri dari belasan pemuda  yang bekerja di sektor pemerintah, swasta maupun pemuda yang baru lulus kuliah. Disebutkan aktivitas sosial yang digelutinya setiap akhir pekan ini mendapat berbagai respons dari masyarakat.

"Sampai sekarang kami sudah mengumpulkan sampah plastik sebanyak 2000  kg. Kemudian dari sampah plastik itu kami pilah lagi yang cukup bersih
dan layak didaur ulang. Seperti botol plastik, kemasan plastik, pembungkus permen, pembungkus makanan, kantong plastik, kaleng dan botol kaca. Sisanya yang tidak dapat didaur ulang akan kami buang ke TPA," terangnya.

Pada bagian lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lembata, Quintus Irenius Suciadi mengungkapkan bahwa hingga kini pihaknya masih kesulitan menangani sampah dalam kota.

baca juga: 1.000 ASN dan Jaksa Turun Padamkan Karhutla

"Kami hanya punya 17 petugas kebersihan, 2 orang supir truk pengankut sampah, 7 orang operator bentor sampah, dan 6 sisanya menjadi petugas pungut sampah. Dengan jumlah petugas terbatas kami hanya mampu menjangkau jalan-jalan protokol di dalam kota. Kami butuhkan 50 personel pasukan kuning dan 9 kontainer sampah untuk mengatasi persoalan sampah di dalam kota Lewoleba," ungkapnya.

Menurutnya, pada tahun anggaran 2020, nanti program penambahan personel pasukan kuning itu diakomodir dalam APBD 2020.  (OL-3)

BERITA TERKAIT